Bayangkan Anda berada di sebuah gedung yang tinggi. Tiba-tiba terdengar alarm peringatan. Tanda-tanda adanya asap kebakaran. Apa yang Anda lakukan? Anda langsung mencari tangga darurat atau ya berjalan santai saja seolah tidak ada apa-apa? Kebanyakan orang akan segera bereaksi karena alarm itu ada untuk menyelamatkan nyawa.
Itulah perumpamaan bahwa alarm itu adalah sebuah gelombang listrik yang ada di batin kita. Ketika Ramadan, ada empat tahapan. Yang pertama adalah membersihkan, Tazkiyatun Nafs. Kemudian setelah itu kita mulai mengenali, di situ ada Iqro'. Apa sih yang di hati kita gitu? Afala yatafakkarun? Afala ta'qilun? Kemudian baru ditumbuh kembangkan. Apa ditumbuh kembangkan? Nilai-nilai kebaikan yang sudah dibersihkan.
Yang keempat ini yang penting yaitu diamalkan. Contoh, setelah ini buram kemudian dibersihkan, kita kenal itu sifat-sifat kebaikan dalam diri. Coba aja Ramadan semuanya menjadi baik. Berlomba-lomba untuk kasih makanan, berlomba-lomba untuk berbagi takjil.
Pada saat itu harus dikenali, ini bukan soal takjilnya. Kita tahu bahwa takjil ini akan memberikan pahala dan yang memberikan takjil itu pahalanya sama seperti orang yang berpuasa itu sudah jelas. Tapi kita ingin coba pelajari manfaatnya. Nah, ini adalah sebuah contoh bahwa setelah dibersihkan, dikenali, ditumbuh kembangkan, lalu harus diamalkan. Nah ketika diamalkan itulah yang menjadikan nilai-nilai menjadi realitas. Salat menjadi zakat.
Baca juga: Memaafkan, Jalan Menuju Kedamaian di Bulan Ramadan
Karena itu di akhir-akhir Ramadan, bukankah kita diminta untuk membayar zakat fitrah? Artinya fitrah diri kita harus dizakatkan. Dan ketika kita mengeluarkan zakat fitrah, yang tadinya adalah partikel-partikel energi di langit, lalu dikenali di hati, menjadi energi nyata yang diaplikasikan ke bumi. Berupa apa? Contoh, memberi takjil, lalu ada zakat fitrah.
Artinya kita tidak bisa mengatakan 'Aku kasihan sama kamu', 'Aku peduli sama kamu'. Tidak cukup. Harus menjadi nyata. Harus menjadi gerak yang bisa dilihat, dirasakan manfaatnya di level dunia.
Jadi artinya dari level ukhrawi yang kita dapatkan ketika puasa menjadi level duniawi untuk rahmatan lil alamin. Inilah kunci supaya puasa memberi manfaat bukan hanya spiritual tapi juga duniawi. Bukan hanya akhirat tetapi juga nilai-nilai yang nyata di masyarakat.




