Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan anak usahanya PT Petrosea Tbk (PTRO) tengah menjajaki investasi pada perusahaan tambang Australia.
Sekretaris Perusahaan CUAN Robertus Maylando Siahaya menyampaikan, CUAN bersama PTRO telah mengajukan penawaran awal (binding offer) kepada Tolu Minerals Limited (TOLU) pada 16 Maret 2026. Penawaran ini sehubungan dengan rencana pembelian instrumen utang yang dapat dikonversi menjadi saham (convertible note) yang akan diterbitkan TOLU.
Dalam aksi tersebut, CUAN dan PTRO berencana mengambil bagian convertible note senilai A$ 23,75 juta. Instrumen ini nantinya dapat diubah menjadi kepemilikan saham di TOLU dengan porsi minimal 4,99% dari total modal yang telah ditempatkan dan disetor.
TOLU merupakan perusahaan eksplorasi dan pengembangan emas serta tembaga yang tercatat di Australian Securities Exchange (ASX) dengan kode TOK. Perusahaan ini berfokus pada pengembangan aset tambang berpotensi tinggi di Papua Nugini.
TOLU kini tengah mengembangkan proyek tambang emas Tolukuma di Papua Nugini yang ditargetkan segera memasuki tahap produksi dalam waktu dekat. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan sejumlah proyek eksplorasi di kawasan Pacific Ring of Fire, yang dikenal sebagai wilayah dengan kandungan emas dan tembaga.
Apabila transaksi ini rampung, CUAN dan PTRO akan menjadi pemegang saham, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kepemilikan sekitar 4,99% di TOLU.
“Transaksi ini mendukung tujuan strategis perusahaan dalam menumbuhkan basis aset dan pengembangan usahanya, yang pada gilirannya mendorong penciptaan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan,” kata Robertus.
Adapun Mirae Asset Sekuritas Indonesia menargetkan saham CUAN naik secara bertahap, yakni menuju target harga pertama Rp 1.400, kemudian Rp 1.485 dan Rp 2.110. Sedangkan level support CUAN berada di area Rp 1.280 dan Rp 1.140.
Adapun pada penutupan perdagangan saham hari ini, Kamis (26/3) saham CUAN ditutup turun 4,26% ke Rp 1.125 dengan kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 126,47 triliun.
CUAN sebelumnya menargetkan kontribusi PT Petrosea Tbk (PTRO) terhadap pendapat perusahaan dapat mencapai 50% pada tahun ini, terutama setelah mengakuisisi Grup Hafar dan HBS.
“Pertumbuhan ini sejalan dengan peningkatan energi organik perusahaan, perkembangan backlog dan penggabungan kinerja penuh dari kedua entitas tersebut,” ujar Direktur CUAN Kartika Hendrawan dalam paparan publik virtual, November 2025 lalu.
Namun, menurut dia, komposisi pendapatan grup akan menjadi lebih seimbang pada 2028 seiring beroperasinya pembangkit listrik yang dikelola oleh PT Vola Daya Energi Indonesia. Kontribusi Petrosea terhadap total pendapatan CUAN diperkirakan menurun menjadi sekitar sepertiga.
Menurutnya, perubahan ini mencerminkan strategi diversifikasi bisnis CUAN agar sumber pendapatannya tidak lagi bergantung pada satu entitas atau sektor saja, melainkan berasal dari berbagai lini usaha meliputi pertambangan, energi, jasa pertambangan serta jasa pendukung lainnya.
“Sehingga memberikan fondasi pertumbuhan yang lebih stabil dan berkelanjutan bagi grup,” kata dia.




