Ketika Mudik Tak Lagi dengan Roda Empat

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Tak perlu sedu sedan itu

Sepenggal bait puisi ”Aku” karya Chairil Anwar itu barangkali cukup mewakili suasana kebatinan kelas menengah saat merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah tahun ini. Pulang bukan lagi soal gengsi kesuksesan khas perantau, melainkan soal pertemuan yang diusahakan dengan berbagai macam cara.

Yono (34), pekerja swasta di Jakarta, akhirnya tahun ini bisa berkumpul kembali dengan orangtua dan sanak saudara di kampung halamannya, di Brebes, Jawa Tengah. Tahun lalu, ia merayakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman istrinya di Medan, Sumatera Utara.

Dalam beberapa tahun terakhir, Yono pulang kampung dengan mengendarai mobil. Namun, kali ini ia memilih untuk naik sepeda motor bersama istrinya. Mereka berdua menempuh jarak hampir 300 kilometer (km) untuk berjumpa dengan sanak saudaranya di Brebes, Jawa Tengah.

”Sebenarnya cuma ngejar praktisnya aja biar enggak kena macet. Kita juga fleksibel selama perjalanan, bisa istirahat kapan aja,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (20/3/2026).

Ia berangkat dari Jakarta pada H-6 Lebaran. Secara umum, perjalanannya dari Jakarta menuju Brebes terbilang lancar dengan memakan waktu lebih kurang selama tujuh setengah jam dengan menyisiri jalur pantai utara (pantura) Jawa.

Bicara soal biaya, Yono merasa pengeluarannya jauh membengkak saat mudik dengan sepeda motor ketimbang transportasi umum. Setidaknya ia merogoh kocek sebesar Rp 600.000 untuk biaya perjalanan pergi pulang. Jumlah itu di luar servis motor sebelum perjalanan sebesar Rp 700.000.

”Tapi, kalau bawa motor, kita jadi ada kendaraan buat pergi ke mana-mana waktu di kampung. Enggak perlu kita pinjam motor tetangga,” ujarnya.

Ternyata naik kereta lebih cepat dan jadi enggak capek di jalan. Banyak juga penumpang yang ternyata satu keluarga dengan anak satu atau anak dua.

Sebaliknya, ia justru menghindari perjalanan dengan mengendarai kendaraan roda empat. Meski kini akses jalan tol telah memadai, Yono tetap enggan berjibaku dengan kemacetan. Baginya, mudik dengan sepeda motor jauh lebih efektif dan efisien.

Lain cerita dengan Fajar (35), pekerja swasta di Jakarta. Pada Lebaran tahun ini, ia bersama dengan istri dan anaknya memilih moda transportasi umum untuk mudik ke Yogyakarta. Dengan kereta api, mereka menempuh waktu perjalanan sekitar 6,5 jam.

”Ternyata naik kereta lebih cepat dan jadi enggak capek di jalan. Banyak juga penumpang yang ternyata satu keluarga dengan anak satu atau anak dua,” katanya.

Baru tahun ini ia bersama dengan keluarganya mudik dengan kereta api. Pengeluarannya untuk perjalanan kali ini cukup lumayan, yakni mencapai sekitar Rp 4,6 juta untuk tiket keberangkatan dan kepulangan.

Pada Lebaran tahun-tahun sebelumnya, Fajar bersama dengan keluarganya biasa mudik dengan kendaraan roda empat. Apabila dibandingkan dengan tiket kereta, pengeluaran untuk mudik dirasa jauh lebih murah menggunakan kendaraan pribadi.

Baca JugaEmpat Hari Jelang Lebaran, Pengguna Angkutan Umum Tembus 6,2 Juta Orang

Dengan mobil, ongkos perjalanan mudik pulang dan pergi untuk bensin, termasuk biaya tol sekitar Rp 2,5 juta. Ditambah dengan persiapan servis sebelum keberangkatan sekitar Rp 1 juta. Namun, belum lama, mobil pribadinya telah ia jual.

”Tapi, kalau naik mobil, siap-siap dengan kemacetan. Lebaran dua tahun lalu pernah kena macet parah sampai perjalanannya total 20 jam. Habis itu seharian untuk istirahat,” ujarnya.

Bagi Fajar, tak jadi soal apabila mudik kali ini tanpa kendaraan pribadi. Sebaliknya, yang paling penting ialah bertemu dengan orangtua dan keluarga inti di kampung halaman untuk merayakan Lebaran.

Pasar lesu

Dua pengalaman tersebut menjadi potret kecil bahwa pulang kampung memang tak harus mengendarai kendaraan roda empat. Bahkan, animo masyarakat untuk memiliki mobil yang biasanya melonjak menjelang Lebaran pun dalam beberapa tahun terakhir turun.

Fenomena itu salah satunya tampak dari showroom mobil bekas di pusat niaga WTC Mangga Dua, Jakarta Utara. Pada Senin (15/3/2026), sejauh mata memandang, hanya terlihat barisan mobil yang terparkir rapi. Hampir tidak ada pengunjung yang datang untuk melihat-lihat.

Chandra (40) adalah salah seorang pedagang mobil bekas. Terdapat enam unit mobil bekas yang terparkir di lapaknya. Meski tergolong kendaraan bekas, mobil itu terlihat masih mengilap seperti baru.

”Sudah dua tahun ini penjualan agak turun karena sepertinya daya beli masyarakat turun. Menjelang Lebaran seperti ini saja tidak ada lonjakan,” katanya.

