Presiden RI Prabowo Subianto menanggapi kritik sejumlah pengamat yang menilai kondisi ekonomi Indonesia sedang menuju resesi. Prabowo menilai sebagian komentar tersebut justru berpotensi menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat merespons paparan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengenai kondisi ekonomi nasional yang dinilai masih kuat dari sisi produksi maupun optimisme masyarakat.
Prabowo mengatakan, pandangan pengamat terhadap kinerja ekonomi pemerintah tak selalu objektif. Menurutnya, ada pihak yang tidak ingin melihat pemerintah berhasil.
"Jadi pengamat-pengamat menurut saya ada yang motivasinya ingin menimbulkan kecemasan rakyat. Saya juga tidak mengerti pemikirannya seperti apa. Karena kita satu negara ini, kan, satu, satu kapal, kalau kapalnya oleng mereka juga oleng jadi ini, ya, kan," jelas Prabowo saat sidang kabinet di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (13/3).
Prabowo menilai sikap itu tidak mencerminkan kepentingan yang lebih besar bagi negara. Prabowo bahkan menyebut ada pihak yang merasa dirugikan dengan upaya pemerintah menertibkan berbagai praktik yang merugikan negara.
"Mungkin karena merasa kalah tidak punya kekuasaan kemudian atau ada pihak yang hilang rezeki, ya, terutama maling-maling, koruptor-koruptor, ya, kan. Ya, merasa rugi dong dengan pemerintah kita," kata dia.
Prabowo juga mengaku memperoleh berbagai laporan intelijen terkait pihak-pihak yang berada di balik narasi negatif mengenai kondisi ekonomi nasional. Meski demikian, Prabowo menyebut saat ini masih mengedepankan pendekatan persuasif dan berbasis data dalam menjelaskan kondisi ekonomi kepada masyarakat.
"Pada saatnyalah kita tertibkan itu semua, tapi sekarang saya masih berusaha dengan cara-cara yang meyakinkan. Saya percaya dengan evidence based dengan bukti rakyat kita akan mengerti," jelas Prabowo.
Prabowo juga menilai kritik dan perbedaan pendapat dalam politik merupakan hal yang wajar. Namun, dia menekankan pentingnya menjaga persatuan setelah proses politik selesai.
"Persaingan politik bersaing politik tiap lima tahun di pilkada, di pileg, di pilpres nggak ada masalah. Tapi harusnya negara ini kalau sudah selesai pertandingan-pertandingan itu harusnya kita bersatu, kompak," ungkap Kepala Negara.
Dalam kesempatan yang sama, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan sejumlah indikator ekonomi yang menurutnya menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam tren positif.
Dia menyebut sektor manufaktur menunjukkan ekspansi yang kuat, tercermin dari indeks Purchasing Managers' Index (PMI) yang berada pada level tinggi.
"Sebetulnya, kalau kita lihat dari sisi suplai, ekonomi kita dalam keadaan yang amat baik. Kalau kita lihat dari Purchasing Manager Index yang merah ini, di bulan Februari itu levelnya 53.8, tertinggi dalam berapa tahun terakhir," papar Purbaya.
Menurut Purbaya, kondisi itu menunjukkan sisi produksi ekonomi nasional sedang mengalami perbaikan yang kuat.
Purbaya juga menilai angka inflasi yang terlihat tinggi pada Februari perlu dilihat secara lebih mendalam karena dipengaruhi faktor teknis terkait subsidi listrik pada tahun sebelumnya.
"Data inflasi di bulan Februari kelihatannya tinggi, 4.64. Kalau headline saja, Pak, ini penting karena kalau policymaker akan mikir bahwa ekonominya kepanasan. Tapi ini datanya, data yang tidak akurat kalau kita pakai itu saja, kalau kita hilangkan data-data subsidi listrik bulan Januari, Februari tahun lalu, sebetulnya inflasi kita hanya sekitar 2.59%," ujar Prabowo.
Dengan kondisi tersebut, Purbaya optimistis ruang bagi pertumbuhan ekonomi masih terbuka.
"Jadi kita masih aman untuk tumbuh lebih cepat lagi, ekonominya tidak kepanasan," lanjut Purbaya.
Lebih lanjut, Purbaya juga menyinggung adanya narasi di ruang publik yang menyebut Indonesia sudah berada dalam kondisi resesi.
Padahal, menurut dia, sejumlah indikator menunjukkan arah sebaliknya, termasuk indeks optimisme masyarakat dan pertumbuhan penjualan kendaraan.
"Kita lihat juga industri otomotif, penjualan mobil tumbuh 12,2% di bulan Februari. Ini bukan main-main, kalau kita lihat tahun lalu, kan, negatif," ungkapnya.
Kata Purbaya, kondisi ini menunjukkan perekonomian Indonesia masih jauh dari gambaran krisis yang sering disampaikan oleh sebagian pengamat.
"Jadi kita jauh dari apa yang disebut ekonominya morat marit. Mari kita lihat ekonom-ekonom di luar itu. Di TikTok banyak yang ngomong gitu," tutur Purbaya.





