BYD Terpukul Kompetisi, Laba Tahunan Menyusut Imbas Perang Harga

bisnis.com
16 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Produsen mobil listrik terbesar asal China, BYD, mencatat penurunan laba tahunan untuk pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir. Kinerja perusahaan tertekan oleh perang harga di pasar domestik serta melemahnya permintaan, meski ekspansi luar negeri masih mencatat pertumbuhan.

Chairman BYD, Wang Chuanfu mengakui bahwa persaingan industri kendaraan energi baru semakin intensif dan memasuki fase seleksi ketat. Alhasil, perusahaan akan mempercepat ekspansi global sebagai strategi utama pertumbuhan. 

"Kami juga menyadari bahwa persaingan di industri [kendaraan energi baru] telah mencapai puncaknya, dan sedang mengalami 'tahap eliminasi' yang brutal," ujarnya mengutip Reuters pada Sabtu (28/3/2026).

Dalam laporan keuangan terbarunya, BYD membukukan laba bersih 32,6 miliar yuan atau sekitar US$4,72 miliar, turun 19% secara tahunan (year-on-year/YoY). Penurunan tersebut lebih dalam dari proyeksi analis yang memperkirakan koreksi sekitar 12,1%.

Dari sisi pendapatan, pertumbuhan hanya mencapai 3,5% atau menjadi laju paling lambat dalam 6 tahun terakhir. Pada saat yang sama, perusahaan juga memangkas jumlah tenaga kerja sebesar 10,2% menjadi 869.622 orang hingga akhir 2025.

Secara kuartalan, tekanan kinerja terlihat lebih dalam. Laba kuartal IV/2025 anjlok 38,2% menjadi 9,3 miliar yuan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus menjadi penurunan selama tiga kuartal berturut-turut.

Baca Juga

  • Harga BBM Melonjak, Dealer BYD hingga Vinfast Diserbu Konsumen
  • Pasar Mobil Listrik Kian Sengit, Jaecoo Menantang Dominasi BYD
  • Balapan Penjualan Mobil China Februari 2026: BYD Geser Jaecoo & Wuling

Margin laba kotor dari bisnis kendaraan dan produk terkait yang menyumbang sekitar 80,7% pendapatan turun menjadi 20,5%. Angka tersebut melemah 1,8 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya seiring meningkatnya diskon harga.

BYD sebelumnya mengandalkan model terjangkau dari seri Dynasty dan Ocean. Namun, pangsa pasar mulai tergerus setelah pesaing seperti Leapmotor dan Geely menawarkan produk dengan teknologi dan harga yang lebih kompetitif.

Tekanan juga datang dari perubahan kebijakan subsidi kendaraan listrik di China yang lebih menguntungkan model dengan harga lebih tinggi. Sementara itu, kendaraan dengan banderol di bawah 150.000 yuan masih menyumbang lebih dari 60% penjualan domestik BYD.

Untuk mendorong pemulihan, BYD akan meluncurkan 11 model baru dengan teknologi pengisian daya lebih cepat serta memperluas jaringan fast charging. Perusahaan juga mengandalkan pertumbuhan pasar luar negeri yang dinilai memiliki tingkat profitabilitas lebih tinggi dibandingkan pasar domestik.

"Fokus pada peningkatan teknologi akan membantu mendorong daya saing dibandingkan harga, sementara penjualan di luar negeri dan lokalisasi tetap menjadi fokus utama pertumbuhan tahun ini," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Pastikan Haji 2026 Tetap Berjalan Meski Konflik Timur Tengah Memanas
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Pria di Medan Tusuk Tetangga Cuma Gara-gara Terkena Debu Sapu
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Gubernur Khofifah Teken Kerja Sama Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
OECD Ramal Ekonomi Global Tumbuh 2,9% pada 2026
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Jepang Perketat Syarat Naturalisasi WNA, Masa Tinggal Minimal Jadi 10 Tahun
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.