Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot 21,34% sejak level tertinggi atau all time high (ATH) di 9.134 pada 20 Januari 2026. Meski pada perdagangan kemarin, Rabu (1/4) IHSG ditutup naik, namun levelnya turun banyak dari rekor tertinggi menjadi 7.184.
Dari sisi kapitalisasi pasar juga turun banyak. Pada saat ATH kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp 16.590 triliun turun menjadi Rp 12.675 triliun. Market cap IHSG sudah menguap hingga Rp 3.915 triliun sejak level ATH.
Tak hanya penurunan nilai, minat investor asing di pasar modal RO juga terkikis. Selama tiga bulan mencatatkan net sell hingga Rp 27,82 triliun sepanjang Januari–Maret 2026.
Anjloknya IHSG didorong oleh tiga faktor berturut–turut dalam waktu kurang dari tiga bulan. Di antaranya pembekuan sementara IHSG dalam 2 hari beruntun usai pengumuman indeks terbaru dari MSCI. Lalu perang AS–Iran yang mengerek harga minyak naik lebih dari 40% akibat penutupan Selat Hormuz dan meningkatnya risiko fiskal Indonesia seiring asumsi APBN terkait harga minyak dan kurs yang terlampaui.
Menakar Bearish IHSGBerdasarkan data Bloomberg sejak 2000, Stockbit Sekuritas menilai penurunan IHSG dari puncak ke titik terendah –23% pada periode saat ini masih sejalan dengan sejumlah episode sebelumnya. Seperti Taper Tantrum 2013 (-24%), China Scare 2015 (-25%), serta selloff Liberation Day 2025 (-25%). Kondisi ini mengindikasikan IHSG berpotensi telah berada atau mendekati fase bottom.
Secara historis, penurunan lebih dalam di atas 24–25% umumnya hanya terjadi saat krisis besar. Seperti Dot-com Bust (-52%), Global Financial Crisis 2008 (-61%), dan Pandemi COVID-19 2020 (-38%).
Adapun pada pembukaan perdagangan pasca-libur Lebaran, Rabu (25/3), IHSG tercatat menguat 2,8%.
“Dan kini diperdagangkan pada valuasi 11,4 kali 1–Year Forward P/E, sekitar -2 Standard Deviation di bawah rata–rata historis 15 tahun,” tulis Stockbit dalam analisisnya, dikutip Kamis (2/4).
Stockbit Sekuritas menyebut level IHSG saat ini menjadi yang terendah sejak Pandemi Covid-19 2020 dan selloff Liberation Day 2025. Meski valuasi pasar saham Indonesia dinilai sudah murah secara historis, investor perlu mengevaluasi kembali portofolionya.
Investor disebut juga perlu menilai potensi dampak terhadap fundamental, khususnya dari kenaikan harga minyak terhadap laba bersih. Sementara itu, bagi investor jangka panjang, koreksi pasar seperti saat ini secara historis kerap menjadi momentum untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas di harga rendah.
Resiko StagflasiDi tengah fluktuasi harga, Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperingatkan pasar saham domestik mulai memasuki fase distribusi seiring meningkatnya risiko stagflasi, meskipun bursa global tengah rebound. Anjloknya IHSG yang diiringi arus keluar dana asing mencerminkan tekanan dari faktor domestik yang kian dominan di tengah ketidakpastian global.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyebut lonjakan harga minyak mentah Brent ke kisaran US$ 118 per barel menjadi salah satu pemicu utama tekanan di pasar.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM subsidi dinilai penting dalam menjaga inflasi dan daya beli masyarakat. Namun ia mengaku langkah itu berpotensi mempersempit ruang fiskal.
“Bias sell-on-strength masih relevan pada saham perbankan besar dan sektor siklikal, sementara peluang relatif lebih menarik pada saham defensif dengan fundamental kuat dan eksposur domestik,” ujar Rully Arya Wisnubroto, Rabu (1/4).
Ia menyebut pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh dinamika arus dana asing dan sentimen global. Fase distribusi yang tengah berlangsung juga mengindikasikan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi hingga ke kisaran 7.005.
“Dengan level support kritikal yang perlu dicermati berada di area 6.892,” ujarnya.
Mirae Asset Sekuritas juga merevisi proyeksi makro ke arah lebih defensif, dengan pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5% dalam dua tahun ke depan. Proyeksi itu seiring lemahnya nilai tukar dan suku bunga yang diperkirakan bertahan di level tinggi.
Rully juga mengatakan koordinasi kebijakan yang belum sepenuhnya sinkron turut meningkatkan sensitivitas pasar terhadap berbagai sentimen.
“Dalam kondisi saat ini, persepsi pasar terhadap konsistensi kebijakan menjadi sangat krusial karena dapat memengaruhi volatilitas dalam jangka pendek,” kata Rully.
Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menyebut pemerintah tengah menyiapkan paket kebijakan untuk meredam volatilitas global.
Di antaranya efisiensi fiskal, pengaturan work from home (WFH), dan penyesuaian kebijakan energi. Langkah itu dinilai akan menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan daya beli masyarakat.
“Kombinasi penghematan anggaran, optimalisasi belanja, dan perbaikan administrasi pajak berpotensi menjaga defisit tetap terkendali bahkan dalam skenario harga minyak tinggi,” kata Jessica.
Proyeksi Inflasi Maret 2026Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan inflasi Maret 2026 sebesar 3,8% secara tahunan (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun risiko kenaikan tetap terbuka seiring faktor musiman dan tekanan harga energi. Kebijakan pemerintah yang menahan harga BBM subsidi dinilai turut menjaga inflasi dan daya beli masyarakat dalam jangka pendek.
Jessica mengatakan probabilitas Indonesia memasuki fase stagflasi saat ini diperkirakan berada di kisaran 5–10% dan masih relatif rendah. Hal itu didukung oleh tekanan inflasi yang cenderung bersifat musiman dan keberlanjutan kebijakan fiskal, termasuk penahanan harga BBM.
“Namun, risiko dapat meningkat jika tensi geopolitik berlanjut dan mendorong harga energi lebih tinggi,” ujar Jessica.
Di pasar keuangan, yield SBN tenor 10 tahun tercatat relatif stabil di kisaran 6,86%, sementara nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp 16.995 per dolar AS, meskipun tekanan eksternal masih tinggi. Kondisi ini memperkuat indikasi bahwa ruang penurunan suku bunga domestik semakin terbatas.
Mirae Asset Sekuritas menilai eskalasi konflik global yang mengganggu pasokan energi, termasuk di Selat Hormuz, berpotensi menjadi guncangan besar bagi ekonomi global sekaligus meningkatkan volatilitas pasar. Indonesia juga dinilai rentan sebab ketergantungan terhadap mitra dagang utama yang turut terdampak dari gejolak konflik timur tengah.



