EtIndonesia. Sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk sedang mendesak Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan perang terhadap Iran. Mereka kembali menegaskan dukungan terbuka terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel di Iran. Terkait apakah negara-negara Teluk akan memberikan dukungan finansial, juru bicara Gedung Putih pada 30 Maret menyatakan bahwa Trump berencana menyerukan agar negara-negara Arab menanggung biaya perang melawan Iran.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 30 Maret, seorang jurnalis menyinggung bahwa selama Perang Teluk 1990–1991, negara-negara Arab seperti Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menanggung sebagian besar biaya perang. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan tanggapan.
Karoline Leavitt vs. Jurnalis: “Siapa yang akan menanggung biaya perang ini? Apakah negara-negara Arab itu akan secara sukarela melakukannya?”
“Saya pikir presiden kemungkinan besar akan menyerukan hal tersebut. Saya tidak akan berbicara sebelum ia membuat keputusan. Namun saya tahu ia memang memiliki pemikiran itu, dan saya yakin Anda akan mendengar lebih banyak pernyataannya mengenai hal ini.”
Leavitt juga menyatakan bahwa saat ini negosiasi antara Amerika Serikat dan Tehran terkait upaya mengakhiri konflik berlangsung dengan baik.
Menurut laporan media AS, sekutu Amerika di kawasan Teluk secara tertutup melobi Trump agar terus melanjutkan perang terhadap Iran. Mereka menilai bahwa pemboman selama sebulan terakhir belum sepenuhnya melemahkan Teheran.
Media Israel juga mengungkapkan bahwa negara-negara Teluk—terutama Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar—ingin memastikan bahwa Iran tidak lagi menjadi ancaman bagi mereka.
Negara-negara tersebut sebelumnya menentang perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, terutama karena khawatir akan pembalasan dari Iran. Namun kini mereka menyadari bahwa perang ini justru merupakan peluang terbaik untuk menghilangkan ancaman dari Iran, sehingga mereka berharap Amerika Serikat tidak menghentikan operasi militer di Timur Tengah.
Laporan disusun oleh NTD Asia Pasifik, Hu Zonghan dan Chen Lingzhi.





