Daftar Pekerjaan Ini Bakal Bisa Digantikan AI, Karyawan Kantoran Wajib Waspada!

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kembali memicu kekhawatiran serius di pasar tenaga kerja global. Perusahaan AI Anthropic merilis studi terbaru yang memetakan sejauh mana teknologi ini mampu mengambil alih pekerjaan manusia, khususnya di sektor kantoran atau white-collar.

Dalam laporan bertajuk Labor market impacts of AI: A new measure and early evidence, peneliti Maxim Massenkoff dan Peter McCrory mengungkap bahwa penggunaan AI di dunia kerja saat ini masih jauh di bawah potensi sebenarnya. 

Baca Juga :
Masih Nganggur? Ustaz Adi Hidayat Bongkar Amalan yang Bisa Buka Pintu Rezeki
Inovasi 2 Dekade, Infobip Sebut Adopsi AI di Indonesia Meluas dari GenAI ke Agentic AI

Mereka menyebutkan bahwa adopsi AI yang terjadi baru mencakup sebagian kecil dari kemampuan yang secara teknis dapat dilakukan oleh teknologi tersebut.

Fenomena ini mengingatkan pada perubahan besar akibat teknologi di masa lalu, di mana penemuan listrik menghilangkan sejumlah pekerjaan sederhana seperti penyala lampu jalan dan operator lift. Kemudian, komputer menggantikan banyak pekerjaan administratif seperti penginput data dan operator telepon. 

Kini, AI dinilai berpotensi menciptakan gelombang disrupsi yang lebih luas. Secara teoritis, AI mampu menangani sebagian besar tugas di berbagai sektor, mulai dari bisnis dan keuangan, manajemen, ilmu komputer, matematika, hukum, hingga administrasi perkantoran. 

Namun dalam praktiknya, tingkat pemanfaatannya masih terbatas. Para peneliti menilai hal ini dipengaruhi oleh sejumlah hambatan, seperti regulasi hukum, keterbatasan teknologi, kebutuhan perangkat tambahan, serta masih perlunya campur tangan manusia untuk memverifikasi hasil kerja AI.

Meski demikian, hambatan tersebut diperkirakan bersifat sementara. Seiring perkembangan teknologi dan meningkatnya adopsi, kesenjangan antara kemampuan dan penggunaan AI diproyeksikan akan semakin menyempit.

Studi ini juga memperkenalkan metrik baru yang disebut observed exposure, yaitu ukuran yang membandingkan kemampuan teoritis AI dengan penggunaan nyata di lingkungan kerja profesional. "Hasilnya menunjukkan bahwa AI saat ini baru menyentuh sebagian kecil dari potensi yang dimilikinya," ungkap studi tersebut, sebagaimana dikutip dari Fortune, Kamis, 2 April 2026.

Menariknya, kelompok pekerja yang paling berisiko terdampak justru bukan pekerja kasar, melainkan profesional dengan pendidikan tinggi dan pendapatan besar. Kelompok ini cenderung memiliki kemungkinan lebih tinggi berasal dari kalangan perempuan, berpenghasilan lebih besar, serta memiliki gelar pendidikan lanjutan.

Baca Juga :
Capcom Pastikan Konten Game Asli, AI Hanya Jadi Alat Produksi
Indosat Ingin Semua Orang di Indonesia Kebagian AI
10 Game Berbasis AI yang Mengubah Masa Depan Industri Gaming

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DPK Tumbuh 11 Persen, Aset Bank QNB Indonesia Capai Rp13,2 Triliun
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Kiandra Ramadhipa Warisi DNA Juara Veda Ega Pratama, Siap Bersaing di Red Bull Rookies Cup 2026
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Honda Indonesia Bidik Ekspor 17 Ribu Unit Tahun Ini
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Harga Batu Bara Melonjak 24% di Maret, Tertinggi dalam 4 Tahun
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
2 Bulan Bolak-balik RS hingga Jalani Operasi, Marshel Widianto Kini Batasi Jam Kerja
• 11 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.