Harga berbagai macam produk plastik di pasaran terpantau naik. Hal ini menyusul sulitnya bahan baku plastik karena terganggunya impor dari Timur Tengah akibat perang di Iran.
Silvia (30) yang merupakan pedagang plastik di Toko Samjaya, Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan bercerita kenaikan harga sudah terjadi sejak bulan Ramadan lalu. Kini, harga berbagai produk plastik rata-rata juga sudah naik hampir 50 persen jika dibanding sebelum Ramadan.
“Dari pas bulan puasa. Setiap hari tuh masih naik-naik terus, masih fluktuatif tapi dia naik terus. Dan dia sekarang udah naiknya sudah sampai 50 persen,” kata Silvia kepada kumparan di tokonya pada Rabu (¼).
Adapun produk plastik yang naik bukan hanya kantong plastik, melainkan produk lainnya seperti gelas plastik, piring plastik, thinwall sampai kantong kiloan. Untuk plastik kiloan, Silvia menyebut harganya sudah naik hampir dua kali lipat.
“Kalau plastik yang biasanya kita jual kayak gini bisa Rp 10.000-an, sekarang udah Rp15.000, Rp 17.000,” ujarnya.
Kenaikan harga juga berdampak pada penjualan. Silvia mengatakan dengan naiknya harga plastik, beberapa pembeli biasanya mengurungkan niat untuk membeli. Selain itu, naiknya harga plastik juga mempengaruhi harga makanan yang membutuhkan wadah plastik.
“Kadang orang pas nanya harganya mahal, ya, nggak jadi, tapi kalau orang yang butuh tetap beli. Tapi dia butuh gimana? Kan, kayak penjual makanan, kan, butuh. Biasanya penjual makanan dia naikin harga makanannya karena plastik naik, kata dia gitu,” kata Silvia.
Silvia memang selama ini mendapat pasokan produk plastik langsung dari pabriknya. Salah satu alasan dari pemasok terkait kenaikan harga memang adalah karena perang di Timur Tengah.
“Katanya gitu, kayak bahan plastiknya (naik) terus, ya, pokoknya ngeluhnya dari pabriknya itu. Mesinnya, kan, butuh bahan plastiknya itu dari katanya dari akibat perang-perang juga,” ujarnya.
Selain Silvia, kumparan juga menghampiri Toko Al Falah di Asem Baris, Jakarta Selatan yang juga menjual berbagai produk plastik. Di sana, kenaikan harga juga terjadi untuk berbagai macam produk.
“[Harga plastik naik] dari semenjak sebelum Lebaran. Naiknya per jam dia. Misalkan dua jam ke depan harganya Rp 12 (ribu), naik lagi gopek (Rp 500), habis itu naik lagi gopek. Dalam seminggu ini naiknya sekitaran goceng (Rp 5.000),” kata Putra (25) yang merupakan penjual plastik di sana.
Sama seperti di toko sebelumnya, Putra juga bercerita kenaikan harga plastik seperti plastik kiloan sudah naik hampir dua kali lipat.
“Yang kiloan, kayak tomat. Dari Rp 10 (ribu) ke Rp 15 (ribu) sekarang,” ujarnya.
Meski demikian, ia tidak tahu penyebab harga plastik terus naik. Meski pembelian plastik di tokonya tak turun, Putra tak menampik ada keluhan soal harga.
“Tetap orang yang beli. Cuma banyak keluhan dari soal harga doang. Karena dia biasanya itu, kan, barang pokok, kan, buat bungkus bumbu. Ngeluh-ngeluh, cuma, ya, sudahlah beli aja gitu,” kata Putra.
Sebelumnya, pemerintah bergerak cepat mencari alternatif pasokan bahan baku plastik menyusul terganggunya impor dari Timur Tengah akibat perang di Iran. Seretnya pasokan membuat harga plastik di dalam negeri naik.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan Indonesia kini mulai menjajaki sumber baru dari berbagai negara.
“Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain dan kita sudah melakukan misalnya dari negara Afrika, India, dan Amerika,” kata Budi dalam konferensi pers siang tadi.
Meski begitu, ia mengakui proses peralihan pasokan tidak bisa dilakukan secara instan karena membutuhkan penyesuaian rantai distribusi.
“Memang ini butuh waktu, karena, kan, tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain,” ujarnya.
Selain membuka pasar baru, pemerintah juga aktif berkomunikasi dengan pelaku industri dan perwakilan Indonesia di luar negeri untuk mencari pemasok tambahan. Langkah ini dilakukan agar pasokan bahan baku tetap terjaga dan produksi dalam negeri bisa kembali stabil.





