Hari Pertama Usai Lebaran: Halte TransJakarta Padat, Macet di Mana-mana

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Lebaran telah usai, jalanan Jakarta dan angkutan umum yang sempat sepi selama beberapa hari terakhir kini kembali ramai dan padat, Senin (30/3).

Tepat pukul 07.00 WIB, keramaian dan kepadatan terasa di Halte Transjakarta Petukangan D’Masiv, Jakarta Selatan. Masyarakat mulai berdesakan, berpacu dengan waktu.

Bergeser ke Universitas Budi Luhur, arus kendaraan mengalir padat. Mobil pribadi, bus, hingga sepeda motor saling mengisi ruang yang terasa semakin sempit. Bunyi nyaring klakson bersahutan dengan peluit petugas pengatur lalu lintas. Jakarta mulai kembali ke dirinya yang sibuk, padat, dan tak pernah diam.

Ojek online juga tampak hilir mudik mengantar, menjemput, lalu pergi lagi.

Seorang pejalan kaki, Yogi Dermawan (30), mengaku setelah seminggu mudik ke Tegal, ia kembali ke rutinitasnya sebagai karyawan swasta di kawasan SCBD.

"Mungkin lagi kaget. Kagetnya karena merasa enak liburan, terlalu lama liburan. Ya lebih ke hektik saja," kata Yogi saat ditemui di lokasi.

Sepuluh tahun tinggal di Jakarta membuat Yogi akrab dengan ritme kota ini. Namun, setiap selesai Lebaran, selalu ada rasa enggan yang harus dipaksa luruh.

"Harapannya mudah-mudahan pekerjaan makin baik… Intinya sih harapan kita lowongan pekerjaan makin banyak," ujarnya.

Baginya, Jakarta tetap menjadi tempat untuk kembali. Kota dengan segala kerasnya, namun juga menyediakan peluang yang tak selalu ditemukan di kampung halaman.

"Ya sebenarnya lebih enak di Jakarta. Karena kalau saya, mungkin daerah Tegal itu mayoritas orangnya juga di Jakarta semua. Apalagi mayoritas orang daerah Sidakaton rata-rata buka warteg, mereka juga kebanyakan di Jakarta. Ya keramaian itu hanya momentum Lebaran saja," ucapnya.

Di sisi seberang halte, Ara (27) berdiri dengan hijab hitam dan tas ransel yang tergendong di depan. Ia tidak mudik tahun ini, bukan karena tidak sempat, tetapi karena memang tidak memiliki kampung halaman untuk pulang. Lebaran ia habiskan berkeliling, mengunjungi keluarga yang ada di Jakarta.

"Enggak. Kebetulan saya enggak punya kampung. Ya kita keliling saja, Lebaran ke keluarga yang ada di sini, paling main sama teman," ucap Ara.

Sebagai seorang pramusaji di kawasan Blok M, Ara berharap hari pertama kerja tidak langsung terasa berat.

"Ya sebenarnya vibenya masih berasa libur. Jadi semoga pekerjaannya enggak terlalu padat," katanya.

Kepada para perantau, ia berpesan agar tidak patah arang dalam mencari pekerjaan. Menurutnya, banyak peluang kerja di Jakarta jika mau berusaha.

"Ya semangat saja pokoknya buat cari kerjaan di Jakarta. Banyak kerjaan kok asal kita mau semangat," ujarnya.

Hari dan Nasi Bakar yang Tak Pernah Libur

Di sudut lain, sedikit menjauh dari hiruk pikuk halte, seorang pria paruh baya duduk di samping motornya. Di atasnya, terangkut dagangan nasi bakar yang masih hangat. Ia adalah Hari (53), perantau yang telah puluhan tahun hidup di Jakarta.

"Sudah lama ya, dari tahun 1991 saya di Jakarta," ujar Hari.

Sejak 1991, kota ini telah menjadi rumah sekaligus ladang perjuangannya. Ia pernah menjadi cleaning service, kolektor, hingga pekerja konstruksi sebelum akhirnya memilih berjualan nasi bakar hampir satu dekade terakhir.

"Pertama cleaning service tiga tahun, terus jadi kolektor, nagih-nagih di perusahaan. Habis itu pindah lagi ke perusahaan keramik, tukang tagih juga sampai tahun 2010. Tiga belas tahun saya kerja nagih. Habis itu, 2011 saya diajak kawan kerja di konstruksi," ucapnya.

Pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, dagangannya tetap diminati. Beberapa bungkus nasi bakar seharga Rp10.000 tersisa di motornya, menandakan bahwa roda kehidupan masih terus berputar.

Hari tidak mudik selama empat tahun terakhir. Bukan karena tidak rindu, tetapi karena tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan.

"Anak-anak kan enggak libur, jadi kita ninggalin anak enggak enak," katanya.

Baginya, Jakarta bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga tempat menambatkan kehidupan. Ia memahami betul kerasnya kota ini dan mengingatkan para perantau baru.

"Kalau enggak punya keahlian, jangan ke Jakarta. Tapi kalau punya keahlian, di sini ya monggo. Yang penting ulet," katanya.

Pagi itu, di antara langkah-langkah tergesa dan kendaraan yang tak pernah berhenti, Jakarta kembali menampakkan wajah aslinya. Kota yang memaksa setiap orang untuk bergerak, bertahan, dan terus melangkah.

Liburan telah usai. Kenangan tinggal disimpan. Dan di halte kecil di selatan kota, realita kembali dimulai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trans Sulsel Berbayar Mulai 1 April 2026, Tarif Rp4.600 Sekali Perjalanan
• 23 jam laluterkini.id
thumb
Sekjen PBB Konfirmasi Seorang Prajurit TNI Tewas Akibat Serangan Israel di Lebanon, Lainnya Luka-luka
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Pengamat: Posisi Indonesia Dilematis
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Efisiensi Energi, DPR Batasi Penggunaan Listrik hingga Jamuan Rapat
• 21 jam lalukompas.id
thumb
Subaru Sambar 2026, Pikap Mini Berkemampuan 4X4
• 5 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.