PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) mencatat kinerja positif sepanjang tahun lalu dengan membukukan pertumbuhan pendapatan 43 persen.
IDXChannel - PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT) mencatat kinerja positif sepanjang tahun lalu. Capaian ini menunjukkan kemampuan emiten pengolahan sawit itu dalam mengoptimalkan volume penjualan dan mengelola struktur biaya di tengah fluktuasi harga pasar internasional.
Perseroan berhasil mencatatkan pertumbuhan signifikan, baik dari sisi top line maupun bottom line di tengah dinamika pasar komoditas global. Pendapatan dari kontrak penjualan mencapai Rp13,97 triliun pada 2025, naik 43 persen dibandingkan 2024 yang tercatat Rp9,8 triliun.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bruto CBUT melesat 84,9 persen menjadi Rp1,98 triliun dari sebelumnya Rp1,07 triliun pada 2024. Setelah dikurangi berbagai beban usaha dan pajak, CBUT mengantongi laba tahun berjalan sebesar Rp106,17 miliar, tumbuh 55,7 persen dibandingkan laba tahun sebelumnya yang sebesar Rp68,2 miliar.
Pertumbuhan profitabilitas ini juga berdampak pada laba per saham dasar (EPS) persreroan yang naik menjadi Rp33,98 per saham, dibandingkan Rp21,82 per saham pada periode yang sama tahun lalu.
Komposisi pendapatan menunjukkan pergeseran strategi pasar CBUT. Pendapatan dari pihak berelasi seperti Borneo Agri Resources International Pte., Ltd tercatat sebesar Rp3,8 triliun. Kontribusi ini menurun secara persentase menjadi 27,5 persen dari total penjualan neto, dibandingkan 2024 yang mencapai 65,09 persen.
Sebaliknya, CBUT memperluas penetrasi ke pasar eksternal dengan sisa mayoritas pendapatan berasal dari pelanggan pihak ketiga, yang menunjukkan diversifikasi basis pelanggan yang lebih luas.
Kualitas aset dan posisi keuangan Hingga 31 Desember 2025, total aset perseroan tercatat sebesar Rp4,1 triliun, sedikit terkoreksi 1,96 persen dari posisi akhir 2024 yang sebesar Rp4,2 triliun. Adapun posisi kas dan setara kas meningkat 21,7 persen menjadi Rp284,8 miliar.
Total liabilitas CBUT berhasil ditekan turun menjadi Rp3 triliun, menyusut 6,93 persen dibandingkan saldo 2024 sebesar Rp3,2 triliun. Penurunan ini terutama didorong oleh berkurangnya utang bank jangka pendek.
Total ekuitas perseroan mengalami penguatan sebesar 14,6 persen menjadi Rp1,1 triliun pada akhir 2025, dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar Rp969,29 miliar. Peningkatan ekuitas ini mencerminkan akumulasi laba bersih yang sehat dan penguatan struktur permodalan perusahaan.
(Rahmat Fiansyah)





