VIVA –Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin mengatakan bahwa ia dan pemimpin tertinggi Iran bisa mengontrol bersama Selat Hormuz, di tengah pernyataan terbarunya yang mengarah pada upaya meredakan konflik.
Trump menyebut jalur laut yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia itu nantinya akan dikendalikan bersama.
“Mungkin oleh saya. Mungkin saya. Saya dan Ayatollah, siapa pun Ayatollah itu,” kata dia saat menjawab pertanyaan wartawan terkait klaimnya bahwa pembicaraan untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran sedang berlangsung seperti dikutip dari laman Middle East Eye, Selasa 24 Maret 2026.
Trump tidak menjelaskan secara rinci apa yang ia maksud dengan kontrol tersebut. Namun, jika AS sampai mengakui pengaruh Iran atas jalur strategis itu, hal tersebut akan dianggap sebagai konsesi besar bagi Republik Islam Iran.
Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menyerang jaringan listrik Iran jika negara itu tidak membuka kembali Selat Hormuz. Namun kini, ia mengatakan kedua pihak sedang menjalani pembicaraan yang sangat baik untuk mengakhiri perang.
Di sisi lain, Iran menyatakan bahwa negara-negara di kawasan sedang berupaya menurunkan ketegangan, tetapi membantah adanya dialog langsung antara kedua pihak.
Terlepas dari itu, dua diplomat kawasan mengatakan bahwa bentuk pengakuan apa pun dari AS terhadap pengaruh Iran di Selat Hormuz akan disambut baik oleh Teheran.
Menariknya, pemerintahan Trump juga telah melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran di laut. AS menyebut langkah itu untuk meredam tekanan harga energi, tetapi secara tidak langsung justru memberi keuntungan besar bagi Iran.
Kontrol berarti kekuatan
Iran berhasil mengambil alih kendali Selat Hormuz setelah diserang oleh Israel dan AS.
Selama ini, posisi Amerika sebagai kekuatan super dunia salah satunya ditopang oleh kemampuannya menjaga keamanan jalur perdagangan internasional di laut. Namun, ketidakmampuan pemerintahan Trump menjamin keamanan di Selat Hormuz menjadi pukulan telak bagi citra AS, bahkan memicu wacana kemungkinan invasi darat ke Iran.
Setelah bertahun-tahun menghadapi sanksi berat, Iran kini justru berbalik menekan AS dengan menerapkan aturannya sendiri di Selat Hormuz melalui kekuatan militer.





