Pariwisata Lebaran 2026 Terindikasi Tumbuh

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Sektor hotel, restoran, travel, hingga sejumlah objek wisata mencatat peningkatan kunjungan wisatawan selama libur Lebaran 2026. Namun, peningkatan itu masih terkendala berbagai hambatan seperti harga tiket pesawat yang mahal.

Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi BS Sukamdani mengatakan, masa libur hari raya 2026 ini berlangsung sekitar tujuh hari dari 18-24 Maret, lebih pendek dibandingkan tahun lalu yang mencapai 10 hari. Kondisi ini membuat masyarakat cenderung memaksimalkan waktu libur yang terbatas tersebut.

“Karena waktunya lebih pendek, orang memaksimalkan libur. Itu yang membuat beberapa destinasi justru menunjukkan okupansi yang lebih baik,” ujar Hariyadi, saat dihubungi, Selasa (24/3/2026).

Sejumlah destinasi wisata utama seperti Yogyakarta dan Bandung mencatatkan peningkatan tingkat hunian hotel. Bahkan, beberapa kota sekunder seperti Garut menunjukkan progres yang cukup signifikan. Tren serupa juga terlihat di Medan, Malang, dan Toraja yang mengalami peningkatan kunjungan.

Namun, tidak semua daerah mengalami hal yang sama. Kota Solo, yang selama ini dikenal sebagai tujuan mudik tradisional dan jadi salah satu tujuan wisata, justru mencatat penurunan okupansi hotel.

Variasi kinerja ini, menurut Hariyadi, dipengaruhi oleh karakteristik destinasi dan pola perjalanan masyarakat. “Di sisi lain, fenomena staycation turut menopang kinerja perhotelan, khususnya di kota besar seperti Jakarta yang mencatatkan tingkat hunian lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya.

Kondisi berbeda terjadi di Bali. Perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret 2026, berdekatan dengan awal periode libur Lebaran, membuat sebagian wisatawan menunda perjalanan. Hal ini mempengaruhi tingkat hunian yang sedikit menurut.

Meski demikian, secara agregat nasional, PHRI melihat tren okupansi hotel mengalami kenaikan tipis dibandingkan tahun lalu. Selain faktor durasi libur, peningkatan ini juga didorong oleh beberapa faktor lain.

“Untuk secara keseluruhan, ada peningkatan. Berapa? Kami masih perlu mendatanya karena belum semua data masuk,” ujarnya.

Faktor kenainkan kunjungan wisatawan dan hotel, lanjutnya, pertama, adanya pergeseran wisatawan dari luar negeri ke dalam negeri akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu rute penerbangan ke Eropa. Kedua, peningkatan tunjangan hari raya (THR), khususnya bagi aparatur sipil negara (ASN).

Di sektor restoran, kinerjanya lebih stabil dengan kecenderungan meningkat. Aktivitas promosi melalui media sosial, termasuk konten dari influencer dan blogger, dinilai efektif menarik kunjungan. “Kalau makanan (restoran) relative stabil, bagus. Hampir di semua kota merata mengalami kenaikan,” ujar Hariyadi.

Kota-kota seperti Bandung dan Yogyakarta. Bahkan Solo menunjukkan peningkatan kunjungan restoran, meskipun tidak diikuti oleh kenaikan signifikan di sektor hotel.

Baca JugaLibur Lebaran, Saatnya Jelajahi Alam dan Warisan Budaya Yogyakarta

Kenaikan harga bahan pokok di masa Ramadhan dan Lebaran, kata Hariyadi, tidak terlalu memengaruhi kunjungan restoran selama periode libur. Daya beli masyarakat yang ditopang oleh THR menjadi faktor penahan. Namun, PHRI memperkirakan dampak kenaikan harga akan mulai terasa setelah musim libur berakhir.

Untuk menarik minat wisatawan, pelaku usaha hotel dan restoran juga gencar menawarkan berbagai program promosi selama periode Lebaran.

Tantangan

Di tengah tren positif tersebut, PHRI mengingatkan adanya sejumlah tantangan struktural yang perlu diantisipasi pemerintah, terutama terkait biaya logistik dan transportasi. Potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) serta tekanan inflasi global dinilai dapat memengaruhi biaya operasional sektor ini, khususnya dari sisi pasokan bahan baku.

