Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran (bersama Israel) telah berlangsung selama sebulan dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, serta memberikan dampak besar terhadap pasokan energi global. Dilaporkan bahwa para menteri luar negeri dari sejumlah negara Timur Tengah berkumpul di Pakistan untuk membahas upaya menghentikan perang ini.
EtIndonesia. Menurut laporan Reuters, para menteri luar negeri dari Pakistan, Arab Saudi, Turkiye, dan Mesir berkumpul di ibu kota Pakistan, Islamabad, guna mencari cara mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama sebulan.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Amerika Serikat di satu sisi menyampaikan pesan tentang negosiasi dan dialog, tetapi di sisi lain diam-diam merencanakan serangan darat. Ia juga menegaskan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menghadapi penempatan militer AS.
Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, pada hari ini mengadakan pertemuan bilateral di Islamabad dengan menteri luar negeri Turkiye dan Mesir sebagai persiapan untuk pembahasan empat pihak. Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, sehari sebelumnya telah melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Di tingkat militer, komunikasi juga terus berlangsung. Sumber menyebutkan bahwa Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, secara rutin berkomunikasi dengan Wakil Presiden AS, JD Vance.
Sumber lain dari Turkiye menyatakan bahwa pemerintah Ankara sedang berdiskusi dengan negara-negara lain mengenai rencana untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang dinilai sangat penting untuk meredakan ketegangan di kawasan.
Di sisi lain, Ishaq Dar juga menyampaikan melalui platform X bahwa Iran telah menyetujui untuk mengizinkan tambahan 20 kapal berbendera Pakistan melintasi Selat Hormuz, dengan dua kapal per hari. Ia menyebut langkah ini sebagai sikap positif dan konstruktif dari Iran, serta sebagai sinyal damai yang dapat membantu mendorong stabilitas kawasan. (Hui)
Sumber : NTDTV.com




