Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) mencatat lonjakan pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) pada awal 2026, yang semakin memperkuat struktur pendapatan perseroan di tengah ekspansi layanan digital dan bisnis emas.
Merujuk data BSI hingga Februari 2026, pendapatan berbasis komisi BRIS tercatat mencapai Rp1,47 triliun atau tumbuh 30% secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan ini menjadi salah satu penopang utama kinerja perseroan, seiring strategi diversifikasi pendapatan di luar margin pembiayaan.
Kontributor terbesar berasal dari layanan bank emas yang mencatat pertumbuhan paling signifikan, yakni sebesar 136,55% YoY menjadi Rp463 miliar.
Kinerja ini turut diperkuat oleh peningkatan kelolaan emas yang telah mencapai sekitar 22,5 ton serta basis nasabah yang terus berkembang hingga 23 juta dalam empat tahun terakhir.
Selain bisnis emas, peningkatan FBI juga didorong oleh kinerja layanan digital dan treasury. Hingga Februari 2026, jumlah pengguna superapps mencapai 6,3 juta dengan total transaksi menembus 125,4 juta. Aktivitas transaksi yang meningkat ini turut berkontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan berbasis komisi.
Sejalan dengan itu, kontribusi FBI terhadap total pendapatan BSI juga mengalami peningkatan, tercermin dari kenaikan fee based ratio menjadi 24,59% secara tahunan. Likuiditas Perseroan tetap terjaga dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) di level 88,20%.
Baca Juga
- Bank Syariah Nasional Gandeng APSI, Perkuat Bisnis Pembiayaan Rumah
- CIMB Niaga: Bank Syariah Hasil Spin-Off Butuh Insentif Pemerintah
- Biaya Bank Syariah Lebih Mahal, Ma'ruf Amin Respons Kritik Purbaya
Secara umum, kinerja BSI (unaudited) per Februari 2026 menunjukkan pertumbuhan yang solid di berbagai indikator utama. Pembiayaan tumbuh 14,32% menjadi Rp323 triliun secara YoY.
Selain itu, pertumbuhan pembiayaan juga diperkuat melalui kontribusi pembiayaan ritel termasuk UMKM mencapai Rp52,43 triliun naik 6,10% (YoY).
Dari sisi profitabilitas, BSI juga mencatat laba sebesar Rp1,36 triliun, tumbuh sekitar 17% (YoY), melanjutkan tren pertumbuhan berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir.





