BADAN Pusat Statistik (BPS) dalam rilis terbaru melaporkan surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hingga Februari 2026 mencapai US$2,23 miliar. Angka ini menandai surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus neraca perdagangan Indonesia tidak terlepas dari kinerja positif ekspor industri pengolahan yang tetap tumbuh ditengah pelemahan ekspor produk pertanian dan pertambangan.
“Ekspor industri pengolahan pada Januari-Februari 2026 capai US$37,06 miliar, tumbuh 6,69% dibanding periode yang sama tahun lalu. Beberapa komoditas yang performanya bagus diantaranya adalah hasil olahan minyak kelapa sawit, hasil olahan nikel, produk kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, dan kendaraan bermotor roda empat atau lebih,” jelas Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, melalui keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (1/4).
Amalia melanjutkan bahwa pada Februari 2026, Tiongkok menjadi negara utama ekspor beberapa komoditas unggulan industri pengolahan seperti hasil olahan minyak kelapa sawit, hasil olahan nikel, dan produk kimia dasar yang bersumber dari hasil pertanian.
Baca juga : Ekspor Indonesia Tumbuh 3,39 Persen Jadi US$22,16 Miliar
Sejumlah negara utama tujuan ekspor hasil olahan minyak kelapa sawit pada Februari 2026 antara lain Tiongkok sebesar US$556,31 juta (19,19%), India US$433,95 juta (14,97%), dan Pakistan US$212,20 juta (7,32%).
Amerika Serikat dan Uni Emirat Arab (UEA) juga mencatat pertumbuhan tinggi. Ekspor ke Amerika Serikat mencapai US$177,91 juta atau tumbuh 56,18% (y-on-y), sedangkan ke UEA sebesar US$63,89 juta atau melonjak 458,75% (y-on-y).
Secara tren, ekspor olahan minyak kelapa sawit ke UEA terus meningkat. Nilainya tercatat US$231,99 juta pada 2023, naik menjadi US$392,09 juta pada 2024, dan kembali meningkat menjadi US$461,80 juta pada 2025 dengan kontribusi 14,24% terhadap total ekspor olahan minyak kelapa sawit tahun 2025. Peningkatan ini turut didorong oleh perjanjian perdagangan bebas Indonesia–UEA yang berlaku sejak September 2023, yang memberikan tarif 0% untuk berbagai komoditas, termasuk produk olahan minyak kelapa sawit.
Sementara itu, BPS juga mencatat peningkatan signifikan pada ekspor hasil olahan nikel sejumlah negara. Pada Februari 2026, ekspor ke Tiongkok mencapai US$697,58 juta atau tumbuh 68,25% (y-on-y). Kenaikan juga terjadi pada ekspor ke Jepang yang mencapai US$142,12 juta atau tumbuh 67,39% (y-on-y), serta ke Singapura sebesar US$46,72 juta atau melonjak 665,70% (y-on-y).




