Presiden Amerika Serikat Donald Trump membandingkan serangan militer AS dan Israel ke Iran dengan serangan Jepang di Pearl Harbor pada tahun 1941.
Pernyataan itu disampaikannya saat bertemu Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Gedung Putih, Kamis (19/3).
“Kami menginginkan kejutan. Siapa yang lebih paham soal kejutan selain Jepang? Kenapa kalian tidak memberi tahu saya tentang Pearl Harbor?” kata Trump saat menjawab pertanyaan wartawan terkait alasan tidak memberi tahu sekutu soal rencana serangan ke Iran, dikutip dari Reuters, Jumat (20/3).
“Anda percaya pada kejutan, saya rasa bahkan lebih dari kami,” lanjutnya.
Hal itu disampaikan Trump tepat di sebelah Takaichi. Takaichi tampak terkejut saat Trump menyinggung peristiwa tersebut.
Sebagai informasi, serangan Jepang ke pangkalan militer AS di Pearl Harbor, Hawaii, pada 7 Desember 1941 menewaskan 2.390 warga Amerika.
Peristiwa itu mendorong AS masuk ke Perang Dunia II, dengan Presiden saat itu, Franklin D. Roosevelt, menyebutnya sebagai “tanggal yang akan selalu dikenang sebagai aib”.
Ucapan Trump memicu beragam reaksi di Jepang. Sejumlah warga menilai situasi tersebut cukup sensitif, mengingat latar belakang sejarah yang disinggung.
Seorang insinyur di Tokyo, Yuta Nakamura (33), menilai Takaichi berada dalam posisi sulit saat pernyataan itu disampaikan. Ia menyebut Takaichi berusaha menjaga situasi tetap kondusif tanpa memicu ketegangan.
"Takaichi telah ditempatkan dalam situasi yang sangat sulit, ia telah berbuat baik dengan menghindari membuat Trump marah," katanya.
Sementara itu, seorang pensiunan bernama Tokio Washino mengaku merasa tidak nyaman dengan perbandingan tersebut. Menurutnya, mengangkat kembali peristiwa Pearl Harbor dalam konteks saat ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat Jepang.
"Mengingat konteks sejarah Jepang yang pernah melakukan hal itu, dan dengan Trump yang mengangkatnya sebagai contoh. Hal itu membuat saya merasa sedikit tidak nyaman sebagai warga negara Jepang," tutur dia.





