Bisnis.com, JAKARTA — Pelaksana sementara (Pjs.) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik mengungkapkan soal isu dirinya dalam pencalonan pucuk pimpinan di BEI.
Kendati Jeffrey tidak memberikan jawaban pasti soal potensi dirinya menjadi Dirut BEI, dia menegaskan bahwa arah kebijakan bursa ke depan akan berfokus pada penguatan fundamental agar mampu bersaing di tingkat global.
Dia juga mengisyaratkan bahwa jika dipercaya menjadi pucuk pimpinan, strategi pengembangan pasar tidak semata mengejar jumlah emiten baru, melainkan lebih mengutamakan kualitas perusahaan tercatat.
“Saat ini kita semua sudah sepakat bahwa kita akan mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas,” kata Jeffrey saat ditemui usai menghadiri pelantikan Jajaran Pimpinan OJK di Mahkamah Agung, Rabu (25/3/2026).
Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia sekaligus menarik minat investor jangka panjang, di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Dia juga memaparkan soal perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pascalibur panjang Lebaran serta meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Jeffrey menyampaikan bahwa pergerakan IHSG pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang mencerminkan respons yang cukup baik dari pelaku pasar.
Menurutnya, investor domestik cenderung bersikap rasional dalam menyikapi dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belakangan meningkat.
“Kita lihat hari ini pasar merespons cukup rasional dengan perkembangan terakhir di Timur Tengah. Setelah libur cukup lama, pasar kita juga bereaksi cukup baik,” ujar Jeffrey.
Dia menekankan bahwa dalam situasi ketidakpastian global yang tinggi, investor perlu tetap mengedepankan analisis fundamental serta menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing.
Jeffrey menjelaskan, dalam setiap kondisi pasar akan selalu ada sektor atau perusahaan yang diuntungkan maupun terdampak negatif. Oleh karena itu, kehati-hatian dan rasionalitas menjadi kunci dalam mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





