SURABAYA, KOMPAS - Hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah diharapkan menggemakan semangat perdamaian dan persatuan. Dunia memerlukannya untuk keberlangsungan peradaban umat manusia.
Perdamaian, misalnya, diperlukan karena dunia terdampak perang. Serangan AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 mengakibatkan ketidakpastian ekonomi dan stabilitas global. Sebelumnya, sejak 24 Februari 2022, dunia juga terdampak perang Ukraina-Rusia.
”Semoga dapat menyemai perdamaian karena dalam situasi geopolitik seperti sekarang, kita berharap semua pihak menahan diri dan menghentikan perang. Dalam perang tidak ada yang menang, yang ada kehancuran,” kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa seusai shalat Idul Fitri di Masjid Al-Akbar Surabaya, Sabtu (21/3/2026).
Konflik di Timur Tengah memengaruhi situasi sampai di Indonesia. Warga terbelah menyikapi perang sehingga berpotensi meruncing menjadi perbedaan tajam hingga masalah horizontal.
Dari sisi kehidupan, pasokan bahan bakar minyak berpotensi terganggu. Harga bahan pangan yang harus impor berpotensi melonjak. Dalam situasi Ramadan dan Idul Fitri, kenaikan harga jelas memberatkan masyarakat.
”Kami terus berkoordinasi untuk mitigasi potensi masalah sebagai dampak perang itu. Kami mengharapkan, para pemimpin dunia yang bertikai mau memutuskan mengakhiri peperangan,” kata Khofifah, Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).
Shalat di Al-Akbar dihadiri lebih kurang 50.000 jemaah. Khofifah shalat bersama keluarga besarnya.
Selain itu, ada Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Besar NU. Juga hadir dalam kesempatan itu,Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak.
Shalat dipimpin Imam Besar Al-Akbar KH Abdul Hamid Abdullah. Selaku Khotib ialah Guru Besar Ilmu Dakwah dan Ketua Senat Akademik Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Moh Ali Aziz.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi melaksanakan shalat bersama lebih dari 15.000 jemaah di Balai Kota Surabaya. Di sini, ia menyampaikan pentingnya persatuan umat mengingat kalangan warga ada yang merayakan Idul Fitri pada Kamis atau Jumat.
”Persatuan dalam perbedaan itu penting, jangan sampai menjadi masalah,” kata Eri. Bahkan, Kamis (19/3/2026) merupakan perayaan Nyepi Saka 1948. Sikap toleransi turut diperlihatkan kepada umat Hindu misalnya kalangan warga menahan diri dengan tidak takbir keliling dan tidak memakai pelantang suara.
Selain itu, ada kalangan umat yang shalat Idul Fitri pada Kamis. Muhammadiyah melaksanakan shalat Idul Fitri pada Jumat. Sabtu ini, giliran warga yang shalat sesuai penentuan oleh pemerintah.
”Meskipun ada perbedaan tetapi kita semua dapat berjalan bersama. Nilai-nilai toleransi dan akidah terjaga dan semoga terus terpelihara,” ujar Eri.
Adapun seusai shalat, Khofifah dan Eri sama-sama mengadakan gelar griya. Khofifah mengadakannya di Gedung Negara Grahadi yang notabene Rumah Dinas Gubernur Jatim. Eri mengadakannya di Rumah Dinas Wali Kota Surabaya. Kedua lokasi hanya berjarak sekitar 1 kilometer.
Di Grahadi, gelar griya dihadiri beribu-ribu warga. Yang terutama pejabat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Warga yang datang ke gelar griya rata-rata senang karena mendapat uang berkah dan bingkisan dari Khofifah.
Adapun situasi serupa dirasakan warga yang hadir di gelar griya Wali Kota Surabaya. Menurut Eri, gelar griya merupakan tradisi untuk tetap mendekatkan diri dengan masyarakat.
Pantauan Kompas, sampai dengan lewat tengah hari, kawasan bisnis dan kedai di Surabaya banyak yang tak beroperasi. Warga yang tak mudik bersantap di rumah atau jajan di kedai-kedai yang buka atau di pusat belanja.
Lalu lintas di Surabaya relatif lengang dan lancar. Kepadatan sempat terjadi terutama menuju luar kota misalnya Bundaran Waru yang terhubung dengan Jalan Tol-Trans Jawa arah barat daya dan timur Jatim.
Menurut Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya Komisaris Besar Luthfie Sulistiawan, belum ada gangguan keamanan dan ketertiban yang signifikan sejak Nyepi sampai Idul Fitri atau tiga hari terakhir.
”Kondusif dan terkendali,” katanya.
Namun, ada aktivitas masyarakat yang disayangkan pada Jumat malam. Aktivitas itu ialah bermain petasan. Bekas-bekas orang menyalakan petasan masih tampak pada Sabtu pagi misalnya di Jalan Raya Darmo, Jalan Diponegoro, Jalan Basuki Rahmat. Aktivitas ini disayangkan karena warga merayakan Idul Fitri dengan bermain secara berisiko.





