Jual Takjil di Ujung Ramadan, Rezeki Pedagang di Bendungan Hilir Makin Manis

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Di penghujung Ramadan, tepatnya H-1 jelang Idul Fitri pada Jumat, (20/3) suasana berburu takjil di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, justru mencapai puncaknya.

Menjelang waktu berbuka puasa, deretan lapak pedagang dipadati pembeli yang datang silih berganti. Suara penjual menawarkan dagangan, hingga antrean yang kian memanjang, membuat suasana kian riuh di sore hari terakhir bulan suci Ramadan.

Alih-alih sepi karena masyarakat mulai fokus pada persiapan Lebaran, momen ini justru dimanfaatkan warga untuk berburu hidangan berbuka terakhir di bulan puasa tahun ini. Tak heran, para pedagang mengaku mengalami lonjakan pembeli jauh lebih tinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Jojo (24) salah satu pedagang takjil, mengatakan bahwa ini sudah menjadi pola yang ia rasakan setiap Ramadan, khususnya di hari terakhir.

“Ya karena hari terakhir tuh biasanya rame banget. Lebih ramai sih, karena hari terakhir biasanya banyak yang buat penutupan gitu,” ujar Jojo saat ditemui di lapak takjil dagangannya.

Ia menjelaskan, meningkatnya pembeli membuatnya harus menyesuaikan jumlah stok dagangan. Jika biasanya ia membawa dalam jumlah standar, di hari terakhir ini is sengaja menambah porsi agar tidak kehabisan di tengah ramainya pembeli.

“Iya, seperti biasa, kan biasa 6 kilo misalnya, nah ini bawa lebihan gitu, 8 kiloan,” jelasnya.

Sore itu hampir seluruh dagangan yang dibawanya ludes terjual sebelum waktu berbuka. Bahkan, menurutnya, peningkatan jumlah pembeli juga berdampak langsung pada keuntungan yang diperoleh.

“Omzetnya sih biasanya kalau misalnya untungnya 1 juta, ini untungnya bisa 2 juta ke atas,” ungkapnya.

Meski dihadapkan dengan lonjakan pembeli, Jojo mengaku tantangan terbesar bukan pada persiapan, melainkan pada kesabaran saat melayani pelanggan.

“Tantangannya sih kayak lebih ramai aja gitu. Kayak biasanya kan santai, nih lebih banyak melayani customer,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan, Hani (40) yang sudah menekuni berdagang takjil sejak 2009. Ia juga merasakan peningkatan yang sama.

Hani menjajakan beragam menu berbuka, mulai dari gorengan, kolak, bubur sumsum, hingga makanan manis lainnya. Di lapaknya, suasana tampak lebih sibuk dari biasanya, bahkan jual beli berlangsung tanpa jeda.

“Masih. Malah full. Malah lebih banyak dari sebelumnya. Puasa dua minggu itu malah agak menurun,” kata Hani.

Menurutnya, tren penjualan di Ramadan memang tidak selalu stabil. Namun, menjelang hari terakhir, minat masyarakat justru semakin meningkat, sehingga ia juga memilih untuk tidak mengurangi stok dagangan.

“Sama, tetep nggak dikurangin. Lebih banyak kali. Iya kalau malam ini terakhir-terakhir gini malah lebih banyak,” ujarnya.

Di sela-sela kesibukannya melayani pembeli yang terus berdatangan, Hani juga mengungkapkan alasan tetap bertahan berjualan hingga H-1 Lebaran. Baginya, momentum ini terlalu sayang untuk dilewatkan.

“Ya alasannya ya lebih ramai aja,” tuturnya.

Pantauan kumparan di lokasi hingga pukul 18.00 WIb hiruk pikuk tradisi berburu takjil di kawasan tersebut masih terus berlangsung.

Menyambut Hari Raya Idul Fitri, para pedagang takjil justru menikmati momen “panen” mereka. Penghujung Ramadan pun bukan sekadar penutup ibadah puasa, tetapi juga menjadi waktu yang menghadirkan rezeki lebih bagi para pelaku usaha kecil Dan menjadi penutup yang manis di akhir Ramadan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Membaca Ulang Strategi Industri Indonesia
• 15 jam lalukatadata.co.id
thumb
Tiba di Lanud Suwondo, Prabowo Akan Takbiran di Sumut
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Diam-diam Berdampak Besar, Kekerasan pada Perempuan Picu Masalah Kesehatan Serius
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Perempat Final Liga Konferensi, Ada Big Match Crystal Palace vs Fiorentina
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Misi Gaza Ditunda, Presiden Prabowo Tegaskan Posisi Indonesia
• 5 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.