Jakarta (ANTARA) - BINUS University memperkuat peran strategisnya dalam mendorong kolaborasi global melalui rangkaian konferensi internasional sepanjang 2026 yang menghubungkan akademisi, industri, dan pembuat kebijakan di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, khususnya Korea.
"Pada akhir tahun, BINUS juga menyiapkan konferensi internasional di bidang pariwisata dan ekonomi bersama Pemerintah Indonesia, dengan fokus pada hubungan Indonesia-Korea," kata Wakil Rektor Riset dan Transfer Teknologi BINUS University, Prof. Juneman Abraham dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, konferensi internasional di bidang pariwisata dan ekonomi ini akan memperluas cakupan pembahasan dari isu akademik ke potensi kerja sama ekonomi, industri, dan pengembangan sektor strategis yang relevan bagi Indonesia dan Korea.
Ia mengatakan bahwa BINUS menggelar konferensi internasional sepanjang 2026 dan diawali dengan penyelenggaraan ICOBAR (International Conference of Biospheric Harmony and Advanced Research) 2026 pada Februari lalu, yang digelar bersama Korean Institute of Information Technology (KIIT).
Konferensi ini menghadirkan ratusan kontribusi riset global yang membahas isu teknologi, tata kelola, bisnis, hingga keberlanjutan, sebagai upaya mendorong inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Momentum tersebut kata Juneman, dilanjutkan pada Kamis (26/3), dengan kolaborasi bersama podcast Endgame yang dibawakan oleh mantan Gita Wirjawan, untuk mendatangkan kunjungan Prof. Gi-Wook Shin, William J. Perry Professor of Contemporary Korea dan profesor sosiologi dari Stanford University.
Dalam agenda ini, BINUS menggelar diskusi publik mengenai brain circulation dan masa depan talenta Indonesia, sekaligus memperkenalkan buku terbaru Prof. Shin berjudul “The Four Talent Giants”.
Juneman mengungkapkan bahwa kolaborasi BINUS dan Endgame yang turut melibatkan Stanford University ini merupakan upaya strategis BINUS University untuk menjawab tantangan mobilitas intelektual yang tengah bergejolak di kalangan muda.
"Fenomena seperti ‘Kabur Aja Dulu’ tidak bisa dilihat sekadar sebagai tren, tetapi juga sebagai refleksi dari kebutuhan akan ekosistem yang lebih mendukung," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa yang perlu didorong bukan sekadar perpindahan talenta, tetapi brain circulation yang memberdayakan, agar talenta Indonesia tetap memiliki peran dan kontribusi bagi penguatan ekosistem nasional.
Kolaborasi BINUS dengan podcast Endgame bertujuan untuk mendukung penyebaran gagasan akademik ke ruang publik yang lebih luas. Kolaborasi ini mencakup dukungan media, penguatan komunikasi publik, serta pengembangan talenta.
Setelah agenda diskusi publik ini, BINUS akan melanjutkan rangkaian tersebut melalui WE ARE Student Conference (International) pada kuartal tiga. Forum ini diarahkan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mempresentasikan riset, ide, dan solusi dari berbagai perspektif global.
"Melalui Visi BINUS 2035, kita berkomitmen untuk tidak sekadar melepas lulusan ke pasar kerja, tetapi juga membangun ekosistem riset inklusif agar inovasi tidak sebatas menjadi komoditas asing, melainkan kekuatan nyata milik bangsa yang mampu membina dan memberdayakan Talenta Indonesia yang lebih manusiawi, suportif, dan bermartabat dalam perputaran peluang antarbangsa dan antarwilayah,” ujar Prof. Juneman.
Baca juga: BINUS University perkuat kolaborasi riset Indonesia-Korea
Baca juga: Talenta muda Asia Tenggara di bidang investasi berlaga di Startup Wars
Baca juga: APLN gandeng Binus hadirkan Satu University di Podomoro Park Bandung
"Pada akhir tahun, BINUS juga menyiapkan konferensi internasional di bidang pariwisata dan ekonomi bersama Pemerintah Indonesia, dengan fokus pada hubungan Indonesia-Korea," kata Wakil Rektor Riset dan Transfer Teknologi BINUS University, Prof. Juneman Abraham dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, konferensi internasional di bidang pariwisata dan ekonomi ini akan memperluas cakupan pembahasan dari isu akademik ke potensi kerja sama ekonomi, industri, dan pengembangan sektor strategis yang relevan bagi Indonesia dan Korea.
Ia mengatakan bahwa BINUS menggelar konferensi internasional sepanjang 2026 dan diawali dengan penyelenggaraan ICOBAR (International Conference of Biospheric Harmony and Advanced Research) 2026 pada Februari lalu, yang digelar bersama Korean Institute of Information Technology (KIIT).
Konferensi ini menghadirkan ratusan kontribusi riset global yang membahas isu teknologi, tata kelola, bisnis, hingga keberlanjutan, sebagai upaya mendorong inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Momentum tersebut kata Juneman, dilanjutkan pada Kamis (26/3), dengan kolaborasi bersama podcast Endgame yang dibawakan oleh mantan Gita Wirjawan, untuk mendatangkan kunjungan Prof. Gi-Wook Shin, William J. Perry Professor of Contemporary Korea dan profesor sosiologi dari Stanford University.
Dalam agenda ini, BINUS menggelar diskusi publik mengenai brain circulation dan masa depan talenta Indonesia, sekaligus memperkenalkan buku terbaru Prof. Shin berjudul “The Four Talent Giants”.
Juneman mengungkapkan bahwa kolaborasi BINUS dan Endgame yang turut melibatkan Stanford University ini merupakan upaya strategis BINUS University untuk menjawab tantangan mobilitas intelektual yang tengah bergejolak di kalangan muda.
"Fenomena seperti ‘Kabur Aja Dulu’ tidak bisa dilihat sekadar sebagai tren, tetapi juga sebagai refleksi dari kebutuhan akan ekosistem yang lebih mendukung," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa yang perlu didorong bukan sekadar perpindahan talenta, tetapi brain circulation yang memberdayakan, agar talenta Indonesia tetap memiliki peran dan kontribusi bagi penguatan ekosistem nasional.
Kolaborasi BINUS dengan podcast Endgame bertujuan untuk mendukung penyebaran gagasan akademik ke ruang publik yang lebih luas. Kolaborasi ini mencakup dukungan media, penguatan komunikasi publik, serta pengembangan talenta.
Setelah agenda diskusi publik ini, BINUS akan melanjutkan rangkaian tersebut melalui WE ARE Student Conference (International) pada kuartal tiga. Forum ini diarahkan sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mempresentasikan riset, ide, dan solusi dari berbagai perspektif global.
"Melalui Visi BINUS 2035, kita berkomitmen untuk tidak sekadar melepas lulusan ke pasar kerja, tetapi juga membangun ekosistem riset inklusif agar inovasi tidak sebatas menjadi komoditas asing, melainkan kekuatan nyata milik bangsa yang mampu membina dan memberdayakan Talenta Indonesia yang lebih manusiawi, suportif, dan bermartabat dalam perputaran peluang antarbangsa dan antarwilayah,” ujar Prof. Juneman.
Baca juga: BINUS University perkuat kolaborasi riset Indonesia-Korea
Baca juga: Talenta muda Asia Tenggara di bidang investasi berlaga di Startup Wars
Baca juga: APLN gandeng Binus hadirkan Satu University di Podomoro Park Bandung





