REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN -- Iran kembali meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Selasa, di tengah klaim Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump soal adanya pembicaraan “sangat baik” untuk mengakhiri perang. Pernyataan tersebut langsung dibantah Teheran yang menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung.
Serangan rudal terbaru dilaporkan menghantam wilayah utara Israel, menyebabkan kerusakan bangunan namun tanpa korban jiwa. Di saat bersamaan, ketegangan regional meningkat setelah Israel juga melancarkan serangan udara ke selatan Beirut, Lebanon.
Baca Juga
Gaji Digital Marketing Tembus Rp 35 Juta, Prodi Bisnis Digital UNM Siapkan Talenta Siap Pakai
Melihat Latihan Perdana Timnas Indonesia Jelang FIFA Series, Ada Elkan Baggot
Mahasiswa UNM Sudah Tembus Industri, Kamu Masih Nunggu Wisuda?
Pernyataan Trump memicu optimisme di pasar global. Ia mengklaim pemerintahannya tengah berbicara dengan “orang penting” dari Iran dan menyebut peluang kesepakatan dapat tercapai dalam beberapa hari ke depan. Namun, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf membantah keras klaim tersebut.
“Tidak ada negosiasi,” ujar Ghalibaf dilansir Arabnews, Selasa (24/3/2026), seraya menuding Trump berupaya memanipulasi pasar keuangan dan harga minyak.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei juga menyatakan bahwa meski ada pesan dari negara-negara sahabat terkait keinginan AS untuk berunding, namun pembicaraan resmi belum pernah terjadi.
Sementara itu, laporan media AS menyebutkan kemungkinan pertemuan antara utusan Washington dengan delegasi Iran dalam waktu dekat. Nama-nama seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner disebut-sebut akan terlibat, bahkan Wakil Presiden JD Vance dikabarkan mungkin ikut serta. Namun Gedung Putih belum mengonfirmasi rencana tersebut.
Di pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengakui adanya komunikasi dengan Trump. Ia menyebut Washington melihat peluang tercapainya kesepakatan, tetapi menegaskan Israel akan terus melanjutkan serangan.
“Israel akan terus bertindak untuk melindungi diri,” kata Netanyahu.