Saksi Ungkap Harga Sewa Kapal saat Krisis 9 Kali Lipat Lebih Mahal

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Sejumlah fakta baru terungkap dalam sidang kasus dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang. Salah satunya, harga sewa kapal milik PT JMN oleh perusahaan milik negara saat kasus ini terjadi, sembilan kali lebih murah dibandingkan harga sewa saat ini.

Hal tersebut terungkap dalam sidang terdakwa mantan Direktur Niaga PIS, Arief Sukmara dan Business Development Manager PT MKA, Indra Putra.

Awalnya, penasehat hukum dari Arief Sukmara, Adry Julian, bertanya kepada saksi selaku mantan Direktur Utama PT PIS Yoki Firnandi. Dia memperlihatkan data penyewaan kapal dari Clarkson yang menjadi acuan para perusahaan kapal dunia.

“Bapak bisa ceritakan sedikit maksud dari data ini,” kata Adry kepada Yoki dalam persidangan yang dikutip pada Rabu, 1 April 2026.
 

Baca Juga :

Umat Islam Diminta Bersatu Hadapi Situasi Global

Yoki menjelaskan kapal tanker jenis Suezmax yang dilengkapi dengan scrubber saat ini harga sewanya mencapai USD339.000 per hari. Harga sewa ini sembilan kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan harga sewa PIS ke kapal milik JMN yang hanya USD37.000 per hari.

“Itu artinya kapal sejenis Jenggala Nasim itu, ya sekarang Pertamina bayar USD339.000 per hari. Ya, itulah yang menyedihkan. Karena kapalnya udah nggak disewa gara-gara kasus ini, sekarang harus bayar 9 kali lebih mahal,” kata Yoki dalam persidangan.

Jenggala Nassim merupakan salah satu dari tiga kapal milik JMN yang dipersoalkan dalam kasus dugaan korupsi ini. Kapal ini berbendera Indonesia dan dimiliki Kerry Andrianto.

Yoki menjelaskan sewa kapal Jenggala Nassim senilai USD37.000 pada saat itu dianggap wajar dan sesuai dengan kondisi pasar saat itu.

“Berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan, tidak terdapat temuan yang menyatakan harga sewa kapal tersebut tidak wajar atau merugikan negara,” ujar dia.


Ilustrasi. Foto: Carsurin.com

Yoki menekankan kondisi saat ini berpotensi meningkatkan beban biaya operasional perusahaan milik negara. Dengan tidak digunakannya kapal tersebut akibat dinamika kasus ini, kebutuhan pengangkutan tetap harus dipenuhi melalui pasar yang kini jauh lebih mahal.

“Kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, biaya yang harus ditanggung bisa mencapai sembilan kali lipat. Itu justru menunjukkan bahwa keputusan sebelumnya tidak merugikan negara,” ujar Yoki dalam persidangan.

Menurut dia, kebutuhan terhadap kapal jenis Suezmax tetap tinggi seiring meningkatnya impor minyak mentah Indonesia. Kapal berukuran besar tersebut dinilai paling ekonomis untuk rute jarak jauh.

Dengan kondisi tersebut, Yoki menekankan keputusan bisnis dalam penyewaan kapal mempertimbangkan efisiensi, risiko pasokan, serta kebutuhan operasional jangka panjang.

“Keputusan menyewa kapal itu adalah bagian yang diperlukan untuk keberlanjutan operasional dan ketahanan pasokan energi nasional,” ujar dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Unismuh Makassar dan Singapore Polytechnic Kolaborasi Kembangkan Riset Peternakan di Pangkep
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Foto: ASN Ramai-Ramai Gowes ke Kantor Demi Hemat Energi
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Inilah Keyndah, Selebgram yang Diduga Lakukan VCS dengan Suami Clara Shinta
• 9 jam lalucumicumi.com
thumb
Budi Djiwandono Dukung Pemerintah Minta DK PBB Rapat Darurat Usai Prajurit TNI Gugur
• 1 jam laludetik.com
thumb
Lapisan Krisis Iran dan Retaknya Tatanan Dunia Lama dalam Analisis Media Global
• 23 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.