Konsumsi Naik, Tabungan Turun: Alarm Dini Ekonomi Rumah Tangga 2026

katadata.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Bing, beng, bang, yok, kita ke bank

Bang, bing, bung, yok, kita nabung

Tang, ting, tung, hey, jangan dihitung

Tahu-tahu kita nanti dapat untung

(Menabung, ciptaan Titiek Puspa)

Dipopulerkan pada 1996, lagu “Menabung” pasti terasa tidak asing bagi generasi 90-an. Apakah para penikmat lagu ini yang sekarang tentunya sudah bekerja, setelah tiga puluh tahun tahun, dapat menabung dan mendapat untung seperti yang dianjurkan oleh Geofanny dan Saskia?

Data Konsumsi, Tabungan, dan Pinjaman Online

Pada 2024, penulis pernah menulis artikel yang menyoroti turunnya tabungan masyarakat di tengah tren belanja yang naik. Secara umum, tren belanja masyarakat akan didorong oleh peristiwa musiman seperti periode libur sekolah, bulan puasa, Idul Fitri atau libur Natal dan tahun baru (Nataru). Perulangan pola ini tampak pada saat libur Nataru 2025 yang lalu. 

Dalam publikasi “Daily Economic and Market Review” yang dikeluarkan Office of Chief Economist dari Bank Mandiri, tercatat kenaikan Mandiri Spending Index (MSI) 4,4% week-on-week (wow) pada puncak libur Nataru 2025 dan 0,6% wow pada minggu berikutnya di level 354,5. 

Penopang kenaikan ini adalah kelompok leisure seperti hotel dan produk kecantikan serta kelompok consumer goods seperti belanja fashion dan aktivitas dining-out. MSI menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dari level 155,8 pada Januari 2024 menjadi 350,7 pada Januari 2026. 

Dominasi konsumsi sebagai penyangga ekonomi Indonesia tercermin pada Produk Domestik Bruto (PDB) 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui rilis terbarunya mengungkapkan pengeluaran konsumsi rumah tangga mencapai Rp12.834,8 triliun dari total PDB sebesar Rp23.821,1 triliun, atau 53,88%. 

Potensi populasi yang besar di Indonesia mendorong kuatnya permintaan domestik hingga mencapai lebih dari dua kali terhadap komponen ekspor barang barang dan jasa yang senilai Rp5.442,3 triliun atau 22,85%. Dapat kita amati, kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah–seperti bantuan sosial, imbauan pemberian THR kepada pengemudi ojek online, subsidi tiket transportasi ataupun program unggulan pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG)--merefleksikan dorongan bagi masyarakat untuk melakukan konsumsi rumah tangga, baik yang bersumber dari kantong pemerintah maupun kantong masyarakat sendiri.

Apakah Ini Merupakan Kebijakan yang Tepat?  

Office of Chief Economist dari Bank Mandiri melalui publikasi MI Gazette pada September 2025 mencatat tren penurunan yang konsisten pada Indeks Tabungan MSI. Dengan acuan indeks pada Januari 2022 yang memiliki nilai 100, maka pada September 2025 indeks ini mencapai nilai 72,8; terendah sejak indeks ini diperkenalkan.

Mandiri Saving Index juga mengobservasi penurunan tabungan baik yang terjadi pada kelompok bawah (memiliki rata-rata tabungan kurang dari Rp1 juta) pada nilai yang serupa (72,6) di Januari 2026 maupun pada kelompok atas (memiliki rata-rata tabungan lebih dari Rp10 juta) dengan nilai 94,1. Hanya kelompok menengah (memiliki rata-rata tabungan Rp1 juta – Rp10 juta) yang menunjukkan tren stabil pada skor 101,1.

Pada data Laporan Survei Konsumen yang rutin dikeluarkan Bank Indonesia (BI), tercatat bahwa selama 2024–2025 perkembangan proporsi pengeluaran responden memiliki tren komponen cicilan pinjaman yang semakin lama mendekat dengan komponen tabungan dengan proporsi komponen konsumsi yang relatif stabil. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa semakin lama responden semakin tidak dapat menyisihkan pendapatannya untuk menabung karena dikonversi untuk pembayaran cicilan.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pada November 2025 angka penyaluran pinjaman online (pinjol) sebagai pinjaman konsumsi yang populer telah mencapai Rp94,85 triliun, meningkat 25,45% secara year-on-year. Yang patut dicermati, risiko kredit bermasalah turut meningkat hampir dua kali lipat sebesar 4,33% pada bulan November 2025 dibandingkan dengan 2,76% pada Oktober 2025.  

