Bisnis.com, JAKARTA — Inflasi umum diprediksi melandai pada Maret 2026, meski pada saat yang sama harga-harga komoditas pangan mengalami kenaikan harga cukup signifikan. Berakhirnya basis rendah dan penurunan harga emas disinyalir menjadi penyebabnya.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memprediksi laju inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Maret 2026 akan melandai ke level 3,71% secara tahunan (year on year/YoY), turun dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya yang menembus 4,76% YoY.
Josua menjelaskan bahwa meredanya laju inflasi tahunan ini utamanya didorong oleh hilangnya efek basis rendah (low base effect) dari kebijakan diskon tarif listrik yang berlaku pada Januari—Februari tahun lalu. Akibatnya, angka pembanding tahunan menjadi lebih normal.
"Artinya, meskipun periode Ramadan dan Idulfitri biasanya mendorong kenaikan harga pangan, perjalanan, dan rekreasi, dorongan itu kali ini tidak cukup kuat untuk menahan penurunan laju inflasi tahunan," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (31/3/2026).
Sementara itu, untuk tingkat inflasi bulanan (month on month/MoM), Josua memperkirakan inflasi berada pada level 0,63% MoM atau sedikit lebih rendah dibandingkan dengan realisasi Februari 2026 sebesar 0,68%.
Menurutnya, pendorong utama tingginya inflasi bulanan ini tidak lepas dari siklus musiman Ramadan dan Idulfitri yang menyebabkan lonjakan permintaan bahan makanan, biaya angkutan mudik, hingga kegiatan liburan masyarakat.
Baca Juga
- Rapor Merah IHSG, Pasar Menanti Tuah Data PMI Manufaktur hingga Inflasi
- Ujian Ketahanan Pasar Obligasi RI: Tertekan Risiko Inflasi hingga Peringkat Utang Negara
- BI Siaga Lonjakan Harga Minyak Dunia & Kemarau Panjang Ancam Inflasi Domestik
Secara terperinci dari sisi komoditas pangan (volatile food), tekanan harga tertinggi diperkirakan bersumber dari cabai rawit yang melesat 10,14% secara bulanan, disusul cabai merah (9,70%), telur ayam ras (3,50%), daging ayam ras (1,67%), dan gula pasir (1,08%). Sebaliknya, harga bawang putih justru mencatatkan penurunan sebesar 1,40%.
Lebih lanjut, inflasi inti (core inflation) diperkirakan hanya akan merangkak naik tipis dari 2,63% menjadi 2,65%. Menurut Josua, angka tersebut mengindikasikan bahwa daya beli dan tekanan permintaan di masyarakat masih cukup baik, meskipun harga emas perhiasan cenderung menurun di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah.
"Di sisi lain, kelompok harga yang diatur pemerintah [administered prices] diperkirakan kembali mencatat inflasi setelah bulan sebelumnya sempat turun, terutama karena kenaikan permintaan transportasi selama arus mudik," jelas Josua.
Ke depan, Josua memberikan catatan risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga potensi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri apabila harga minyak mentah global melonjak lebih tajam. Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan resmi data IHK periode Maret 2026 pada Rabu (1/4/2026) esok.





