Isu Air Keras dan Perang Informasi, Publik Diminta Waspada Potensi Destabilisasi

tvonenews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com — Praktisi hukum dan kolumnis, Agus Widjajanto, menyoroti keterkaitan antara kasus kekerasan terhadap tokoh kritis dengan dinamika yang lebih luas terkait stabilitas keamanan nasional. Ia mengingatkan adanya potensi penggunaan isu tersebut dalam skenario perang informasi (information warfare).

Dalam keterangannya, Rabu (1/4/2026), Agus mengungkapkan adanya informasi yang beredar di kalangan hedge fund dan perbankan internasional mengenai sinyal situasi global yang dinilai bergerak cepat.

Menurutnya, informasi tersebut perlu dibaca dalam perspektif geo-strategis dan geopolitik, mengingat posisi Indonesia yang sangat penting di kawasan Indo-Pasifik sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia.

“Jika informasi seperti ini sudah beredar di kalangan hedge fund dan bankir global, maka tidak bisa dianggap remeh,” ujarnya.

Potensi Destabilisasi Lewat Narasi Publik

Agus menilai, terdapat kemungkinan pihak tertentu yang ingin menciptakan ketidakstabilan politik dan keamanan di dalam negeri. Sasaran utamanya adalah melemahkan pemerintahan serta menurunkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

Dalam konteks kasus air keras yang menjadi perhatian publik, ia mengingatkan agar masyarakat tidak melihat peristiwa tersebut secara parsial.

“Kasus seperti ini sangat rentan dimanfaatkan untuk membangun narasi tertentu, misalnya menggiring opini bahwa negara gagal melindungi warganya,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam era digital, konflik tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga melalui pembentukan opini publik, framing media, hingga eksploitasi isu sensitif seperti pelanggaran hak asasi manusia.

Publik Diminta Kritis terhadap Framing

Agus juga menyoroti maraknya narasi yang berkembang di ruang publik, termasuk dari sejumlah pegiat hak asasi manusia. Ia menegaskan pentingnya peran advokasi, namun tetap mengingatkan agar publik bersikap kritis terhadap setiap informasi yang beredar.

“Pertanyaannya, apakah framing itu murni untuk kepentingan publik atau ada tujuan lain? Ini yang harus disikapi dengan jernih,” katanya.

Ia juga menyinggung potensi narasi yang dapat mendiskreditkan institusi strategis negara, seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI), jika tidak disampaikan secara berimbang.

Perang Informasi Jadi Instrumen Global

Dalam analisisnya, perang informasi kini menjadi salah satu instrumen utama dalam kontestasi global. Penyebaran narasi melalui media massa dan platform digital dinilai mampu memengaruhi persepsi publik secara cepat dan luas.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Perang Teluk Ujian Resiliensi Ekonomi Indonesia
• 18 jam laluharianfajar
thumb
“Belajar Langsung di Lapangan! Mahasiswa UB Dibekali Skill Monitoring Hiu-Pari Bareng Mobula Project”
• 7 jam lalurealita.co
thumb
Impor 160.000 Mobil Kopdes Saat 15.000 Buruh Otomotif di Jabar Diberhentikan
• 10 jam lalukompas.id
thumb
Lima Kasus Curanmor Dilaporkan ke SS Hari Ini, Ada yang Hilang waktu Ditinggal Mudik
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
3 April 2026 Libur Apa? Rencanakan Long Weekend Bersama Keluarga
• 15 jam lalunarasi.tv
Berhasil disimpan.