Jakarta, VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono melaporkan, neraca dagang Indonesia pada Februari 2026 mencatatkan surplus sebesar US$1,28 miliar, dan menjadi surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Dia merinci, surplus sebesar US$1,28 miliar pada Februari 2026 itu ditopang oleh ekspor yang mencapai US$22,17 miliar dan impor sebesar US$20,89 miliar.
"Pada Februari 2026 neraca perdagangan barang surplus US$1,28, dan mencatat surplus 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Ateng dalam telekonferensi pers, Rabu, 1 April 2026.
- [tangkapan layar]
Dia menjelaskan, surplus pada bulan Februari 2026 ini lebih didorong oleh surplus pada komoditi non-migas, yaitu sebesar US$2,19 miliar.
"Dimana komoditas penyumbang surplus untuk non-migas yaitu yang pertama lemak dan minyak hewan nabati, berikutnya bahan bakar mineral atau HS27, serta juga dari besi dan baja HS72," ujarnya.
Pada saat yang sama, Ateng juga melaporkan bahwa neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit sebesar US$0,92 miliar. Dimana beberapa komoditi penyumbang defisitnya terutama yaitu dari komoditas minyak mentah, komoditas dari hasil minyak, dan juga dari komoditas gas.
Sementara neraca perdagangan kumulatif pada bulan Januari hingga Februari 2026, mencatat bahwa hingga Februari 2026 neraca perdagangan barang mencapai surplus sebesar US$2,23 miliar.
"Surplus sepanjang Januari sampai Februari tahun 2026 itu terutama ditopang oleh surplus komoditi non-migas, yaitu sebesar US$5,42 miliar," kata Ateng.
"Sementara untuk komoditi migas tercatat mengalami defisit sebesar US$3,19 miliar," ujarnya.