Interpretasi Data dengan Relative Income Hypothesis

Dari data-data di atas, dapat diinterpretasikan bahwa konsumsi masyarakat cenderung meningkat secara konsisten (data Mandiri Spending Index) dengan kontribusi lebih dari 50% pada PDB Indonesia (data BPS). Namun di sisi lain, tabungan masyarakat cenderung turun (data Mandiri Saving Index) dengan porsi tabungan terhadap cicilan pinjaman yang semakin mengerucut (data BI dan OJK). 

Pada teori ekonomi klasik oleh Keynes (1936) dikenal absolute income hypothesis di mana kenaikan konsumsi sejalan dengan kenaikan pendapatan sehingga simpanan yang merupakan kelebihan pendapatan seharusnya juga semakin naik. Namun teori ini sulit digunakan untuk menjelaskan fenomena atas data yang disajikan sebelumnya ketika konsumsi yang cenderung meningkat tidak diikuti dengan peningkatan tabungan masyarakat.

Anomali serupa diamati pasca-Perang Dunia II oleh Duesenberry (1949) ketika kenaikan pendapatan Amerika Serikat tidak serta merta menaikkan rasio tabungan masyarakat, yang lalu menelurkan relative income hypothesis dengan memasukkan aspek sosial ke dalam teori ekonomi. Argumen Duesenberry, kenaikan konsumsi seseorang akan dipengaruhi oleh rasio pengeluarannya atas weighted average dari pengeluaran orang lain yang berinteraksi dengan orang tersebut. 

Empat komponen penting relative income hypothesis adalah bahwa: (1) individual lebih khawatir terhadap kesejahteraan yang bersifat relatif (rata-rata terhadap orang lain) daripada kesejahteraannya sendiri yang bersifat absolut; (2) orang miskin menghabiskan pendapatannya secara lebih besar dibandingkan orang kaya untuk mempersempit kesenjangan konsumsi; (3) tingkat pendapatan saat ini baik absolut maupun relatif serta tingkat konsumsi sebelumnya menentukan konsumsi saat ini; dan (4) konsumsi dalam suatu keluarga dipengaruhi oleh pendapatan keluarga tersebut dibandingkan dengan keluarga lain.

Ketika sudah mencapai suatu level konsumsi tertentu, secara internal seorang individu akan enggan untuk menurunkan pola konsumsinya (dikenal juga sebagai ratchet effect) dan secara eksternal akan dipengaruhi oleh pola konsumsi individu atau kelompok lain (dikenal juga sebagai demonstration effect) yang umumnya di atas individu tersebut. 

Teori ini memberi suatu landasan bahwa ketika terjadi krisis, konsumsi tidak akan serta merta turun. Namun demikian juga sebaliknya. Ketika rata-rata pendapatan naik, rasio tabungan masyarakat juga tidak serta merta mengikuti rata-rata kenaikan ini karena akan dipengaruhi pola konsumsi individu/kelompok lainnya.

Bagi masyarakat Indonesia yang memiliki tingkat hubungan sosial yang tinggi, relative income hypothesis sangat terasa relasinya. Masyarakat secara umum meningkatkan konsumsinya yang menandakan bahwa rata-rata pendapatan masyarakat juga naik. 

Kenaikan rata-rata pendapatan ini akan melibatkan masyarakat dari semua kalangan, sehingga akibatnya masyarakat kelompok bawah akan mempertahankan pola konsumsinya baik dengan bersumber dari tabungannya maupun dengan menaikkan pinjaman.

Memaknai Relative Income Hypothesis 

Konteks relasi sosial pada relative income hypothesis dapat menjadi pedang bermata dua bagi masyarakat yang belum dewasa dalam menyikapi kedinamisan kondisi ekonomi. Terlebih dengan era teknologi saat ini yang semakin menghilangkan batas fisik sosial. 

