REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Agresi Zionis Israel bersama Amerika Serikat (AS) terhadap Republik Islam Iran hingga Senin (23/3/2026) memasuki pekan ke-4, atau hari ke-23 sejak serangan pertama Sabtu (28/2/2026). Angkatan Bersenjata Iran dikabarkan mulai mengubah strategi perangnya dari bertahan ke strategi menyerang.
Komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya Central Headquarter Mayor Jenderal (Mayjen) Ali Abdollahi mengatakan, perubahan strategi bertahan ke bentuk penyerangan melihat peperangan yang saat ini memasuki fase intensitas tinggi.
Baca Juga
Eks Petinggi AS: Kirim Tentara ke Pulau Khargh Cuma Jadi Bencana Buat Amerika, Sasaran Empuk Iran
Kesalahan Fatal KPK Berikan Keistimewaan Tahanan Rumah ke Yaqut Kata Pengamat
Arus Balik di Tol Cipali Mulai Meningkat, Ini Perkiraan Puncaknya Versi Kemenhub
“Angkatan Bersenjata Iran telah melakukan peralihan strategi dari pertahanan ke serangan,” kata Mayjen Abdollahi seperti dikutip dari laman Almayadeen, Senin (23/3/2026).
Mayjen Abdollahi mengatakan, strategi menyerang juga dilakukan untuk memberikan perhitungan serius terhadap Zionis-AS. “Iran mengubah untuk memberikan perhitungan yang serius terhadap musuh, dengan menggunakan senjata-senjata yang baru dikembangkan,” ujar dia.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Strategi menyerang, kata Mayjen Abdollahi juga sudah disesuaikan dengan kebutuhan militer di titik-titik pertahanan Iran.
Angkatan Bersenjata Iran, kata Mayjen Abdollahi dalam strategi menyerang masih mengandalkan persenjataan produksi dalam negeri. Dia memastikan intensitas penyerangan terhadap target-target musuh akan terus dilakukan.
“Musuh-musuh kita telah menguji beberapa kemampuan kita selama ini. Dan kita akan terus maju untuk lebih mengejutkan mereka lagi,” ujar Mayjen Abdollahi.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)