Risiko Geopolitik Global Menghantui, Perbankan Perketat Prudential Measures

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Industri perbankan nasional meningkatkan penguatan kerangka manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian (prudential banking) di tengah meningkatnya risiko global, dipicu eskalasi konflik Iran–Israel yang melibatkan Amerika Serikat dan berpotensi menekan stabilitas harga komoditas strategis, khususnya minyak mentah.

Ketua Umum Perbanas yang juga Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menegaskan bahwa meskipun volatilitas eksternal meningkat, indikator fundamental perbankan domestik masih berada pada level yang solid. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, likuiditas yang memadai, serta permodalan yang kuat.

Baca Juga :
Kisah 'Ayam Panggang Bu Setu', Usaha Kuliner Favorit Magetan yang Sukses Berkat 35 Tahun Rasakan Pemberdayaan BRI
Strategi Biro Klasifikasi Indonesia Perkuat Kolaborasi Industri Maritim Global

“Kami melihat risiko global meningkat, terutama melalui transmisi kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan. Dalam konteks ini, perbankan akan semakin memperkuat prinsip kehati-hatian melalui penguatan manajemen risiko dan kualitas aset,” ujar Hery dikutip Sabtu, 28 Maret 2026.

Perbanas mencatat sejumlah langkah mitigasi telah dan terus diperkuat oleh industri perbankan di Tanah Air. Beberapa langkah tersebut di antaranya melalui stress test sektoral dan penguatan early warning system untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit. Adapun stress test sektoral dilakukan pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi seperti transportasi, logistik, dan manufaktur.

Selain itu, lanjut Hery, perbankan juga meningkatkan disiplin penyaluran kredit melalui pendekatan risk-based pricing, menjaga kecukupan likuiditas melalui optimalisasi rasio liquidity coverage ratio (LCR) dan net stable funding ratio (NFSR), serta mengelola eksposur nilai tukar secara lebih konservatif melalui strategi lindung nilai dan pengendalian posisi devisa neto.

“Langkah-langkah ini penting untuk memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek stabilitas, khususnya di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi,” tambahnya. Dengan bauran kebijakan tersebut, industri perbankan diharapkan tetap resilien dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi domestik, meskipun tekanan eksternal berpotensi meningkat dalam jangka pendek hingga menengah. (LAN)

Baca Juga :
BRI Konsisten Dukung Program Perumahan Nasional, Salurkan KPR Subsidi Rp16,79 Triliun hingga Februari 2026
Berawal dari Baso Aci Rumahan, Tercabaikan Kembangkan Kuliner Tradisional Modern lewat Pemberdayaan BRI
Suntik Lagi Perbankan Rp 100 Triliun, Menkeu Purbaya: Kita Jaga Likuiditas Sistem Keuangan dengan Serius

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Pastikan Kebijakan WFH Tidak Ganggu Produktivitas Nasional dan Berpotensi Hemat Energi
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Kejagung Ungkap Peran Taipan Samin Tan di Kasus Korupsi Tambang Kalteng
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Tinggi Gelombang 2,5 Meter Berpotensi Landa Perairan Bali
• 15 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Menkomdigi Tegaskan Kepatuhan Platform Digital terhadap PP Tunas, Apresiasi X dan Bigo Live
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
Kenapa Sistem Kesehatan Terfragmentasi Bisa Berbahaya? Ini Solusi yang Mulai Dilirik Asia
• 20 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.