Selain itu, tingginya biaya transportasi udara menjadi perhatian utama. Berbagai komponen biaya, mulai dari pajak pertambahan nilai (PPN) pada avtur dan tiket pesawat hingga bea masuk suku cadang, dinilai membebani maskapai dan berdampak pada mahalnya harga tiket.

“Transportasi udara ini harus dilihat sebagai sektor strategis karena menjadi penggerak mobilitas masyarakat dan ekonomi daerah,” kata Hariyadi.

Tingginya harga tiket pesawat tidak hanya membatasi pergerakan wisatawan, tetapi juga memengaruhi tingkat hunian hotel di daerah tujuan. Bahkan, sejumlah destinasi dengan potensi wisata besar, seperti Wakatobi, mengalami keterbatasan akses akibat minimnya penerbangan.

Maskapai, lanjut Hariyadi, cenderung memprioritaskan rute dengan tingkat permintaan tinggi guna menjaga margin usaha, apalagi di masa libur besar seperti hari raya Lebaran. Akibatnya, rute ke daerah yang dianggap kurang menguntungkan menjadi berkurang atau dihentikan.

Baca JugaWisata Alam, Favorit Wisatawan Saat Liburan Lebaran

PHRI menilai, pemerintah perlu melihat persoalan ini secara komprehensif, terutama dalam menekan biaya penerbangan agar lebih kompetitif. Dengan demikian, konektivitas antardaerah dapat terjaga dan sektor pariwisata nasional mampu tumbuh lebih merata.

“Jika biaya akomodasi, seperti tiket pesawat yang terjangkau, saat musim liburan di berbagai daerah dengan potensi wisata yang unik dan menarik akan ramai dikunjungi, akhirnya ini berdampak pada penginapan dan restoran. Ekonomi daerah pasti maksimal. Seharusnya dengan negara kepulauan, Pemerintah melihat ini secara cermat,” katanya.

Senada, Sekretaris Jenderal DPP Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Budijanto Ardiansjah juga ikut menyoroti masalah klasik yang mencuat setiap musim liburan, yakni tingginya harga tiket pesawat. Meski pemerintah telah memberikan insentif berupa diskon dalam beberapa tahun terakhir, harga tiket dinilai masih relatif mahal.

“Tiket pesawat ini tetap terasa tinggi, bahkan setelah diskon. Ini menjadi pekerjaan rumah besar,” kata dia.

Tingginya biaya transportasi udara berdampak pada tidak meratanya distribusi wisatawan antar daerah. Wisatawan, bahkan termasuk wisatawan mancanegara, cenderung terkonsentrasi di destinasi tertentu karena mahalnya biaya untuk melanjutkan perjalanan ke daerah lain.

Akibatnya, potensi destinasi wisata di berbagai wilayah belum sepenuhnya tergarap optimal. Kondisi ini juga dinilai menghambat upaya pemerataan ekonomi berbasis pariwisata. “Pasar domestik (wisatawan lokal) tetap menjadi tumpuan. Ini terbukti menjadi tulang punggung. Jadi harus benar-benar diperhatikan, termasuk dari sisi kemudahan akses dan harga transportasi,” ujarnya.

Industri penerbangan yang terbatas turut memengaruhi tingginya harga tiket. Minimnya jumlah pemain membuat kompetisi kurang optimal sehingga harga cenderung tinggi. ASITA pun mendorong pemerintah untuk mencari solusi jangka panjang agar harga tiket lebih terjangkau.

“Kalau tiket lebih terjangkau, pergerakan wisatawan akan meningkat dan ekonomi daerah ikut terangkat. Itu kunci untuk memperkuat pariwisata nasional,” kata Budijanto.

Baca JugaWisata Lebaran Dongkrak Ekonomi Daerah

Faktor tiket pesawat itu menjadi salah satu fakor peningkatan di sektor travel belum maksimal. Asita mencatat kenaikan periode lebaran kali ini hanya 10 persen saja dibandingkan tahun sebelumnya.

