Pantau - Munculnya berbagai isu global seperti konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu maraknya framing dan narasi negatif di ruang publik, terutama di media sosial.
Situasi tersebut melahirkan beragam spekulasi mulai dari ancaman Perang Dunia ke-3 hingga isu kenaikan harga bahan bakar akibat terganggunya distribusi energi global.
Fenomena ini semakin meluas seiring banyaknya konten kreator yang memproduksi analisis bernuansa pesimisme dan sensasional di berbagai platform digital.
Framing Media Sosial dan DampaknyaBerbagai konten di media sosial tidak hanya berisi analisis, tetapi juga meme dan narasi hiburan yang kerap mencampurkan fakta dengan opini.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap situasi nasional maupun global.
Salah satu tokoh yang dekat dengan Presiden Prabowo Subianto, Sufmi Dasco Ahmad, menyoroti munculnya berbagai narasi negatif terhadap program pemerintah.
Ia menyampaikan bahwa dinamika tersebut berawal dari perdebatan di media sosial pasca-Pemilu 2024.
Pentingnya Tanggung Jawab dalam Ruang PublikDalam situasi global yang tidak menentu, tanggung jawab dalam menyampaikan informasi menjadi hal yang krusial bagi seluruh elemen masyarakat.
Penyebaran informasi yang tidak terverifikasi berpotensi memperkeruh keadaan dan menimbulkan keresahan publik.
Oleh karena itu, diperlukan sikap bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi agar tidak terjebak dalam framing yang menyesatkan.