Pada masa lalu, distribusi pendapatan dan konsumsi ditentukan oleh komunitas yang secara fisik ada di sekitar kita. Namun kini, semua orang dari berbagai kelas ekonomi dan sosial dengan leluasa mengamati gaya hidup tertentu yang dipertontonkan oleh artis, penyanyi, influencer, dan lain sebagainya melalui berbagai platform media sosial. 

Gaya hidup yang disokong berbagai sponsor ini akan menyasar target market tertentu untuk melakukan konsumsi. Eksposur konsumsi yang secara terus menerus tanpa kebijakan dalam menyikapinya akan membawa dampak negatif secara luas. Antara lain kesulitan masyarakat untuk membangun budaya menabung, naiknya pinjaman konsumsi tanpa pertimbangan logis terhadap kemampuan untuk membayar, ketidakmampuan masyarakat untuk menghadapi potensi krisis di masa depan hingga kebijakan pemerintah yang menjadi tidak tepat sasaran karena menyasar optik kenaikan ekonomi pada jangka pendek.

Oleh karena itu, penulis sangat menyarankan perlu adanya kesadaran dan tindakan untuk mencermati data-data atas pola konsumsi dan tabungan pada dua tahun terakhir ini. Pertama, bagi individu/masyarakat. Perlu diingat bahwa tolak ukur terhadap orang lain tidak salah tapi jangan jadikan sebagai acuan paling utama apalagi bila tolak ukurnya terhadap suatu image yang dibangun di platform media sosial. 

Ketika terjadi perubahan pada sisi pendapatan, maka sesuaikan pada sisi konsumsi dengan memastikan kekonsistenan dalam menabung. Tetap bijak dalam mengambil pinjaman konsumsi dengan mempertimbangkan kemampuan bayar diri kita sebagai individu.

Kedua, bagi lembaga-lembaga yang melakukan dan memberitakan riset atau survei terhadap konsumsi dan tabungan. Budaya kritis perlu lebih dikembangkan dengan menggunakan riset atau survey tersebut sebagai masukan bagi pemangku kebijakan. Kesimpulan normatif yang bersifat jangka pendek tidak memberi helicopter view atas isu sosial ekonomi yang terjadi di masyarakat.

Ketiga, bagi pemerintah. Kebijakan mendorong konsumsi rumah tangga hanya akan berdampak jangka pendek. Pola konsumsi di level individu dan masyarakat akan membawa pengaruh pada konteks ekonomi nasional. Dalam jangka panjang, fokus pada konsumsi rumah tangga dibandingkan sektor produktif seperti ekspor dan impor akan menyebabkan struktur ekonomi dengan risiko suku bunga dan likuiditas yang tinggi sehingga rentan akan krisis. 

Ketika terjadi krisis, ratchet effect akan menyebabkan konsumsi masyarakat yang tidak melambat namun tidak dapat disokong sepenuhnya oleh pemerintah sehingga menyebabkan lambatnya pemulihan krisis. Di sisi lain, demonstration effect yang ekstrem akan memperlebar gap sosial ekonomi antara si kaya dan si miskin yang apabila disertai kefrustasian terhadap krisis dapat berakibat fatal.

Sebagai penutup, bagian lain dari lirik lagu “Menabung” ini patut disimak. Tidak ada yang salah dengan melakukan konsumsi. Seperti data yang telah disebutkan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini pun disokong oleh konsumsi. 

Namun, baik secara individual maupun kolektif, kita harus menempatkan konsumsi ini pada proporsi yang tepat terhadap pendapatan. Seperti yang diingatkan Geofanny dan Saskia; menabunglah sehingga bisa keliling dunia dan membayar berbagai macam biaya, namun hidup kita tetap beruntung.

Dari kecil kita mulai menabung

Supaya hidup kita beruntung

Mau k'liling dunia ada uangnya

Juga untuk segala macam biaya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
800 Unit Rusun Buat Warga Bantaran Rel Senen dan Tanah Abang Segera Dibangun
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Presiden Korea Selatan Singgung Suplai LNG-Batu Bara, Indonesia Siap Bantu?
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Video 17 Detik Ibu Tiri vs Anak Tiri Versi Baju Tidur Biru Viral, Warganet Ramai-ramai Berburu Link-nya
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Bersifat Imbauan, Penerapan WFH Perusahaan Swasta Ditentukan Sesuai Kebutuhan
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ahli Ungkap Manfaat Makanan Fermentasi untuk Kesehatan
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.