Hubble Menangkap Fenomena Langka: Nebula Kepiting Terus Mengembang Selama 25 Tahun

erabaru.net
10 jam lalu
Cover Berita

NASA baru-baru ini merilis perbandingan gambar Hubble Space Telescope yang diambil dengan selang waktu 25 tahun, yang menunjukkan bahwa Nebula Kepiting terus mengembang sebagai sisa ledakan supernova.

EtIndonesia. Di alam semesta yang luas, hanya sedikit objek yang seikonik Nebula Kepiting. Nebula ini merupakan sisa dari ledakan bintang yang terjadi pada tahun 1054. Saat itu, sebuah supernova di rasi Taurus bersinar sangat terang hingga dapat terlihat di siang hari selama beberapa minggu. Peristiwa ini juga tercatat dalam kitab sejarah Tiongkok kuno Song Shi – Catatan Astronomi, menjadikannya salah satu ledakan kosmik yang paling rinci terdokumentasi dalam sejarah manusia.

Pada pertengahan abad ke-18, Nebula Kepiting ditemukan di rasi Taurus. Kemudian pada tahun 1950-an, para astronom menghubungkan nebula ini dengan supernova yang tercatat pada tahun 1054. Bukti kuatnya adalah ditemukannya sebuah pulsar di pusat nebula—yaitu bintang neutron yang berputar sangat cepat, sisa dari inti bintang yang meledak.

Teleskop Hubble mulai mengamati nebula ini sejak 1999, dan melakukan pengamatan lanjutan pada tahun 2024. Perbandingan gambar menunjukkan dengan jelas bahwa nebula tersebut terus mengembang selama periode tersebut.

Gambar Nebula Kepiting yang diambil oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble pada tahun 2024. (Sumber gambar: NASA, ESA, STScI, W. Blair (JHU). Pengolahan gambar: J. DePasquale (STScI))

Meski perbedaan antara dua gambar terlihat kecil, sebenarnya struktur filamen (serabut gas) di dalam nebula ini mengembang dengan kecepatan sekitar 5,5 juta km/jam. Proses ini didorong oleh pulsar di pusatnya, yang memiliki medan magnet sangat kuat dan mendorong partikel bermuatan ke luar. Energi inilah yang membuat nebula terus mengembang sekaligus menerangi struktur filamennya.

Gambar-gambar tersebut diambil menggunakan kamera resolusi tinggi generasi ketiga milik Hubble, yang memungkinkan ilmuwan mengamati struktur tiga dimensi dan detailnya. Dalam citra tersebut, area berwarna biru menunjukkan gas dengan suhu tertinggi dan kepadatan terendah, sementara warna kuning dan merah menunjukkan unsur berenergi tinggi seperti sulfur dan oksigen.

Gambar yang diambil oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble pada tahun 1999 menunjukkan Nebula Kepiting tampak lebih kecil daripada pada tahun 2024. (Sumber gambar: NASA, ESA, STScI)

 “Kita sering menganggap langit itu tidak berubah. Namun dengan pengamatan jangka panjang teleskop Hubble, bahkan objek seperti Nebula Kepiting yang terbentuk hampir 1.000 tahun lalu ternyata masih bergerak—masih terus mengembang akibat ledakan tersebut,” kata Astronom dari Johns Hopkins University, William Blair, yang memimpin penelitian ini. (Hui)

Dilaporkan oleh Jin Jing/Disunting oleh Lin Qing

pic.twitter.com/2mXp4r5yeI

— Tanya Du (@TanyaDu8) March 29, 2026

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Terapkan WFH untuk ASN Setiap Hari Jumat, Apa Alasannya?
• 11 jam lalunarasi.tv
thumb
Profil Hendarsam Marantoko, Dirjen Imigrasi yang Baru Dilantik
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Skema Baru Agar Hemat Rp20 Triliun, Penyaluran MBG Jadi Lima Hari dalam Sepekan
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Panglima TNI Berikan Santunan Rp1,8 Miliar dan Kenaikan Pangkat Luar Biasa ke 3 Prajurit Gugur
• 3 jam laluokezone.com
thumb
Pembatasan Pengguna BBM Subsidi Dibatasi 50 Liter/Hari untuk Kendaraan Pribadi
• 9 jam lalunarasi.tv
Berhasil disimpan.