Penulis: Fityan
TVRINews – Yerusalem
Pembatasan akses di situs suci memicu ketegangan di tengah eskalasi regional dan krisis kemanusiaan yang mendalam.
Untuk pertama kalinya sejak tahun 1967, kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem resmi ditutup bagi jemaah muslim pada pengujung Ramadan tahun ini.
Aturan Ketat otoritas Israel ini memicu gelombang kesedihan mendalam di kalangan warga Palestina, yang terpaksa melaksanakan salat Idul Fitri di jalanan dan trotoar di luar tembok Kota Tua Jumat 20 Maret 2026.
Penutupan situs suci yang dikenal umat Islam sebagai Al-Haram al-Sharif ini disebut oleh pihak berwenang sebagai langkah pengamanan terkait ketegangan militer antara Israel-AS dengan Iran.
(Warga Palestina berkumpul di luar tembok Kota Tua untuk melaksanakan salat sebagai bentuk protes atas penutupan Masjid Al-Aqsa.( Foto: Anadolu ))
Namun, bagi penduduk lokal, kebijakan ini dipandang sebagai upaya sistematis untuk memperketat kontrol atas salah satu situs paling sensitif di dunia tersebut.
“Besok (hari ini) akan menjadi hari paling menyedihkan bagi umat muslim di Yerusalem,” ujar Hazen Bulbul (48), seorang warga lokal yang telah beribadah di Al-Aqsa sejak masa kecilnya, sebagaimana dikutip dari laporan The Guardian.
"Yang saya takutkan adalah ini menjadi preseden berbahaya. Ini mungkin yang pertama, tapi kemungkinan besar bukan yang terakhir."
Tekanan Ekonomi dan Keamanan
Suasana Kota Tua yang biasanya semarak menjelang hari raya kini tampak lengang. Barikade kepolisian menutup akses masuk, sementara toko-toko milik warga Palestina dipaksa tutup, kecuali apotek dan toko pangan esensial. Kondisi ini memperparah krisis ekonomi yang telah mencekik para pedagang lokal.
(Pasukan keamanan Israel telah menghalangi jemaah untuk memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa. (Foto: Anadolu))
Syekh Ekrima Sabri, ulama Al-Aqsa dan mantan Mufti Agung Yerusalem, telah mengeluarkan fatwa yang mendesak umat Islam untuk tetap melaksanakan salat Id di titik terdekat yang bisa mereka jangkau dari masjid.
Khalil Assali, Direktur Unit Media di kantor Presiden Universitas Al-Quds, menggambarkan penutupan ini sebagai sebuah bencana bagi identitas Palestina.
“Saat pihak keamanan melihat pemuda Palestina mencoba salat di titik terdekat dengan Al-Aqsa, mereka mengejar dan mengusir mereka bahkan saat sedang bersujud,” ungkap Assali.
Kontras Duka di Jalur Gaza
Sementara itu, di Jalur Gaza, suasana Idul Fitri dilalui di bawah bayang-bayang reruntuhan. Meski gencatan senjata memberikan sedikit ruang napas, trauma akibat serangan udara yang terus terjadi membuat perayaan terasa hambar.
Sadeeqa Omar (32), seorang ibu yang mengungsi dari Gaza Utara ke Deir al-Balah, mengungkapkan betapa beratnya menjaga semangat hari raya di tengah kehilangan.
"Kegembiraan Idul Fitri kali ini tidak utuh. Kami semua membawa beban masing-masing; ada yang kehilangan rumah, ada yang kehilangan anggota keluarga," tuturnya.
Meski bantuan kemanusiaan mulai memasuki gerbang Rafah secara terbatas, bagi warga seperti Kholoud Baba (42) di Kota Gaza, rasa aman masih menjadi kemewahan yang sulit dicapai. "Minggu lalu saja, area dekat rumah kami dievakuasi tepat sebelum waktu buka puasa karena ancaman serangan udara. Kami terpaksa pergi tanpa membawa apa-apa," jelasnya.
Kecaman Internasional
Penutupan Al-Aqsa telah memicu reaksi keras dari Liga Arab, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Uni Afrika.
Dalam pernyataan bersama, lembaga-lembaga internasional tersebut menegaskan bahwa tindakan Israel merupakan pelanggaran berat terhadap status quo hukum dan sejarah situs suci di Yerusalem.
Dunia internasional kini memperingatkan bahwa pembatasan kebebasan beribadah ini berisiko memperluas eskalasi kekerasan dan mengancam perdamaian serta keamanan regional yang sudah rapuh.
Editor: Redaksi TVRINews





