jpnn.com, JAKARTA - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengadakan silaturahmi Idulfitri dengan para Kepala Desa dari desa penyangga Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Menhut didampingi Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Pangdam XXI Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Kapolda Lampung Irjen Helfi Assegaf, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, dan unsur Forkopimda setempat.
BACA JUGA: Menhut Raja Juli Mengenang Kepergian Prof Birute Mary, Peneliti Orangutan Dunia
Menhut menyosialisasikan rencana proyek percontohan pembiayaan berkelanjutan di TNWK, yang diharapkan akan adanya pemberdayaan masyarakat lokal serta meningkatkan dampak positif dari konservasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati nasional.
Dia juga melakukan soft launching pembatas (barrier) di TNWK yang disiapkan sebagai wujud komitmen Presiden Prabowo Subianto, untuk melindungi masyarakat dari konflik manusia-gajah.
BACA JUGA: Soal Percepatan Penerbitan Perhutanan Sosial, Menhut: Itu Arahan Presiden Prabowo
Menhut Raja Antoni mengatakan Presiden Prabowo menaruh perhatian khusus terhadap Taman Nasional Way Kambas dalam kelestarian habitat dan populasi gajah Sumatra hingga penanganan konflik manusia-gajah. Terlebih diketahui, gajah merupakan salah satu binatang yang paling disayang oleh Presiden Prabowo.
“Seperti yang kita ketahui, Bapak Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap Taman Nasional Way Kambas, Gajah merupakan salah satu hewan kesayangan beliau, komitmen Presiden Prabowo dalam menjaga populasi gajah dan mengakhiri secara permanen konflik manusia-gajah,” ujar Raja Antoni.
BACA JUGA: Menhut Cek PLG Sebanga & Minas, Pastikan Koridor Gajah di Riau Segera Tersambung
Menhut menjelaskan selama puluhan tahun, sebagian besar dari 57 taman nasional Indonesia bergantung pada alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang kerap belum mencukupi kebutuhan operasional dan pemulihan ekosistem.
Ancaman perambahan hutan, perburuan liar, kebakaran, dan konflik satwa-manusia masih terus terjadi, sementara kapasitas pengawasan dan pengelolaan kawasan belum sepenuhnya ideal.
Kondisi inilah yang mendorong Presiden Prabowo Subianto membentuk Satgas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional dengan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sebagai Wakil Ketua, dan Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Pangestu sebagai Ketua Bersama, sebagaimana diumumkan pekan lalu di Istana Merdeka.
TNWK dipilih sebagai proyek percontohan pertama untuk implementasi mekanisme pembiayaan iklim inovatif seperti obligasi keanekaragaman hayati, kredit karbon melalui pasar karbon sukarela internasional, serta penguatan pariwisata konservasi (ecotourism) yang menjangkau berbagai segmen pengunjung.
Proyek percontohan ini menandai pergeseran pendekatan dalam pengelolaan kawasan konservasi. Dari model yang sepenuhnya mengandalkan negara dan organisasi nonpemerintah, menuju model pembiayaan campuran (blended finance) yang melibatkan sektor swasta dan pasar modal hijau, dengan tujuan utama tetap menjaga hutan dan keanekaragaman hayati di taman nasional.
TNWK merupakan habitat penting bagi gajah Sumatra, badak Sumatra, dan harimau Sumatra yang berstatus kritis menurut IUCN. Saat ini TNWK menghadapi berbagai tantangan, seperti spesies invasif, kebakaran hutan berulang, fragmentasi habitat, perburuan ilegal, serta konflik manusia dengan gajah.
Melalui skema karbon, perusahaan yang ingin mengimbangi emisi dapat membeli kredit karbon yang dihasilkan dari upaya konservasi dan restorasi hutan di TNWK. Dana yang terkumpul akan digunakan kembali untuk mendukung operasional dan pemulihan ekosistem secara berkelanjutan. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 27 Tahun 2025 telah diterbitkan untuk memungkinkan proyek pasar karbon sukarela di taman nasional.
