Pasar saham global mengalami tekanan hebat sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Dalam periode kurang dari satu bulan, kapitalisasi pasar global dilaporkan menyusut hingga triliunan dolar AS, seiring investor berbondong-bondong keluar dari aset berisiko.
Ketegangan kawasan sendiri mulai meningkat sejak 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan, yang kemudian dibalas Iran dengan menargetkan fasilitas energi di kawasan Teluk. Situasi ini memicu ketidakpastian pasar global, lonjakan inflasi, serta fluktuasi tajam pada harga komoditas.
Melansir laporan Anadolu, Senin (30/3/2026), harga minyak dunia melonjak sekitar 45 persen, sementara emas justru terkoreksi hingga 15 persen di tengah gejolak tersebut.
Sementara berdasarkan data Bloomberg World Exchange Market Capitalization Index, nilai kapitalisasi pasar global turun dari 157,5 triliun dolar AS (setara Rp2,67 kuadriliun) menjadi 146 triliun dolar AS (setara Rp2,47 kuadriliun) sepanjang Maret. Artinya, terjadi penyusutan sebesar 11,5 triliun dolar AS (setara Rp195 kuadriliun).
Di Amerika Serikat, indeks S&P 500 yang merepresentasikan mayoritas perusahaan di pasar saham AS mencatat kerugian lebih dari 5 triliun dolar AS (setara Rp84 kuadriliun) selama bulan Maret. Secara umum, indeks saham utama dunia mengalami penurunan sekitar 10 persen sepanjang periode tersebut.
Di pasar Amerika Serikat, indeks Dow Jones Industrial Average turun 7,77 persen atau 469,38 poin menjadi 45.167,44 pada 28 Maret, dari sebelumnya 48.977,92 pada 27 Februari. Indeks S&P 500 juga melemah 7,4 persen atau 114,74 poin ke level 6.368,85 dari 6.878,88.
Sementara itu, indeks Nasdaq Composite mengalami penurunan tajam sebesar 7,6 persen atau 521,74 poin menjadi 20.948,36, dari posisi sebelumnya 22.668,21.
Di kawasan Eropa, tekanan pasar juga cukup dalam. Indeks Stoxx Europe 600 anjlok 9,2 persen ke level 575,30 dari sebelumnya 633,85.
Indeks FTSE 100 Inggris turun 8,6 persen menjadi 9.967,35. Di Jerman, indeks DAX merosot 11,8 persen ke 22.300,75, sedangkan indeks CAC 40 Prancis melemah 10,2 persen menjadi 7.701,95.
Pasar saham Italia melalui FTSE MIB 30 turun 8,1 persen ke 43.379,10, sementara indeks IBEX 35 Spanyol terkoreksi 8,5 persen menjadi 16.802,50.
Tekanan serupa juga terjadi di Asia. Indeks Asia Dow yang mencerminkan saham unggulan di kawasan itu turun 10,2 persen menjadi 5.336,12.
Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 9,3 persen ke level 53.373,07. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 6,3 persen menjadi 24.951,88, sedangkan indeks Shanghai Composite di China turun 6 persen ke 3.913,72.
Di kawasan lain, indeks Sensex India tercatat turun 9,5 persen, sementara Kospi Korea Selatan mengalami penurunan paling dalam di Asia, yakni 12,9 persen. (bil/iss)




