Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, pada Jumat (27/3) siang, ramai pemudik yang kembali ke Jakarta usai Lebaran. Di antara mereka, Umu Aqila (43) berdiri bersama anaknya sambil menunggu transportasi jemputan.
Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap menyisakan senyum khas orang yang baru saja melepas rindu di kampung halaman.
Bagi Umu, mudik bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia selalu menyempatkan pulang ke Majalengka setiap Lebaran, terutama karena orang tuanya masih tinggal di sana.
Momen itu menjadi waktu penting untuk berkumpul bersama keluarga dan kerabat yang jarang ditemui.
“Setiap tahun pasti mudik, soalnya orang tua masih ada di sana,” kata Umu saat ditemui kumparan.
Tahun ini, Umu menghabiskan waktu sekitar sepekan di kampung. Durasi itu sebenarnya harus disesuaikan dengan jadwal anaknya yang sudah kembali kuliah. Meski terasa singkat, ia tetap berusaha memaksimalkan waktu bersama keluarga.
Namun, mudik kali ini tak sepenuhnya berjalan mulus. Saat berada di kampung, rumahnya di Ciracas, Jakarta Timur, sempat terdampak banjir pada saat Lebaran, Sabtu (21/3). Air bahkan sempat masuk ke dalam rumah, sesuatu yang jarang terjadi sebelumnya.
Di tengah kondisi itu, Umu tetap melanjutkan mudiknya. Suaminya diminta pulang lebih dulu untuk membersihkan sisa banjir di rumahnya.
“Biasanya nggak banjir, cuma kemarin sempat masuk ke dalam. Jadi suami disuruh pulang duluan buat bersihin rumah,” ujarnya.
Perjalanan mudik Umu sendiri tergolong lancar. Ia memilih menggunakan bus karena dinilai lebih cepat dibandingkan moda transportasi lain.
Saat berangkat dari Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, di waktu subuh atau sekitar pukul 4 pagi dan tiba di Majalengka sekitar 4 jam kemudian. Sementara perjalanan kembali ke Jakarta ditempuh sekitar 5 jam.
Meski di momen Ramadan dan Idul Fitri, harga tiket bus yang ia bayarkan tahun ini tidak mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tiketnya Rp 130 ribu per orang, sama kayak tahun kemarin. Paling bedanya kalau lagi momen Lebaran gini ya nggak kayak biasanya (harga tiket),” kata dia.
Kini, setelah kembali ke Jakarta, Umu harus kembali menghadapi rutinitas harian. Ia mengaku langsung merasakan perbedaan suasana yang cukup kontras dibandingkan kampung halamannya.
“Pas pulang ke Jakarta ya gitu deh, panas,” ujarnya sambil tertawa.
“Di sana segar, adem. Sampai sini ya balik lagi ke sehari-hari.” lanjutnya.
Meski begitu, Umu tak pulang dengan tangan kosong. Ia membawa oleh-oleh khas dari Majalengka untuk dibagikan ke tetangga di rumahnya.
“Bawa opak biasanya, buat bagi-bagi ke tetangga,” ucapnya.
Bagi Umu, mudik mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun waktu tersebut terasa cukup untuk melepas rindu dengan keluarga di kampung halaman.





