Saatnya Panen Cuan dari Oleh-oleh Lebaran

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Libur lebaran menjadi momentum bagi pelaku usaha mikro dan kecil serta toko oleh-oleh untuk memanen cuan. Penjualan naik berlipat-lipat dari hari biasa, salah satunya berkat inovasi rasa dan kemasan.

Salah satu oleh-oleh diserbu pembeli pada Lebaran tahun ini adalah kerupuk rambak Happy-Khan. Pembelian pelanggan pada Lebaran ini melonjak hingga 4 kali lipat dibanding sebelumnya.

Pemilik usaha memodifikasi kemasan produk menjadi hampers atau hantaran. Penjualan pun melesat. Yang membeli tak hanya wisatawan tetapi juga pelaku usaha perhotelan, restoran, dan pusat oleh-oleh.

“Pada Lebaran tahun ini, order naik 4 kali lipat, karena kami juga membuat hampers rambak sapi,” kata Happy Dwiyastuti, pengusaha kerupuk rambak Happy-Khan di Kota Malang, Rabu (25/03/2026).

Ia meyakini pasar konsumen rambak sapi buatannya akan terus berkembang seiring inovasi dilakukan. Selain pada kemasan, inovasi juga menyentuh rasa. Kini, kerupuk rambak buatannya punya rasa baru, seperti rasa jagung bakar dan barbeque.

“Selain itu, ada juga pembeli mengonsumsi rambak sapi Happy-Khan untuk kebutuhan diet karbo. Jadi, memang segmen pasar kami cukup luas, sehingga pembeli terus naik dan sebenarnya tidak melihat momentum tertentu,” kata Happy.  

Selain kerupuk rambak, oleh-oleh yang juga ramai diserbu pembeli adalah keipik tempe di Sentra Keripik Tempe Sanan. “Saat lebaran seperti ini memang sedang banyak-banyaknya pembeli. Maka biasanya keripik tempe yang kami stok sejak bulan puasa pun, ada saja varian yang habis. Kali ini varian habis adalah keripik tempe rasa daun jeruk,” kata Florina, penjaga di toko keripik tempe Si Imoets.

Menurut Florina, toko itu baru akan kembali menyetok varian keripik tempe dengan lengkap seusai lebaran. “Saat ini pekerja masih libur, jadi kemungkinan stok akan ada lagi setelah lebaran,” katanya.

Kondisi senada juga dikatakan oleh Rudi Ikhwan, Sekretaris Paguyuban Keripik Tempe Sanan. Menurut Rudi, sejak 2 minggu sebelum lebaran, ia sudah fokus menyetok pasokan keripik tempe ke beberapa toko dan pembelinya baik di dalam maupun luar kota. Ia membuat hingga 50 kilogram (kg) per hari, lebih banyak dari kondisi normal yang hanya 45 kilogram. Hanya saja, stok tersebut juga sudah habis dibeli untuk oleh-oleh per Senin (23/03/2026).

“Stok kemarin habis di saaat akhir mudik dan setelah lebaran ini,” katanya.

Bagi Rudi, pola pembelian pelanggannya tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, pada akhir waktu mudik dan usai lebaran, keripik tempe buatannya akan habis dibeli.

Kawasan Sanan merupakan sentra produksi dan penjualan keripik tempe di Kota Malang sejak lama. Terdapat lebih dari 300 perajin keripik tempe di sana.

Keripik tempe Sanan mulai berkembang dan dikenal luas seperti sekarang sejak 1990-an. Keripik tempe Sanan dikenal luas dengan berbagai rasa, mulai dari original, jagung manis, udang, seafood, keju, hingga rumput laut.

Selama hari libur sekolah dan lebaran, biasanya keripik tempe Sanan akan menjadi pusat rujukan orang-orang untuk membeli aneka kebutuhan oleh-oleh. Mulai dari keripik tempe, aneka keripik buah, minuman sari buah, dan berbagai oleh-oleh lain.

Penurunan

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang Widan Syafitri mengatakan, momentum mudik lebaran sudah menjadi tradisi di Indonesia. Sehingga menurutnya, selama harga kebutuhan Lebaran masih terjangkau, termasuk harga oleh-oleh, maka perayaan lebaran tetap berjalan seperti tahun sebelumnya. Meskipun, memang ada penurunan tipis dalam jumlah pemudik ataupun konsumsi masyarakat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Penurunan jumlah pemudik dan konsumsi masyarakat ini, salah satunya karena momentum lebaran dekat dengan tahun baru, dan awal tahun ini ada peningkatan kasus PHK. Sehingga, memungkinkan adanya penurunan tingkat konsumsi masyarakat secara umum. Namun, untuk perayaan dan kemeriahan lebaran tetap tidak banyak berubah,” kata Wildan.

