Paguyuban lurah, pamong, dan Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK) yang tergabung dalam Nayantaka menggelar kirab hasil bumi untuk mangayubagya 80 taun yuswa dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X atau memperingati ulang tahun ke-80 Sri Sultan, Kamis (2/4).
Hasil bumi yang disebut Gelondong Pangarem-arem dibawa dari total 438 kalurahan yang ada di DIY. Sebanyak 10.000-12.000 orang terlibat dalam kirab tersebut.
Hasil bumi ini beraneka macam, seperti sayur-mayur, durian, ketela, hingga bawang merah.
Kirab digelar dari Titik Nol menuju Pagelaran Keraton Yogyakarta. Hasil bumi kemudian diserahkan kepada Sri Sultan. Selanjutnya, oleh Sri Sultan, hasil bumi tersebut diserahkan kepada wali kota dan bupati untuk dibagikan kepada masyarakat.
Dalam proses ini, secara simbolik, hasil bumi diserahkan oleh lima putri Sri Sultan dan diterima oleh lima bupati dan wali kota.
“Suruh berdiri tiga jam lebih ya ora kuat,” kelakar Sultan usai acara.
Sultan pun berterima kasih kepada masyarakat maupun tamu yang hadir dalam peringatan usianya yang ke-80 tahun.
“Semoga saja juga sama-sama sehat. Yang penting itu,” kata Sultan.
Sultan mengatakan hasil pertanian dari wilayah-wilayah DIY saat ini semakin baik.
“Tapi ini kan saya kembalikan untuk mereka lagi, untuk masyarakat. Makanya saya serahkan secara simbolik kepada Pak bupati dan wali kota dengan harapan mereka bisa dibagi rata agar bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan kalurahan di Bantul membawa beragam hasil bumi unggulan, salah satunya bawang merah.
“Bantul ini pemasok 70 persen bawang merah di DIY, juga sekitar 70 persen daging sapi. Sehingga dari sisi produksi pertanian, dua inilah yang jadi unggulan Bantul,” kata Halim.
Ke depan, potensi-potensi pertanian ini akan terus dikembangkan dan ditingkatkan.
Sementara itu, berbagai kalurahan di Kabupaten Gunungkidul membawa hasil bumi seperti durian dari Nglanggeran, kacang dari Tepus, hingga ketela jumbo dengan berat 20 kilogram.
“Rilis BPS, pertumbuhan ekonomi kami nomor dua setelah Kabupaten Sleman, dengan penyumbang utama dari sektor pertanian. Ini selaras dengan program strategis nasional ketahanan pangan,” kata Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih.
Sektor pertanian menjadi mata pencaharian mayoritas masyarakat Gunungkidul.
“Akan semakin kita dorong kemampuan untuk memiliki lumbung pangan di wilayah itu,” pungkasnya.





