Menag Dorong Integrasi Nilai Spiritual dan Sains di Pendidikan Tinggi

metrotvnews.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya penyelarasan. Terutama, antara nilai-nilai spiritual dengan perkembangan sains dan teknologi dalam dunia pendidikan tinggi.

"Jangan sampai kita maju secara teknologi, tetapi kehilangan arah secara spiritual. Teknologi harus dipandu oleh nilai-nilai agama agar tetap memanusiakan manusia," kata Menag, dikutip Selasa, 24 Maret 2026.

Hal tersebut disampaikan Menag saat peresmian Fakultas Sains dan Teknologi di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa, Senin, 23 Maret 2026.

Menag mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus tetap memiliki arah yang jelas dan tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan. Ia menekankan bahwa dimensi spiritual perlu menjadi landasan utama agar perkembangan ilmu pengetahuan memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya penguatan pendidikan berbasis sains dan teknologi yang sejalan dengan nilai-nilai keagamaan. Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.

"Ilmu tanpa agama kehilangan arah, sementara agama tanpa ilmu kehilangan relevansi. Keduanya harus berjalan beriringan," ungkap Nasaruddin.
 

Baca Juga :

Menag Nasaruddin Umar Berharap Masyarakat Rayakan Idulfitri dengan Penuh Kekhusyukan
Selain itu, Menag menekankan bahwa upaya memperkuat kerukunan umat beragama tidak cukup hanya melalui kegiatan seremonial. Ia mendorong agar dialog lintas agama menjadi ruang yang produktif dan mampu melahirkan pemahaman yang mendalam.

"Kita harus menghadirkan dialog yang berdampak, bukan sekadar pertemuan formal. Dialog harus melahirkan hikmah yang berakar pada nilai lokal dan berwawasan global," tegas Nasaruddin.

Dalam konteks kehidupan beragama di Indonesia, Menag menilai moderasi beragama sebagai kunci utama dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman. Ia menjelaskan bahwa moderasi bukanlah upaya mengurangi ajaran agama, melainkan cara mengelola praktik beragama agar tetap seimbang.

"Agama itu sudah sempurna. Yang perlu dimoderasi adalah cara kita beragama. Moderasi adalah upaya menjaga keseimbangan, menghargai perbedaan tanpa memaksakan keseragaman," jelas Nasaruddin.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat menghindari dua sikap ekstrem dalam beragama, yakni pemaksaan keseragaman yang dapat memicu radikalisme, serta kebebasan tanpa batas yang berpotensi melahirkan sikap liberal berlebihan.

"Indonesia tidak dibangun di atas ekstremitas. Kita menjaga keseimbangan melalui nilai toleransi, komitmen kebangsaan, anti-kekerasan, dan penghormatan terhadap tradisi," ujar Nasaruddin.

Menag pun berpesan kepada para mahasiswa agar terus mengembangkan potensi diri tanpa meninggalkan nilai moral dan integritas.


Menteri Agama Nasaruddin Umar/Metro TV. 


"Kalian adalah pemimpin masa depan. Kuasai ilmu pengetahuan, berinovasilah, tetapi tetap pegang teguh nilai-nilai spiritual," tutur Nasaruddin.

Melalui momentum tersebut, Kementerian Agama berharap terbangun sinergi antara penguatan kerukunan umat beragama dan kemajuan ilmu pengetahuan, guna mendukung pembangunan bangsa yang inklusif dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Update Harga iPhone 15 Series Pasca Lebaran 2026, Alami Kenaikan Mencapai Hampir Rp2 Juta
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
China terus upayakan mediasi diplomatik selama konflik di Timur Tengah
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Kapolri Naikkan Pangkat Personel Polda Riau yang Gugur Saat Operasi Ketupat
• 10 jam laludetik.com
thumb
Kronologi Kecelakaan Maut di PIK: Sopir Fortuner Ugal-ugalan Tabrak 4 Motor Hingga 2 Tewas
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Filipina Umumkan Darurat Energi Nasional Buntut Serangan AS-Israel ke Iran
• 11 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.