Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Sektor Manufaktur Menjadi Penopang Utama di Tengah Merosotnya Komoditas Tambang dan Pertanian
Ketahanan ekonomi Indonesia di pasar global menunjukkan sinyal positif pada awal tahun ini. Berdasarkan data terbaru, performa ekspor nasional pada Februari 2026 berhasil mencatatkan pertumbuhan tipis sebesar 1,01% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year).
Total nilai ekspor tercatat menyentuh angka US$ 22,17 miliar, meningkat dari capaian Februari 2025 yang berada di level US$ 21,94 miliar.
Pertumbuhan ini dipicu oleh tingginya permintaan global terhadap produk hilirisasi industri Indonesia, meskipun sektor ekstraktif lainnya sedang menghadapi tekanan.
Dominasi Industri Pengolahan
Berbeda dengan tren komoditas mentah yang fluktuatif, sektor industri pengolahan muncul sebagai tulang punggung utama perdagangan luar negeri Indonesia.
Sektor ini menyumbangkan US$ 18,55 miliar terhadap total ekspor, atau tumbuh signifikan sebesar 5,24% secara tahunan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penguatan ini merupakan hasil dari lonjakan nilai pada beberapa komoditas strategis.
"Utamanya disebabkan oleh peningkatan nilai ekspor beberapa komoditasnya," ujar Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu 1 April 2026.
Beberapa produk manufaktur yang menjadi primadona di pasar internasional antara lain:
• Nikel dan Minyak Kelapa Sawit (CPO).
• Kendaraan bermotor roda empat atau lebih.
• Kimia dasar organik berbasis pertanian.
• Semikonduktor serta komponen elektronik.
Kontras di Sektor Pertambangan dan Pertanian
Di balik performa apik industri manufaktur, sektor primer justru mengalami kontraksi yang cukup dalam. Data menunjukkan ekspor pertambangan merosot tajam hingga 18,16% dengan nilai US$ 2,15 miliar. Penurunan lebih signifikan terlihat pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang anjlok 31,45% ke angka US$ 390 juta.
"Sedangkan ekspor pertanian dan pertambangan lainnya ini justru mengalami penurunan," tambah Ateng, menyoroti adanya pergeseran struktur ekspor yang kini lebih condong pada nilai tambah industri.
Keberhasilan industri pengolahan mempertahankan tren positif di tengah jatuhnya sektor pertambangan memberikan gambaran bahwa kebijakan hilirisasi mulai membuahkan hasil yang stabil.
Editor: Redaktur TVRINews