Penurunan proporsi konsumsi masyarakat tampak dari Survei Konsumen Bank Indonesia tahun 2014-2026. Data proporsi konsumsi Juli 2014 saat bulan Lebaran, yakni 68,7 persen. Lebaran berikutnya, angka proporsi menurun menjadi 67,2 persen dan sedikit meningkat menjadi 69,1 persen pada Lebaran 2016.

Adapun periode 2024-2026, polanya masih sama, yaitu warga masih menahan konsumsi. Februari 2025 (masa puasa), proporsi konsumsi masyarakat masih di angka 74,7 persen. Kemudian, pada Januari 2026 menurun jadi 72,3 persen.

Selain turunnya tingkat konsumsi, penurunan jumlah pemudik juga diduga terjadi tahun ini. Hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan, pada tahun 2026, jumlah pemudik Lebaran turun 1,9 persen menjadi 143,9 juta orang atau diperkirakan hanya 50,1 persen warga yang melakukan ritual mudik.

Nilai Spiritual

Meski jumlah pemudik dan tingkat konsumsi masyarakat turun tahun ini, menurut Wildan, hal itu tidak mengurangi kemeriahan perayaan lebaran 2026. Itu sebabnya, setiap momen Lebaran, tetap akan terjadi antrean orang di tol untuk mudik, warga berjubel membeli tiket mudik, atau orang memborong oleh-oleh untuk mudik atau balik.

“Di sini, nilai spiritual dan tradisi seputar Lebaran sangat kuat. Itu mendorong peningkatan konsumsi dibandingkan hari-hari biasa. Sebagian masyarakat sudah niat dan menyiapkan momentum mudik Lebaran itu sebagai tradisi rutin setahun sekali. Bisa jadi sudah menabung jauh-jauh hari. Sehingga, meski ada penurunan daya beli, namun sebisa mungkin mereka tetap akan belanja untuk Lebaran,” katanya.

Yunan Saifullah, Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengatakan bahwa Lebaran bukan sekadar puncak prosesi ibadah, namun juga aktualisasi budaya secara kolektif. Itu sebabnya, orang biasanya akan menyiapkan segala keperluan terkait Lebaran sejak jauh hari (bahkan sudah direncanakan setahun sebelumnya).

“Oleh karena itu, tanpa sadar perilaku konsumsi masyarakat secara individual maupun komunal ikut terdorong dan bergerak meningkat dengan sendirinya. Baik ada atau tidaknya gangguan mikro/makro,” kata Yunan.

Baca JugaDampak Konflik Timur Tengah, Ujian Berat Ketahanan Ekonomi dan Pertahanan Indonesia

Gangguan mikro atau makro seperti konflik Iran versus Israel-Amerika, ataupun isu harga BBM, hingga wacana kembali sekolah online untuk efisiensi BBM, hal itu dinilai Yunan tidak akan berdampak signifikan pada konsumsi masyarakat saat Lebaran.

“Terbukti bahwa kemacetan dan kepadatan orang pulang ke kampung halaman atau tujuan tempat tempat wisata, tetap terjadi. Pusat oleh-oleh juga tetap ramai. Artinya, momentum Lebaran di mana hanya setahun sekali, selama ini masih menjadi prioritas masyarakat sebagai bagian dari budaya dan tradisi tahunan,” kata Yunan.

Baca JugaDaya Beli Melemah, Pemudik Merosot

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Masyarakat Diimbau Manfaatkan Kebijakan WFA untuk Hindari Puncak Arus Balik
• 20 jam lalukompas.id
thumb
Keluarga Noel Ebenezer Ajukan Pengalihan Tahanan, KPK: Kewenangan di Hakim
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Kronologi Kasus Yaqut Cholil Qoumas Tahanan Rumah
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
JDF Asia Pasifik Minta Dunia Tekan Israel Buka Akses Masjid Al-Aqsa
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Kakorlantas: One Way Arus Balik Dinamis, Bisa Diperpanjang Sampai Besok
• 19 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.