DDi sejumlah kawasan pesisir Indonesia, dasar laut bukanlah taman terumbu karang yang megah, melainkan bentangan pasir atau lumpur yang relatif datar, kosong, dan terbuka. Di lingkungan ”marjinal” yang biasanya keruh dan mengalami tekanan pembangunan, kehidupan ikan sering kali terancam. Tanpa struktur habitat alami, seperti karang atau batuan, ikan kehilangan tempat berlindung, ruang mencari makan, dan lokasi berkembang biak.
Merespons tantangan ekologis ini, sebuah terobosan inovasi muncul dari pemikiran peneliti Universitas Diponegoro (Undip). Dengan berkolaborasi bersama PT Bhumi Jati Power (BJP), peneliti memperkenalkan Bhumi, singkatan dari Bangunan Hunian Buatan untuk Rumah Ikan.
Seperti kepanjangannya, Bhumi dirancang untuk menghadirkan tempat tinggal bagi ikan dan penghuni dasar laut lainnya di kawasan yang selama ini dianggap kurang produktif. Ide di balik Bhumi adalah menciptakan struktur fisik yang mampu memulihkan kompleksitas habitat laut secara buatan.
Namun, tantangan utamanya bukan sekadar membangun struktur, melainkan juga logistik pemasangan. Selama ini, instalasi beton bawah laut sering kali terkendala bobot material yang memerlukan alat berat yang tentu saja berbiaya tinggi.
Konstruksi Bhumi menawarkan solusi dengan sistem modular yang efektif. Struktur ini terdiri dari modul-modul kubus beton. Modul seberat 50-60 kilogram tersebut dirancang agar dapat dibawa oleh seorang penyelam, termasuk warga nelayan yang sudah dilatih.
Ketika modul-modul tersebut disusun di dasar laut, susunan ini saling mengunci (interlocking), membentuk bangunan yang lebih besar dan stabil. Satu unit rumah ikan yang terdiri dari 30 modul dapat mencapai berat hampir dua ton, menjadikannya struktur yang stabil dan tidak mudah bergeser oleh arus laut.
Menariknya, beton tersebut terbuat dari semen dicampur fly ash bottom ash (FABA) atau limbah pembakaran batubara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, FABA dari PLTU masuk kategori limbah non-bahan berbahaya dan beracun (B3).
Peneliti di Jurusan Ilmu Kelautan Undip, Munasik, menjelaskan bahwa pengembangan bahan dan desain bangunan beton ini melibatkan koleganya di Fakultas Teknik Undip. Desain tersebut terus dimodifikasi berdasarkan penilaian atau evaluasi di lapangan.
Ia mengatakan, teknologi rumah atau apartemen ikan ini berbeda dengan teknologi terumbu buatan yang bertujuan menumbuhkan karang. Pendekatan terumbu buatan (artifisial reefs) acap kali kurang relevan diterapkan pada wilayah pesisir yang telah terdegradasi. Hal ini disebabkan kondisi substrat dan kualitas lingkungan di tempat tersebut tidak lagi optimal untuk pertumbuhan karang keras.
”Bhumi dirancang khusus untuk meningkatkan kelimpahan dan keanekaragaman ikan di perairan yang tidak memiliki terumbu karang atau pada ekosistem terumbu karang yang mengalami kerusakan,” ujar Munasik yang juga Guru Besar Ilmu Lingkungan Kelautan (Ekologi Terumbu Karang), Selasa (10/3/2026).
Uji coba penenggelaman struktur Bhumi di kedalaman 5-7 meter di perairan Karang Bokor dan Teluk Awur di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sejak pertengahan tahun 2025 sampai saat ini memberikan hasil yang menggembirakan. Dalam waktu relatif singkat, perairan tersebut dihuni sejumlah ikan target dan beragam biota laut lain.
Hal ini dilaporkan Munasik dan timnya pada Jurnal Kelautan Tropis edisi Maret 2026. Dalam laporan tersebut, penyelam peneliti mendapati struktur Bhumi telah mulai berfungsi sebagai titik kumpul beragam aneka ikan target.
Pendekatan ini memungkinkan masyarakat untuk memiliki, memelihara, dan mengembangkan rumah ikan mereka sendiri.
Di Teluk Awur, jumlah individu ikan yang teramati pada saat musim timur di bulan Agustus 144 ekor dan pada saat musim peralihan di bulan Oktober 238 ekor. Pada bulan pengamatan yang sama di Karang Bokor tercatat ada 235 individu (Agustus) dan 214 individu (Oktober).
Munasik menyatakan ikan-ikan tersebut menghuni rongga-rongga struktur Bhumi. Sejumlah ikan target yang dilihat penyelam peneliti di antaranya ikan beseng atau damselfish (Neopomacentrus cyanomos), kakap tompel/katamba (Lutjanus russellii), baronang (Siganus javus), yellowfin seabream (Acanthopagrus latus), dan kardinal (Archamia bleekeri).
Selain ikan, peneliti juga menjumpai kolonisasi organisme laut lain, seperti bulu babi, teripang, kepiting, dan nudibranch (kelinci laut) di sekitar struktur. Keberadaan beragam biota ini menjadi penanda awal bahwa keberadaan Bhumi telah memicu fenomena suksesi ekologi serta menyediakan mikrohabitat yang memungkinkan pembentukan rantai makanan baru.
Munasik menyatakan struktur BHUMI dapat dipasang oleh masyarakat secara umum, terutama oleh nelayan. Dengan menambahkan pelatihan instalasi dan keselamatan penyelaman, ia meyakini nelayan dapat dengan cepat mengaplikasikan bangunan buatan tersebut.
”Pendekatan ini memungkinkan masyarakat untuk memiliki, memelihara, dan mengembangkan rumah ikan mereka sendiri. Bhumi bisa menggantikan rumpon tradisional yang sering kali hilang/hanyut ataupun berisiko menjadi sampah laut,” ucapnya.
Ia mengatakan, saat ini inovasi Bhumi telah berada pada tingkat kesiapan teknologi (TKT) 7 hingga 8, yang berarti teknologi ini sudah mendekati tahap hilirisasi dan komersialisasi penuh. Pengembangan ke depan diharapkan tidak berhenti di Jepara.
Seperti diungkapkan kolaborator inovasi Bhumi, PT BJP, keberhasilan instalasi rumah ikan mendorong perusahaan untuk mereplikasinya di lokasi lain. ”Berdasarkan hasil yang menggembirakan ini, kami akan mereplikasi program tersebut di lokasi lain untuk memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat setempat,” ujar Manajer CSR PT Bhumi Jati Power Ari Wibawa, di situs internet perusahaan.
Ia pun menyatakan, perusahaan memiliki komitmen yang kuat untuk melestarikan ekosistem laut demi kesejahteraan masyarakat melalui kemitraan strategis.





