Tren penurunan harga emas dunia terus berlanjut seiring perang Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran yang memicu kekhawatiran inflasi serta ekspektasi kenaikan suku bunga global. Jika dihitung sejak awal perang (28/2), harga emas sudah turun 17 persen.
Dikutip dari Reuters, Rabu (25/3) harga emas spot kini juga sudah turun lebih dari 21 persen dari puncak atau All Time High (ATH) pada 29 Januari yang sempat menyentuh level USD 5.594,82 per troy ons. Pada Selasa (24/3) pukul 14.11 ET (18.11 GMT), harga emas spot turun 0,4 persen menjadi USD 4.389,26 per troy ons.
“Jika perang terus berlanjut dan harga energi terus naik, ini bukan kabar baik bagi emas,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities.
Meski tren penurunan berlangsung dan menekan harga emas di kuartal kedua tahun ini, Bart memprediksi tren kenaikan akan kembali pada akhir 2026.
“Emas kemungkinan akan berada di bawah tekanan pada kuartal kedua, tetapi saya pikir pada akhir tahun prospeknya akan kembali sangat baik, karena kami berharap bank sentral seperti The Fed memiliki lebih banyak ruang gerak, dan kita bisa melihat dolar melemah serta suku bunga turun,” lanjutnya.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga ditutup melemah 0,1 persen di level USD 4.402,00 per troy ons. Sementara itu, harga perak spot naik 0,4 persen menjadi USD 69,43, platinum menguat 1 persen ke USD 1.900,13, sementara palladium turun 2,1 persen menjadi USD 1.403,75.
Perang AS dan Israel dengan Iran telah menghentikan pengiriman sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melalui Selat Hormuz. Hal itu mendorong kenaikan harga energi dan memicu kekhawatiran inflasi.
Sebagai respons, bank-bank sentral utama di berbagai negara juga menegaskan kesiapan mereka untuk bertindak jika perang memicu lonjakan harga yang lebih luas.
“Penurunan harga emas terbaru kemungkinan merupakan reaksi berlebihan, sama seperti kenaikan tajam di awal tahun. Dalam arti tertentu, bandul telah berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya untuk emas,” tulis analis Commerzbank dalam sebuah catatan.