Raja Juli menjelaskan bahwa sesuai UU 32 Tahun 2024, pemanfaatan jasa lingkungan karbon di kawasan konservasi hanya dapat dilakukan pada zona pemanfaatan.
Oleh karena itu, harus ada penyesuaian zonasi untuk memungkinkan kegiatan karbon dilakukan di area yang paling tepat. Namun, beliau menegaskan bahwa penyesuaian zonasi bersifat sementara dan bertujuan untuk memperkuat kondisi habitat satwa liar di TNWK dan akan dikembalikan ke zona awal setelah kegiatan pemulihan dan perlindungan khusus selesai.
“Dalam merancang proyek ini, kami menargetkan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat dan keanekaragaman hayati TNWK yang tak ternilai harganya” kata Raja Juli.
"Untuk satwa liar yang terancam punah secara kritis, kami akan bekerja sama dengan mitra swasta untuk menanam kembali pohon endemik sebagai habitatnya, mencegah kebakaran hutan, meningkatkan ketersediaan sumber pakan bagi satwa liar, dan mengendalikan spesies invasif yang menjadi gangguan bagi kesejahteraan satwa liar," katanya.
Program pembiayaan berkelanjutan ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja konservasi sekaligus mendorong pembangunan lokal melalui kemitraan dengan sektor swasta. Kegiatan karbon akan melibatkan masyarakat setempat dalam kegiatan penanaman kembali dan menjaga hutan serta memperoleh manfaat dari setiap kredit karbon yang dihasilkan.
Proyek percontohan ini juga mencakup pengembangan pariwisata konservasi berkelanjutan, baik yang berkelas dunia maupun berbasis masyarakat. Pendekatan tersebut dimaksudkan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar sekaligus menggerakkan sumber daya untuk menjaga kelestarian alam TNWK dengan lebih baik.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif ini.
“Jika kita ingin hasil konservasi meningkat, maka taman nasional harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Tentunya, ini menjadi kehormatan dan kebanggaan bagi kami atas perhatian Presiden yang luar biasa terhadap masyarakat di sekitar TNWK, dan diharapkan dapat menjadi contoh bagi taman nasional lainnya,” katanya
Keberhasilan model ini diharapkan dapat ditiru di taman nasional lain di seluruh Indonesia. “Harapan kami, masyarakat di sekitar Way Kambas menjadi yang pertama merasakan manfaat dari inovasi ini, bukan yang terakhir,” ujar Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Pangestu, salah satu Ketua Komite Pembiayaan Taman Nasional.
Pada kesempata itu Menhut Raja Juli melakukan soft launching pembangunan pembatas TNWK. Sistem pembatas yang dibangun guna melindungi masyarakat lokal dari gajah liar ini, akan diuji kekuatannya secara langsung menggunakan gajah pada beberapa hari kedepan.
TNWK memang unik di antara taman nasional Indonesia lainnya, karena hampir satu juta orang tinggal di area perbatasan taman nasional tanpa adanya zona penyangga. Oleh karena itu, konflik manusia dengan gajah menimbulkan kerugian ekonomi, keamanan, keselamatan, bahkan korban jiwa di masyarakat sekitar.
Bupati Lampung Timur, Ela Siti Nuryamah, menegaskan bahwa pembangunan pembatas tersebut merupakan kebutuhan mendesak yang telah lama diimpikan oleh masyarakat setempat.
“Masyarakat kami selama ini tidak hanya belum signifikan memperoleh manfaat dari keberadaan TNWK, tetapi juga terus menanggung dampak konflik dengan satwa liar. Kami sangat optimis bahwa proyek percontohan pembiayaan TNWK dan pembangunan sistem pembatas ini menandai era baru bagi masyarakat Lampung Timur, baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun konservasi alam,” ujarnya. (rhs/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kurir Perempuan Dibegal-Diperkosa, Polisi Tangkap Pelaku
Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti




