Kadin Soroti Produk China di E-Commerce, UMKM Butuh Akses Pasar Lebih Luas

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Ketua Kadin Indonesia Anindya Bakrie menyoroti maraknya produk impor, khususnya dari China, yang membanjiri platform e-commerce/marketplace di Indonesia. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan serius bagi pelaku UMKM dalam bersaing di pasar domestik, terutama di tengah dorongan pemerintah untuk memperkuat posisi produk lokal. Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan tengah menyiapkan kebijakan untuk menekan dominasi barang impor di marketplace. Pemerintah menilai derasnya arus produk luar negeri berpotensi melemahkan daya saing pelaku usaha lokal dan menggerus pasar dalam negeri. Anindya menegaskan, UMKM selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional terutama saat krisis. Namun dalam situasi saat ini, pelaku usaha kecil membutuhkan dukungan yang lebih konkret, tidak hanya dari sisi pembiayaan tetapi juga akses pasar. "Saya rasa, kan, intinya gitu. UMKM ini tulang punggung Indonesia setiap ada krisis. Tapi kali ini memang mereka butuh sekali dukungan terutama dari sisi likuiditas,” kata Anin kepada wartawan di Widya Chandra, Sabtu (21/3). Ia menambahkan, e-commerce sejatinya membuka peluang besar bagi UMKM untuk menjangkau pasar lebih luas. Namun, derasnya produk impor menuntut adanya persaingan yang adil agar pelaku lokal tidak tersingkir di pasar sendiri. "Tapi selain likuiditas juga akses pasar. Jadi tadi seperti e-commerce itu, kan, akses pasarnya luas dan memang salah satu saingan kita adalah bagaimana impor dari luar atau barang dari luar itu masuknya juga dengan level playing field,” ungkapnya.

Menurut Anin, penting bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk memastikan adanya kesetaraan dalam persaingan, termasuk dalam hal regulasi dan perlindungan pasar domestik. Ia juga melihat peluang besar bagi UMKM untuk naik kelas melalui ekspor, seiring terbukanya akses pasar ke berbagai negara. "Jadi saya rasa yang UMKM itu musti diperjuangkan. Terutama karena kita juga punya kesempatan. Bukan saja dengan Amerika, tapi Uni Eropa sampai ke Kanada,” tutur Anin. Lebih lanjut, ia menilai sektor-sektor seperti garmen, tekstil, alas kaki, furnitur dan elektronik tidak hanya didominasi perusahaan besar, tetapi juga bisa menjadi peluang bagi UMKM untuk terlibat dalam rantai ekspor global. Dalam konteks ini, Anindya menekankan pentingnya membangun ekosistem ekspor yang kuat agar pelaku usaha lokal mampu bersaing, baik di dalam negeri maupun di pasar internasional. Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Keuangan tengah mengkaji berbagai langkah untuk memperkuat produk lokal di marketplace, termasuk mendorong peningkatan kapasitas produksi dalam negeri dan menciptakan persaingan yang lebih sehat antara produk lokal dan impor. Upaya ini diharapkan tidak hanya menahan laju dominasi produk China di platform digital, tetapi juga mengembalikan daya saing UMKM sebagai pemain utama di pasar domestik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pakar Nilai Arus Mudik Lebaran 2026 Berjalan Baik
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Akses Sadang Dibuka, Tol Japek II Selatan Difungsikan Urai Kepadatan Arus Balik
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Korupsi dan Tantangan Penegakan Hukum di Indonesia: Regulasi Berbenturan Realita
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
BPBDDKI Jakarta: 46 RT di Jakarta Masih Terendam Banjir
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Foto: Lebaran di Jambi, Warga Lestarikan Tradisi Makan Bersama dan Injak Bumi
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.