PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo bersiap memperkuat struktur industri sawit nasional melalui proyek hilirisasi terintegrasi. Anak usaha Sub Holding PTPN III (Persero) ini menjadwalkan peletakan batu pertama (groundbreaking) fasilitas pengolahan sawit terpadu di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatra Utara, segera setelah periode libur Lebaran.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyatakan bahwa langkah strategis ini merupakan respons perusahaan terhadap kebijakan hilirisasi nasional. Proyek ini juga diselaraskan dengan arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk menciptakan ekosistem industri lintas sektor yang solid.
"Secara kesiapan teknis kami sudah matang. Saat ini kami sedang menunggu keputusan final dari pemegang saham, dan estimasinya bisa dimulai pasca-Lebaran ini," ujar Jatmiko dalam keterangannya dikutip Rabu (25/3).
Baca juga : Laba PalmCo Tumbuh 65 Persen Jadi Rp6,19 triliun pada 2025
Transformasi ini menandai pergeseran fokus PalmCo dari sekadar produsen dan eksportir minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menjadi pemain produk turunan bernilai tambah. Salah satu fokus utama adalah pengembangan Bio Propylene Glycol (BioPG) yang diolah dari tandan buah segar (TBS).
Jatmiko menekankan bahwa nilai ekonomi dari produk hilir ini bisa meningkat hingga belasan kali lipat dibandingkan menjual komoditas mentah. "Inilah yang menjadi dorongan utama kami untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global," tambahnya.
Peta Jalan PembangunanFasilitas yang ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap pada akhir 2028 ini mencakup beberapa unit produksi kunci. Yaitu, pabrik margarin dan shortening berkapasitas 40.000 ton per tahun, serta pabrik pengganti lemak cokelat (Cocoa Butter Equivalent dan Substitute) sebesar 34.000 ton per tahun. Kemudia, pembangunan pabrik biodiesel berkapasitas 450.000 ton per tahun untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Selain aspek industri, proyek ini diproyeksikan menyerap sekitar 2.900 tenaga kerja, mulai dari fase konstruksi hingga operasional penuh. Hal ini diharapkan mampu memicu efek berganda (multiplier effect) bagi sektor logistik dan UMKM di sekitar wilayah Sumatra Utara. (Hym/P-3)





