Israel Tutup Akses Al-Aqsa 24 Hari Beruntun

tvrinews.com
11 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews – Yerusalem Okupasi

Pembatasan Ketat di Yerusalem Timur Picu Kekhawatiran Krisis Ibadah Global

Ketegangan di wilayah Yerusalem Timur mencapai titik krusial setelah pasukan pendudukan Israel secara konsisten menutup akses menuju Masjid Al-Aqsa bagi jemaah Muslim selama 24 hari berturut-turut, di tengah meningkatnya eskalasi regional dan kebijakan keamanan ketat yang diterapkan oleh otoritas setempat.

Pihak keamanan Israel secara resmi mengaitkan penutupan ini dengan situasi keamanan nasional, menyusul ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

 Namun, kebijakan ini memicu gelombang kritik karena dianggap sebagai pembatasan hak beragama yang paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Preseden Berbahaya Sejak 1967

Menurut laporan yang dihimpun oleh kantor berita Palestina, WAFA, penutupan total ini merupakan peristiwa yang jarang terjadi, bahkan dalam situasi konflik paling intens sekalipun.

"Langkah sewenang-wenang dan tidak adil ini merupakan preseden berbahaya. Masjid Al-Aqsa tidak pernah menyaksikan penutupan total serta perampasan ritual keagamaan secara menyeluruh seperti ini sejak tahun 1967, terutama pada periode krusial seperti Ramadan," lapor WAFA sebagaimana dikutip oleh QNA Selasa 24 Maret 2026.

Situasi di lapangan menunjukkan adanya pengerahan personel keamanan dalam skala besar di sekitar Kota Tua. 

Penjagaan ketat terlihat di Gerbang Damaskus dan Gerbang Herod, di mana petugas memaksa warga untuk membubarkan diri guna mencegah adanya kerumunan ibadah.

Dampak Operasional dan Regional

Pembatasan ini tidak hanya menyasar para peziarah, tetapi juga berdampak langsung pada manajemen internal situs suci tersebut. Staf Wakaf, yang bertanggung jawab atas pengelolaan harian masjid, turut mengalami pengurangan izin masuk secara signifikan. Hal ini menghambat operasionalisasi teknis dan pemeliharaan rutin di dalam kompleks Al-Aqsa.

Secara sosiopolitik, kebijakan ini bertepatan dengan pemberlakuan lockdown menyeluruh di wilayah Tepi Barat. Para analis menilai bahwa pembatasan akses fisik ini merupakan cerminan dari meningkatnya gesekan geopolitik di Timur Tengah yang kian kompleks.

Hingga laporan ini diturunkan, pengamanan di pintu-pintu masuk Kota Tua masih berada pada level tertinggi, menutup ruang bagi dialog mengenai relaksasi prosedur ibadah bagi warga lokal maupun pendatang.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Sebut Yaqut Jalani Pemeriksaan Kesehatan di Rumah Sakit Sebelum Ditahan Lagi di Rutan
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Penyelam asal Inggris Tewas Tenggelam di Gili Air Lombok Utara
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Hilirisasi Jadi Syarat Utama, Prabowo Tegas Atur Investasi Asing
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kapolri Instruksikan Jajaran Mitigasi Cuaca Buruk Selama Arus Balik Lebaran
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Konflik Iran Ganggu Perdagangan, Saudi Aramco Kurangi Ekspor ke Asia
• 11 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.