“Secara year-on-year (secara tahunan), kenaikannya sekitar 10 persen dan tidak lebih tinggi dari itu. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat sebagian masyarakat menahan pengeluaran.

Meski begitu, kenaikan tipis itu tetap perlu dilihat positifnya. Beberapa alasan adanya kenaikan tipis karena tak lepas dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu rute penerbangan internasional khsususnya maskapai asal Timur Tengah. Kondisi ini memaksa sebagian wisatawan mengalihkan rencana perjalanan ke dalam negeri.

Selain itu, momentum Lebaran memang dimanfaatkan masyarakat untuk mudik sekaligus berwisata. Dalam praktiknya, batas antara pemudik dan wisatawan kerap menjadi cair.

“Pemudik itu biasanya dua sampai tiga hari setelah Lebaran berubah menjadi wisatawan. Mereka mulai mengunjungi destinasi wisata di sekitar daerah asalnya,” ujar Budijanto.

Meski demikian, Budijanto menilai peningkatan perjalanan secara keseluruhan masih terbatas. “Masih ada rasa cemas. Orang berpikir setelah Lebaran bagaimana kondisi ekonomi, harga energy (BBM), dan sebagainya. Jadi ada yang menunda perjalanan,” ujarnya.

Salah satu tujuan wisata, Taman Safari. Chief Marketing Officer Taman Safari Indonesia, Alexander Zulkarnain, mengatakan, Taman Safari Bogor mencatat pertumbuhan kunjungan di atas 15 persen selama periode Lebaran dibandingkan tahun lalu.

Secara keseluruhan, pertumbuhan bisnis di destinasi tersebut juga meningkat lebih dari 10 persen. “Secara year-on-year, khusus Lebaran, kenaikannya sekitar 10 persen. Dari sisi pengunjung bahkan di atas 15 persen. Ini menarik karena secara umum industri tahun ini tidak terlalu kuat, tetapi kami justru tumbuh,” ujar Alexander, dihubungi secara terpisah.

Capaian tersebut tidak lepas dari strategi yang dilakukan jauh hari, termasuk perencanaan program sejak awal tahun. Selain itu, hadirnya atraksi baru berupa kelahiran bayi panda pada akhir 2025 lalu menjadi magnet utama kunjungan.

Alexander menilai, kunjungan wisatawan ke berbagai taman (Taman Safari Group), bukan saja keuntungan bagi pihaknya. Namun, secara luas sektor pariwisata memiliki efek pengganda (multiplier effect) yang cepat terhadap perekonomian daerah. Pergerakan wisatawan tidak hanya terkonsentrasi di kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah yang lebih kecil.

“Pariwisata ini salah satu sektor yang paling cepat menggerakkan ekonomi, terutama bagi tenaga kerja dan pelaku usaha lokal,” ujarnya.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya dukungan infrastruktur dan kebijakan yang berpihak pada sektor pariwisata. Konektivitas dan kemudahan akses dinilai menjadi faktor kunci untuk meningkatkan mobilitas wisatawan secara lebih luas.

Pelaku wisata mendorong agar komitmen pemerintah dalam menjadikan pariwisata sebagai motor pertumbuhan ekonomi diwujudkan melalui langkah konkret, termasuk penguatan implementasi kebijakan di lapangan.

Ia mencontohkan negara seperti Thailand dan Malaysia yang dinilai berhasil menjadikan sektor pariwisata sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi. “Kalau pariwisata benar-benar ingin dijadikan penggerak ekonomi, maka kebijakan dan implementasinya harus konsisten dan terukur,” kata Alexander.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
644.152 Orang Naik KRL Jogja-Solo Selama Libur Lebaran
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Populer: Harga Minyak Anjlok Nyaris 11 Persen; Saudi Aramco Pangkas Ekspor
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Seskab Teddy dan Menhub Tinjau Arus Balik Lebaran di Terminal Pulo Gebang
• 9 jam laluviva.co.id
thumb
Harga BBM Ugal-ugalan karena Perang, EV China Bisa Ketiban Berkah
• 8 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Bantu Kebutuhan Pascalebaran, Paket Sembako Disalurkan di Sumbar
• 18 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.