Ia memperkirakan, penurunan penjualan mobil bekas dagangannya itu hampir separuh dibandingkan tahun lalu. Adapun mobil bekas yang cukup banyak diminati oleh masyarakat rata-rata dibanderol dengan harga Rp 250 juta per unit.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Leo. Pedagang mobil bekas yang sudah berjualan di WTC Mangga Dua selama delapan tahun itu pun ikut merasakan penurunan daya beli masyarakat. Hal itu dirasakannya dalam tiga tahun terakhir.

Kita ngomong tahun lalu saja penjualan sudah turun. Dua tahun lalu masih enak banget jual mobil. Bahkan, banyak showroom juga yang tutup.

Biasanya, penjualan mobil di lapaknya akan meningkat sekitar 10 persen ketika mendekati Lebaran. Dalam sebulan, rata-rata ia mampu menjual 30 unit mobil. Namun, pada Lebaran tahun ini, untuk melepas 10 unit mobil saja sudah merupakan sebuah keajaiban.

”Kita ngomong tahun lalu saja penjualan sudah turun. Dua tahun lalu masih enak banget jual mobil. Bahkan, banyak showroom juga yang tutup,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi pasar mobil bekas saat ini cenderung sejalan dengan kinerja penjualan mobil baru secara nasional. Turunnya penjualan tersebut tidak lain dipengaruhi oleh faktor ekonomi yang saat ini masih lesu.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total penjualan mobil wholesales sepanjang 2025 mencapai 803.687 unit. Angka ini turun 7,2 persen dibandingkan torehan 2024 yang sebanyak 865.723 unit.

Baca JugaPenjualan Mobil Diprediksi Pulih Setelah Lebaran

Nyatanya, lesunya pasar mobil bekas tersebut tidak hanya terjadi di Jakarta. Bimo (42), pedagang mobil bekas di Madiun, Jawa Timur, merasakan penurunan penjualan mobil bekas. Hasil dari jual-beli mobil di showroom kecil miliknya tidak cukup menjanjikan lagi dibandingkan tiga tahun lalu.

”Tahun 2026 ini sama, sih, dengan 2025. Ketika menjelang Lebaran, istilahnya ketertarikan orang untuk belanja kendaraan itu enggak begitu kerasa,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.

Penurunan kelas

Salah satu faktor yang memengaruhi turunnya daya beli masyarakat ialah penurunan jumlah kelas menengah. Kondisi ini mengakibatkan pola konsumsi masyarakat berubah, termasuk dalam hal pilihan atau cara masyarakat untuk mudik.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal meyakini, daya beli kelas menengah lapisan terbawah, di luar kelompok miskin atau rentan miskin, sedang turun. Ini terjadi seiring dengan penurunan jumlah kelas menengah Indonesia.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk kelas menengah mencapai 46,7 juta orang pada 2025. Angka ini turun 1,1 persen dibandingkan 2024.

Lesunya daya beli masyarakat juga dipengaruhi oleh penurunan rata-rata upah riil. Kondisi tersebut sejalan dengan bergesernya serapan tenaga kerja, dari sektor formal ke sektor informal.

Sebaliknya, jumlah penduduk calon kelas menengah meningkat 4,5 persen menjadi 142 juta orang dan kelas atas naik 0,1 persen menjadi 1,2 juta orang. Apabila dihitung sejak 2018, jumlah kelas menengah yang turun kelas telah mencapai 12 juta orang.

”Ini berpengaruh terhadap jumlah orang yang mudik ataupun cara mereka mudik dan spending-nya juga kurang,” ujarnya.

Di sisi lain, lesunya daya beli masyarakat juga dipengaruhi oleh penurunan rata-rata upah riil. Kondisi tersebut sejalan dengan bergesernya serapan tenaga kerja, dari sektor formal ke sektor informal.

Menurut Faisal, penurunan jumlah kelas menengah itu akan turut memengaruhi bisnis transportasi, termasuk bisnis penjualan kendaraan. Ini mengingat total konsumsi kelas menengah dan calon kelas menengah berkontribusi sebesar 80 persen terhadap konsumsi nasional.

”Mereka (kelas menengah) tentu akan menjadi lebih selektif dalam berbelanja, termasuk mudik. Artinya, mereka tetap bisa mudik, tetapi dengan mengubah moda transportasi yang lebih hemat,” tuturnya.

Barangkali, deru kendaraan roda empat masih menjadi simbol kesuksesan perantau tatkala pulang kampung. Namun, kondisi ekonomi yang tidak mudah justru memperlihatkan bahwa esensi mudik adalah bersilaturahmi, bukan gagah-gagahan.

Baca JugaSeparuh Isi Dompet Kelas Menengah Terkuras ”Sepiring Nasi”

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Krisis Energi Iran Dorong Inggris Terapkan Standar Rumah Ramah Lingkungan
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Manuver Tiongkok di Laut China Selatan Jadi Ancaman Serius Kedaulatan Vietnam
• 14 jam laluviva.co.id
thumb
KSP Beberkan Prestasi Siswa Sekolah Rakyat: Juara Pencak Silat-Finalis Puisi
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Saatnya Panen Cuan dari Oleh-oleh Lebaran
• 3 jam lalukompas.id
thumb
Makassar Dorong Kolaborasi Wisata dengan Barru
• 21 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.