Pada momen Idul Fitri 1447 Hijriah, halaman kediaman Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Jawa Barat, dipenuhi suasana Lebaran yang hangat. Para kader Partai Demokrat bersalaman, bertukar kabar, dan bersilaturahmi.
Di tengah suasana yang cair itulah, sosok Anies Baswedan hadir. Kehadirannya, Sabtu (21/3/2026) malam, seketika menyedot perhatian. Bukan hanya karena statusnya sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta dan calon presiden 2024, tetapi juga karena jejak relasinya dengan Partai Demokrat yang sempat menyisakan cerita tak tuntas.
Anies berbincang hangat dengan Yudhoyono dan putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Percakapan mengalir ringan, diselingi tawa. Dalam beberapa momen, Anies bahkan tampak akrab, sesekali memegang lengan Agus Harimurti, gestur kecil yang memberi kesan jarak lama itu mencair.
Berdasarkan cerita sejumlah kader Demokrat kepada Kompas, nama Anies tidak masuk dalam daftar undangan acara halalbihalal tersebut. Tak heran, para kader yang hadir terkejut dengan kemunculannya. Meski demikian, sebagai tuan rumah, keluarga besar Yudhoyono tetap menyambut Anies dengan santun.
Pertemuan ini tidak bisa dilihat hanya sebagai silaturahmi biasa. Ada upaya memunculkan kembali kemungkinan agar duet Anies–AHY tetap menjadi opsi yang hidup.
Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra enggan menanggapi soal apakah Anies diundang atau tidak. Ia hanya menegaskan bahwa saat itu merupakan momen gelar griya (open house) yang diselenggarakan Yudhoyono.
”Siapa saja yang datang untuk bersilaturahmi dengan beliau dan keluarga besar, tentu disambut dengan baik. Namanya momen Lebaran,” ujar Herzaky saat dihubungi di Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Seperti halnya tamu lain, Anies diterima dengan baik oleh Yudhoyono selaku tuan rumah. Agus Harimurti sebagai putra sulung turut mendampingi dan menyambut para tamu yang hadir. Dalam pertemuan itu, tidak ada pembicaraan khusus dengan pihak mana pun.
Herzaky menegaskan, Demokrat saat ini fokus menyukseskan program-program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serta menjalankan amanah yang diberikan. Menurut dia, arah koalisi partai juga tetap sejalan dengan pemerintahan yang ada saat ini.
”Jadi, jangan dispekulasikan ke mana-mana. Tidak perlu diartikan atau dibawa ke mana-mana. Apalagi sampai diarahkan ke rencana koalisi ke depan ataupun urusan pemilu. Kejauhan mikir-nya,” ucap Herzaky.
Senada dengan Herzaky, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Herman Khaeron berpandangan, momentum Idul Fitri menjadi saat yang tepat bagi umat Islam untuk saling memaafkan dan mendoakan kebaikan. Kehadiran Anies di Cikeas pun dinilai dalam konteks tersebut. ”Sepertinya tidak ada perbincangan lain. Ya, murni silaturahmi,” ucapnya.
Bagi juru bicara Anies, Sahrin Hamid, momentum silaturahmi Lebaran memang menjadi waktu untuk saling memaafkan dan bertemu sebagai bagian dari tradisi. Ia enggan berspekulasi terlalu jauh hingga dikaitkan dengan 2029. Namun, ia tak menampik jika pertemuan antara Anies dan Agus Harimurti dapat dimaknai beragam oleh publik.
”Tokoh politik, tokoh nasional, anak bangsa ketika bertemu tentu bisa ditafsirkan macam-macam. Tetapi kami melihat ini murni momentum Lebaran, sebatas itu. Tidak ada konteks politik, ini silaturahmi Lebaran biasa,” tutur Sahrin.
Jika menilik ke belakang, hubungan Anies dan AHY-Demokrat sempat merenggang. Pada fase krusial menjelang Pemilihan Presiden 2024, Koalisi Perubahan untuk Persatuan, yang terdiri dari Partai Demokrat, Partai Nasdem, dan Partai Keadilan Sejahtera, pecah setelah Anies dan Nasdem memilih berpasangan dengan Partai Kebangkitan Bangsa.
Anies yang sebelumnya digadang-gadang akan dipasangkan dengan AHY justru di menit-menit akhir berlabuh pada Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Anies dan Muhaimin memutuskan maju sebagai calon presiden-calon wakil presiden pada Pilpres 2024. Keputusan itu meninggalkan kekecewaan yang kala itu terbaca jelas di ruang publik.
