1.900 Kapal Komersial Masih Tertahan di Selat Hormuz sejak AS-Israel Serang Iran

suarasurabaya.net
19 jam lalu
Cover Berita

Sekitar 1.900 kapal komersial dilaporkan masih tertahan di kawasan Selat Hormuz, khususnya di Teluk Persia, sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Sejak konflik memanas, Iran secara efektif membatasi akses di jalur vital tersebut, terutama bagi kapal-kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel.

Dampaknya, lalu lintas maritim global terganggu dan banyak kapal yang tidak dapat melanjutkan pelayaran. Sehingga, memilih menurunkan jangkar di perairan terbuka.

Mengutip laporan Anadolu, Kamis (26/3/2026), Teheran sudah menegaskan bahwa kapal dari negara selain AS dan Israel masih diperbolehkan melintas, selama tidak terlibat dalam agresi terhadap Iran dan tetap mematuhi aturan keselamatan yang berlaku.

Ebrahim Zolfaqari Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya menyatakan, Iran telah mengubah aturan pelayaran di Selat Hormuz dan menegaskan situasi tidak akan kembali seperti sebelum perang.

Dia juga menekankan, entitas yang terikat dengan AS dan Israel tidak memiliki wewenang untuk melintas di kawasan tersebut.

Sementara, data dari MarineTraffic menunjukkan sekitar 1.900 kapal tidak bergerak di sekitar Selat Hormuz pada periode 20–22 Maret 2026.

Kapal-kapal itu terdiri dari berbagai jenis, mulai dari kapal pengangkut barang curah, produk minyak dan kimia, hingga tanker minyak mentah dan kapal kontainer.

Perusahaan analisis energi Vortexa memperkirakan sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk petroleum saat ini tertahan di kapal-kapal tanker di wilayah tersebut.

Situasi itu juga berdampak langsung pada industri pelayaran global. Perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, melaporkan enam kapalnya tidak dapat beroperasi di Teluk Persia di tengah ketegangan yang terus meningkat.

Filipe Gouveia Direktur analisis maritim Baltic and International Maritime Council menyebut, dampak penghentian lalu lintas ini terhadap tarif angkutan laut sangat bergantung pada durasi penutupan selat, perkembangan harga bahan bakar, serta jumlah kapal yang diizinkan melintas oleh Iran.

Dia mencatat sejak 27 Februari, Indeks Tanker Kotor Baltik naik 49 persen, sementara Indeks Tanker Bersih Baltik melonjak hingga 78 persen per 20 Maret. Tarif pengiriman kontainer juga ikut terdorong naik akibat kenaikan biaya bahan bakar dan penerapan biaya tambahan darurat.

Dalam kondisi normal, Selat Hormuz menjadi jalur krusial bagi perdagangan global. Sekitar 30 persen ekspor minyak dunia melalui jalur laut, empat persen kargo curah kering, dan 3 persen volume kontainer melintasi selat itu.

Namun, terbatasnya jalur alternatif membuat gangguan di kawasan tersebut sulit diantisipasi, sehingga berpotensi memperpanjang tekanan terhadap rantai pasok global dan harga energi dunia. (mar/bil/rid)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puncak Arus Balik di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Diprediksi Terjadi 27-29 Maret 2026
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Purbaya Sebut Kebijakan WFH Tak Ganggu Produktivitas Ekonomi Nasional
• 10 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Pemerintah Siapkan Kenaikan HPM Nikel, Penerimaan Negara dari Sektor Tambang Bakal Meningkat
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo Bertemu Ray Dalio di Istana, Promosikan Proyek RI ke Pasar Asing
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Prospek Emiten Unggas, Intip Proyeksi CPIN dan JPFA
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.