Dalam seminggu, Nita Sulistyaningsih harus menjalani dua kali cuci darah. Setiap sesi bernilai sekitar Rp1,2 juta. Jika dihitung, biaya pengobatan yang ia butuhkan bisa menembus ratusan juta rupiah dalam hitungan bulan.
Angka itu bukan sekadar perkiraan. Bagi Nita, itu adalah kenyataan yang nyaris tak mungkin ia tanggung sendiri.
"Sudah enam bulan ya cuci darah dan semua dengan jaminan JKN, kalau tidak biayanya besar sekali. Sekali cuci darah sekitar 1,2 juta itu satu kali saja, padahal seminggu dua kali,” ujar Nita dikutip dari rilis, Senin (30/3).
“Kira-kira kalau tidak pakai JKN terus berapa gitu, dikali-kali biayanya terus jadi berapa, bisa ratusan juta. Wah tidak bisa dihitung besarnya. Ibarat kata menjual rumah saja belum tentu cukup," lanjutnya.
Vonis gagal ginjal yang ia terima beberapa waktu lalu langsung mengubah hidupnya. Dari yang sebelumnya hanya rutin mengontrol hipertensi, Nita kini harus bergantung pada mesin cuci darah untuk bertahan.
Ironisnya, penyakit itu datang tanpa gejala yang jelas. Ia hanya merasakan nyeri di pinggang—yang kemudian menjadi awal dari rangkaian pemeriksaan panjang.
Dari hasil tes urin hingga USG, dokter menemukan batu ginjal yang sempat ditangani dengan prosedur laser. Namun kondisi tak kunjung membaik. Kreatinin dalam tubuhnya terus meningkat hingga akhirnya ia harus menjalani hemodialisis secara rutin.
“Saat ada vonis dokter soal gagal ginjal saya juga rasanya langsung drop. Harus menjalani cuci darah rutin karena kreatininnya memang sudah tinggi, delapan saat itu. Ya mau tidak mau harus dijalani,” katanya.
Di tengah kondisi fisik yang menurun dan tekanan mental akibat vonis penyakit, persoalan biaya menjadi kekhawatiran berikutnya. Cuci darah bukan pengobatan sekali jalan, melainkan terapi jangka panjang yang harus dijalani seumur hidup atau hingga mendapat transplantasi.
Di titik inilah Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjadi penopang utama bagi Nita.
Selama enam bulan terakhir, seluruh proses cuci darah yang ia jalani ditanggung penuh. Tanpa itu, ia mengaku tak tahu bagaimana harus melanjutkan pengobatan.
Bukan hanya soal pembiayaan, Nita juga merasakan layanan kesehatan yang menurutnya berjalan baik. Ia mengaku diperlakukan setara dengan pasien lain, tanpa perbedaan, selama menjalani cuci darah di Klinik Hemodialisis Nitipuran.
"Disini pakai JKN dilayani dengan alhamdulilah baik sekali. Selama ini tidak ada tambahan biaya, sama sekali tidak. Semua dokter, perawat pelayanannya bagus dan ramah sudah seperti saudara sendiri. Semua dilayani sama tidak ada perbedaan perlakuan. Alhamdulillah JKN sangat menolong," katanya.
Ia berharap, program seperti JKN dapat terus diperkuat. Sebab bagi pasien seperti dirinya, akses terhadap layanan kesehatan bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga tentang kesempatan untuk tetap melanjutkan hidup.