Menurut Demokrat saat itu, keputusan tersebut diambil sepihak oleh Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dan disetujui Anies tanpa melibatkan Demokrat. Partai Demokrat pun merilis pernyataan resmi bahwa mereka merasa dikhianati karena adanya pelanggaran terhadap piagam koalisi.
Reaksi kader Demokrat di sejumlah daerah pun mencuat. Sejumlah baliho bergambar pasangan Anies-AHY diturunkan, bahkan dirusak sebagai bentuk kekecewaan. Partai Demokrat kemudian memutuskan keluar dari Koalisi Perubahan dan mencabut dukungan terhadap Anies.
Pada awal September 2023, Yudhoyono turut mengomentari situasi tersebut. Ia menilai langkah politik yang terjadi telah melampaui batas etika dan moral. ”Saya tidak naif, tidak pernah ada yang seperti ini. Politik itu memang penuh siasat taktik. Tetapi saya tidak menyangka, setelah setahun berjuang bersama, strateginya melewati batas moral dan etika dalam berpolitik,” ujarnya saat itu.
Seiring dinamika tersebut, Demokrat kemudian bergabung dengan Koalisi Indonesia Maju bersama Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, Partai Solidaritas Indonesia, Partai Bulan Bintang, Partai Gelora, dan Partai Garuda, yang mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia Arifki Chaniago menilai, pertemuan Anies dengan Yudhoyono dan AHY di Cikeas tidak semata silaturahmi Lebaran. Ia melihat, pertemuan itu juga memunculkan kembali wacana ”cinta lama bersemi”, sekaligus membuka peluang duet Anies-AHY pada Pilpres 2029.
Menurut Arifki, momentum halalbihalal kerap menjadi ruang komunikasi politik yang sarat makna di antara elite. Dalam konteks ini, pertemuan di Cikeas dinilai memiliki pesan simbolik untuk membuka kembali opsi kerja sama politik.
”Pertemuan ini tidak bisa dilihat hanya sebagai silaturahmi biasa. Ada upaya memunculkan kembali kemungkinan agar duet Anies–AHY tetap menjadi opsi yang hidup,” ucap Arifki.
Kedekatan Anies dengan Demokrat memiliki jejak panjang. Salah satunya terlihat saat Anies mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat pada 2014 di era kepemimpinan Yudhoyono. ”Artinya, hubungan Anies dengan Demokrat bukan hal baru. Sudah ada irisan sejarah politik sejak 2014,” kata Arifki.
Selain itu, pada Pilpres 2024, pasangan Anies–AHY sempat menjadi skenario utama sebelum batal pada tahap akhir. Hal ini, menurut Arifki, menunjukkan bahwa keduanya telah memiliki basis komunikasi politik yang terbangun.
Arifki berpandangan, peluang duet tersebut ke depan sangat bergantung pada dinamika politik, terutama posisi AHY dalam pemerintahan Presiden Prabowo. Di tengah cairnya komunikasi politik antarelite—termasuk antara Prabowo, Megawati Soekarnoputri, dan Joko Widodo—langkah membuka berbagai opsi dinilai sebagai strategi menjaga ruang politik.
”Jika Demokrat tidak mendapatkan ruang yang cukup di pemerintahan, kemungkinan membangun poros baru bersama Anies bisa kembali terbuka menjelang Pilpres 2029,” ujar Arifki.
Di sisi lain, ada tantangan terbesar duet tersebut yang terletak pada ambisi politik setiap tokoh. Baik Anies maupun AHY dinilai memiliki posisi tawar sebagai calon presiden. ”Ini yang perlu dicarikan titik temu. Namun, dalam politik, kompromi selalu mungkin terjadi jika kepentingannya bertemu,” kata Arifki.
Arifki juga menilai lokasi pertemuan di kediaman Yudhoyono memiliki arti tersendiri. Cikeas kerap menjadi ruang penting dalam pembacaan arah politik Partai Demokrat. ”Kalau pertemuan ini berlangsung hangat, artinya komunikasi politik tidak hanya terbuka, tetapi juga memiliki ruang yang cukup serius,” ucapnya.
Arifki berpendapat, pertemuan tersebut memang belum dapat dimaknai sebagai keputusan politik. Namun, cukup kuat untuk dibaca sebagai langkah awal dalam membuka kemungkinan kembalinya duet Anies–AHY pada Pilpres 2029.
Pada akhirnya, pertemuan di Cikeas bisa jadi hanya silaturahmi Lebaran. Namun, dalam politik, isyarat kerap muncul dari momen sederhana. Ke mana arahnya, waktu yang akan menjawab.





