Gereja Anglikan Inggris kini dipimpin oleh seorang Uskup Agung perempuan. Dia adalah Sarah Mullally, yang baru saja dilantik sebagai Uskup Agung Canterbury (Archbishop of Canterbury) ke-106 pada Rabu (25/3) lalu.
Pemilihan Sarah Mullally sebagai Uskup Agung Canterbury mencetak sejarah, Ladies. Sebab, untuk pertama kalinya dalam 1.400 tahun, Gereja Inggris dipimpin oleh seorang pendeta perempuan. Sebagai Uskup Agung Canterbury, Sarah Mullally menjadi pemimpin spiritual 85 juta umat Kristen Anglikan di seluruh dunia.
Sarah Mullally telah ditunjuk sebagai Uskup Agung Canterbury sejak Oktober 2025 lalu. Keabsahan penunjukan Sarah dikonfirmasi pada Januari 2026 dan resmi dilantik pada 25 Maret 2026, satu hari sebelum ulang tahun Sarah yang ke-64.
Pelantikan Sarah di Gereja Katedral Canterbury, Inggris, dihadiri oleh setidaknya 2.000 jemaat, termasuk Pangeran William dan Putri Catherine (Kate Middleton).
Dilansir Reuters, di hari pelantikan, Sarah memakai sebuah cincin yang diberikan oleh Paus Paulus VI kepada pendahulunya, Michael Ramsey, pada 1966. Cincin tersebut adalah simbol perbaikan hubungan antara Kristen Anglikan dan Katolik, lima abad setelah Raja Henry VIII memisahkan Gereja Inggris dari Gereja Katolik Roma.
“Sembari saya melihat hidup saya ke belakang, ke arah Sarah remaja yang menempatkan imannya pada Tuhan dan berkomitmen penuh untuk mengikuti Yesus, saya dulu tak pernah membayangkan masa depan yang ada di hadapan saya,” ucap Sarah, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Profil Sarah MullallySarah lahir pada 26 Maret 1962 dengan nama Sarah Elisabeth Bowser. Ia tumbuh besar dalam keluarga kelas menengah di Woking, Inggris. Sarah mengikuti Ibadah Konfirmasi di Gereja Inggris pada usia 16 tahun. Keimanan kuat mendorong Sarah untuk memilih keperawatan sebagai kariernya.
Membaca dan menulis menjadi tantangan sendiri bagi Sarah, mengingat dirinya memiliki kondisi disleksia. Meski begitu, kondisinya tidak menghentikan Sarah untuk menimba ilmu.
Sarah berkuliah di South Bank Polytechnic dan Heythrop College University of London. dia bertemu pria bernama Eamonn Mullally. Keduanya pun rajin melakukan ibadah bersama di gereja. Pada 1987, Sarah dan Eamonn memutuskan untuk menikah. Mereka dikaruniai dua anak, yaitu Liam dan Grace.
Karier sebagai perawatSarah mengawali karier sebagai perawat di National Health Service Inggris dan berfokus sebagai perawat kanker. Dia kemudian menjadi perawat di Westminster Hospital dan diangkat sebagai Direktur Keperawatan di Chelsea and Westminster Hospital, London.
Pada 1999, di usia 37 tahun, Sarah Mullally diangkat sebagai Kepala Keperawatan Inggris di Departemen Kesehatan. Sarah kala itu menjadi orang termuda yang pernah menduduki posisi tersebut. Berkat kontribusinya dalam bidang keperawatan, Kerajaan Inggris menganugerahi gelar kesatria Dame Commander of the British Empire pada 2005.
Mengabdi pada TuhanSelama bekerja sebagai perawat, Sarah Mullally mendengar panggilan Tuhan untuk pelayanan dan mendalami teologi. Ia pun menjalani pendidikan di South East Institute for Theological Education dan ditahbiskan sebagai pendeta pada 2001. Pada 2004, Sarah mengundurkan diri dari jabatan Kepala Perawat di pemerintahan.
Pada 2012, dia dilantik sebagai Canon Treasurer di Katedral Salisbury. Tiga tahun kemudian, Sarah dilantik menjadi Uskup Sufragan Crediton di Dioses Exeter. Dia menjadi perempuan keempat yang memegang posisi sebagai seorang Uskup.
Di 2018, Sarah dilantik sebagai Uskup London, salah satu jabatan gerejawi paling senior di Gereja Inggris setelah Uskup Canterbury dan York. Sarah pun menjadi Uskup London perempuan pertama.
Dilansir situs resmi Archbishop of Canterbury, pada 2018 Sarah ditunjuk sebagai anggota parlemen di Majelis Tinggi (House of Lords) Inggris sebagai salah satu jajaran Lords Spirituals. Di tahun yang sama, dia menjadi anggota Dewan Penasihat (Privy Council) Kerajaan Inggris dan memegang posisi Dean of Her Majesty’s Chapels Royals, pimpinan untuk kapel keluarga kerajaan, di 2019.
Sarah Mullally dideskripsikan sebagai sosok yang progresif. Penunjukan Sarah sempat memicu penolakan, terutama dari kelompok Anglikan konservatif di negara-negara Afrika dan Asia yang berpendapat bahwa hanya laki-laki yang bisa menjadi imam. Tugas Sarah sebagai Uskup Agung Canterbury pun cukup berat, karena harus menyatukan Gereja Anglikan yang penuh perbedaan.
“Saya ingin menjadi gembala yang membuka jalan agar panggilan dan pelayanan seluruh umat dapat berkembang, apa pun itu tradisi kita. Hari ini, saya berterima kasih kepada seluruh perempuan dan laki-laki yang telah membuka jalan untuk momen ini. Dan untuk seluruh perempuan yang sudah lebih dulu di depan saya, terima kasih atas dukungan dan inspirasi Anda,” kata Sarah saat penunjukan tahun lalu, dikutip dari NBC.
Sarah menggantikan posisi pendahulunya, Justin Welby, yang mengundurkan diri pada Januari 2025. Dilansir ABC, Justin mengundurkan diri akibat penanganan kasus pelecehan seksual di lingkup gereja yang kurang tepat.
Mengacu pada kasus tersebut, Sarah berjanji akan memperbaiki penanganan kekerasan seksual. Di bawah kepemimpinan Sarah, gereja akan mendengarkan para penyintas dan membangun ruang aman dan sejahtera bagi kelompok rentan.





