Kabar wafatnya pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Kamis (19/3).
Selain itu, dorongan Presiden AS Donald Trump agar Israel dan Iran menghentikan serangan ke fasilitas energi. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:
Pemilik Grup Djarum, Michael Bambang Hartono, Meninggal DuniaMichael Bambang Hartono, salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia dan pemilik Grup Djarum, telah berpulang. Kiprahnya dalam membangun Djarum bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, menjadikan mereka langganan dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi berbagai lembaga internasional.
Ini menunjukkan konsistensi dalam bisnis berbasis keluarga dengan pendekatan jangka panjang yang berdampak signifikan pada lanskap ekonomi nasional.
Selain sukses dalam sektor bisnis, Michael Bambang Hartono juga dikenal aktif dalam kegiatan filantropi melalui Djarum Foundation. Yayasan ini berfokus pada bidang pendidikan, olahraga, lingkungan, dan budaya, dengan kontribusi nyata dalam pembinaan bulu tangkis di PB Djarum yang telah melahirkan banyak atlet berprestasi. Jejaknya sebagai atlet bridge nasional, meraih medali perunggu di Kejuaraan Dunia dan Asian Games, melengkapi profilnya sebagai sosok yang multi-dimensi.
Trump Dorong Israel-Iran Hentikan Serangan ke Fasilitas EnergiPresiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Iran dan Israel untuk segera menghentikan serangan terhadap fasilitas energi di Timur Tengah, menyusul gangguan signifikan terhadap pasar gas global. Ketegangan yang meningkat telah merusak infrastruktur vital, termasuk lapangan gas South Pars yang merupakan bagian inti dari infrastruktur energi Iran, serta pabrik LNG terbesar di dunia, Ras Laffan di Qatar. AS menegaskan tidak terlibat langsung dalam serangan ini, namun memberikan peringatan keras terhadap eskalasi lebih lanjut.
Dampak dari serangan ini telah terlihat jelas pada fluktuasi harga komoditas global. Harga minyak telah melonjak sekitar 50 persen sejak dimulainya konflik, sementara harga bensin di AS mencapai sekitar USD 3,84 per galon pada Rabu (18/3), level tertinggi dalam lebih dari dua tahun.
Kondisi ini diperparah oleh pemangkasan produksi minyak dan gas di seluruh Timur Tengah serta gangguan pada jalur pelayaran penting di Selat Hormuz, yang secara kolektif mempersulit upaya stabilisasi pasar dan menahan dampaknya terhadap konsumen global.




