Adu Doktrin Teknologi AS-Israel vs Asimetris Iran

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Konflik terbuka yang melibatkan poros Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah membawa dunia ke titik nadir keamanan global. Di atas kertas, pertempuran ini tampak seperti persaingan ketat antara peringkat ke-15 dan ke-16 militer terkuat dunia versi Global Firepower 2026. Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat benturan dua doktrin perang yang sangat kontras: supremasi teknologi udara melawan ketahanan asimetris yang melelahkan.

Salah satu kejutan terbesar dalam palagan ini adalah bagaimana Iran berhasil membalikkan logika biaya perang. Melalui drone Shahed 136, Iran mampu menerobos sistem pertahanan udara tercanggih milik Israel dan Amerika Serikat. Meski teknologinya sederhana, drone ini diproduksi secara masif dengan biaya hanya sekitar USD20 ribu hingga USD40 ribu.

Ironisnya, untuk menjatuhkan satu unit drone "murah" tersebut, Amerika Serikat harus merogoh kocek hingga USD4 juta untuk satu rudal pencegat Patriot. Strategi ini bukan sekadar serangan fisik, melainkan upaya sistematis untuk menguras kantong logistik lawan dalam pertempuran jangka panjang.

Jika di udara AS memegang kendali, di darat Iran adalah raksasa yang sulit ditaklukkan. Dengan 610.000 personel aktif, jauh melampaui Israel yang hanya memiliki 169.500 orang, Iran siap dengan skenario perang darat yang panjang. Keunggulan ini ditambah dengan kondisi geografis Iran yang berupa pegunungan gersang dan dataran tinggi luas, sebuah medan yang diprediksi akan menjadi "kuburan" bagi invasi infanteri asing.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengingatkan bahwa bangsa Iran memiliki memori kolektif perang delapan tahun di masa lalu yang membuat mereka tangguh secara mental. Hal ini menjadi tantangan besar bagi Amerika Serikat yang secara geografis terletak sangat jauh dari pusat konflik.

Miskalkulasi Doktrin Udara

Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim menyoroti adanya potensi miskalkulasi dari pihak Washington. Doktrin AS yang meyakini bahwa serangan udara masif cukup untuk memenangkan perang seperti sejarah Hiroshima dan Nagasaki, dinilai tidak lagi relevan dalam menghadapi Iran saat ini. Teknologi yang berkembang memungkinkan Iran melakukan serangan balik ke titik-titik strategis yang mengganggu perencanaan perang Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.

Kini, dengan diplomasi yang semakin buntu, harapan dunia bertumpu pada kesadaran para pemimpin global untuk menempatkan kemanusiaan di atas ambisi geopolitik. Jika tidak, perang asimetris ini berisiko menjadi konflik terbuka berkepanjangan yang akan mengubah peta stabilitas dunia selamanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tel Aviv Diserang! 15 Warga Terluka, Tim Penyelamat Bergerak Cepat
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Efek Konflik Timur Tengah, Pemulihan Sektor Riil Bakal Lebih Lambat?
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
Tepe Naik Panggung, For Revenge Ciptakan Malam Tak Terlupakan di Banten Creative Fest
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Gus Yaqut jadi Tahanan Rumah, Ini Janji KPK soal Penyidikan Kasus Kuota Haji
• 15 jam laluliputan6.com
thumb
Ciri Orang yang Memiliki Kecerdasan Berbicara Menurut Ilmu Psikologi
• 13 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.